"AYO NYOBLOS..!!!", TNI - Polri Menjamin Keamanan Pelaksanaan Pilpres & Pileg 2019 Hingga ke TPS

Banner iklan disini

Mengenang Tambora Sebagai “Kawah Pengucilan” Bagi Para “Pembangkang”


Bima, Poros NTB.-Bagi para PNS dulunya yang kini disebut ASN, khususnya lingkup daerah Bima, dipindah –tugaskan ke wilayah Kecamatan Tambora sama halnya dengan dikucilkan, disingkirkan, dibuang, dipencilkan, disegregasi, lalu diabaikan, bahkan merasa dipenjara secara halus oleh para pemangku kepentingan.

Dalam persepsi PNS kala itu, mungkin tidak sepenuhnya benar, PNS yang dipindahkan ke Tambora, setara dengan para pembangkang politik yang  dikamp kerja paksakan karena membangkang, membelot, dan berseberangan dengan keinginan atau kepentingan penguasa.

Diperkuat kejadian-kejadian berulang yang menjadi rahasia umum, bahwa penguasa juga jika akan menghukum para pegawainya, maka Tambora sering dijadikan pilihan utama untuk dijadikan sebagai “Kawah Pengucilan” bagi mereka.

Tak heran dulu itu, Pasca Pilkada, merupakan saat-saat yang paling mendebarkan bagi para PNS yang nakal berpetualang dalam politik dan kebetulan memihak yang kalah, lantaran dibenaknya dihantui oleh momok “dipindahkan ke Tambora”.

Tak hanya PNS, masyarakat umum juga menganggap Tambora sebagai pilihan terakhir sebagai tempat untuk mengadu peruntungan. Mereka yang putus asa karena menganggur dan yang bangkrut di tempat asal, biasanya beralih ke Tambora untuk mencoba meraup untung. Ada juga mereka yang kalah bertarung dalam kontestasi tertentu, berpaling ke Tambora karena memendam malu.

Persepsi semacam itu dianggap wajar. Kecamatan Tambora yang didiami gunung berjuluk Pompeii dari Timur yang mengeringkan dapur magmanya Tahun 1815 ini, dulunya memang wilayah terpencil yang sulit dijangkau transportasi. Untuk sampai ke Tambora, dari Kota Bima memakai Bus bisa memakan waktu lebih dari setengah hari melewati medan perjalanan yang cukup berat.

Namun, beberapa tahun terakhir ini persepsi seperti itu tentang Tambora perlahan memudar. Wilayah Tambora kini bukan lagi momok, tapi mulai menjelma menjadi primadona. Terhitung sejak dinobatkan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional April 2015 lalu, ditambah pula Kawasan Tambora resmi didapuk sebagai Geopark Nasional oleh UNESCO 2017 lalu sejak digagas Tahun 2014. Imbasnya bagi geliat perekonomian di wilayah Tambora menjadi sangat luar biasa.

Lalu masih adakah yang masih menganggap Tambora sebagai “Kawah Pengucilan”?

Menyadur laporan wartawan media ini, hasil wawancara beberapa PNS yang dulunya pernah bebulan-bulan memendam dendam karena merasa dibuang ke Tambora, malah mengaku saat ini tidak ingin  ditugaskan diluar Tambora.

“Ngapain (pindah dari Tambora)?,”ujar sumber. “saya sangat merasa nyaman bertugas di Tambora saat ini. Kita mendapatkan berbagai tunjangan yang tidak diberikan kepada mereka yang bertugas di tempat lain. Bagi saya Tambora sekarang seperti taman yang tidak membosankan,” ungkapnya lagi.

Bagusnya lagi, Pemerintah Kabupaten Bima yang dipimpin Dinda-Dahlan pintar memanfaatkan peluang dari dua status besar yang disematkan bagi Gunung Tambora. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Drs. Dahlan, mengaku bahwa sector pariwisata merupakan prioritas utama Pemkab Bima saat ini. Sumber dana dan sumber daya manusia yang  dikerahkan untuk memajukan pariwisata di Bima ini sangat diseriusi.

Dahlan mencontohkan, jika dulu untuk sampai ke Kawinda To’i sekarang hanya memerlukan waktu 2-3 jam lewat jalur lingkar utara Sanggar. “Jadi untuk menikmati tempat pariwisata Air Terjun Bidadari di Kawinda To’I sekarang hanya butuh waktu 2 atau 3 jam dari Kota Bima, Jalanya sudah di-Hotmix kok “ ujar Dahlan.

Untuk Tambora sendiri, dahlan memastikan bukan lagi wilayah terpencil yang biasa dijadikan sebagai tempat “membuang “ orang. Bahkan sekarang banyak orang diluar Tambora yang berlomba-lomba menjadi pelaku usaha di sana. Karena Tambora sekarang merupakan destinasi wisata yang sangat popular dan digemari saat ini.
Hal menarik yang dikatakan Dahlan, bahwa untuk membuat sebuah daerah agar dikenal dunia, maka pariwisata merupakan jawabannya. 

“Pariwisata boleh dibilang sebagai jendela bagi dunia untuk memperkenalkan potensi daerah”, cetusnya.

Selain Tambora, Bima sendiri, kata dia memiliki ratusan spot wisata, yang masih terus dikembangkan dan dipromosikan lewat event-event seperti Festival Sangiang Api. Arus yang deras di perairan sangiang dinilainya sangat menantang bagi para turis untuk berperahu layar.

“Arus air di sana deras, dan itu unik yang tidak akan didapatkan di wilayah perairan lain,” ungkap Dahlan.

Ia kemudian menyebutkan spot wisata lain yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah Pantai Wane. Untuk membuktikan keseriusan, di Woro-Wane telah dibangunkan Hotel berbintang. Dan jarang diketahui umum, turis sering mampir di Wane dengan kapal pesiar mereka.

Isu yang berkembang saat ini pengembangan pariwisata di Kabupaten Bima sering terkendala oleh keamanan yang kurang. Untuk itu Dahlan berharap masyarakat di wilayah destinasi wisata bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjungnya.

“Selain itu masyarakat juga harus jujur,” kata Dahlan.

Karena sering ditemukan kasus, penyedia jasa transportasi secara oportunis mematok harga yang tidak biasa untuk mengantar para turis ke tempat wisata, dan itu membuat turis kapok. “Masa minta turis antar ke wane dengan harga 250 ribu, padahal tarif normalnya berkisar 25 sampai 50 ribu. Jadi harus jujur agar turis tidak kapok,” imbuhnya.

Ke depan Bima ini diharapkan Dahlan tidak hanya dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang akan berwisata ke Pulau Komodo. Tetapi turis bisa mampir beberapa pekan untuk menikmati spot wisata di Bima yang tak kalah menggiurkan. (Aden)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.