Banner iklan disini Banner iklan disini

Guru Honorer Tulang Punggung KBM, Buktinya Tanpa Mereka Sekolah Disegel


Bima, Poros NTB.- Aksi penyegelan sekolah yang dilakukan puluhan siswa SMAN 2 Soromandi, Senin (5/11/18) lalu, yang dipicu proses KBM yang terbengkalai lantaran guru dan Kepala Sekolahnya malas masuk dan mengajar, menjadi sorotan banyak pihak.

Tak mau ayal dengan kasus yang telak menampar dunia pendidikan di wilayah yang yang ditanganinya, keesokan harinya, Selasa (6/11/18), Kepala UPT Layanan Dikmen & PK-PLK Bima, Abas, M.Pd langsung meluncur ke SMAN 2 Soromandi, untuk kembali membuka sekolah yang disegel.

“Mendengar kabar SMAN 2 Soromandi disegel siswa, Pak Kepala (Abas, M.Pd), subuh-subuh meluncur ke Soromandi,” tutur Kasubag TU Dikmen, Drs. H. Ahmad, saat ditemui Jum’at (16/11/18) kemarin.

Abas sendiri, khabarnya, memaklumi aksi yang dilakukan siswa tak lebih sebagai representasi dari tingginya antusiasme belajar siswa setempat. Dan dengan rendah hati meminta maaf  secara resmi kepada masyarakat dan siswa yang dirugikan oleh kealpaan guru dan kepala sekolah.

Akhirnya ruangan yang disegel, seperti ruangan Kepala Sekolah dan ruangan kelas kembali dibuka. Siswa mengancam jika KBM kembali terbengkalai, maka mereka akan kembali melakukan aksi serupa.

Abas berjanji, pihaknya akan berupaya keras agar tidak ada lagi guru yang malas mengajar.

Tanpa menafikan kinerja dan komitmen guru PNS dan kepala sekolahnya yang rendah dalam menjalankan tugasnya. Satu sisi menarik dari kasus tersebut, yakni, betapa sekolah sangat membutuhkan eksistensi dari guru honorer.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kasubag TU, Drs. H. Ahmad, jumlah Guru PNS di SMAN 2 Soromandi, Tujuh orang termasuk Kepala Sekolahnya, Budiono Basuki, S.Pd, yang nota bene tinggal di Kota Bima. Sementara guru honorernya berjumlah belasan orang, beberapa bulan terakhir ini sedang disibukkan dengan CPNS.

“Idealnya 25 guru untuk sekolah (SMAN 2 Soromandi),” ujarnya.

Meski tidak berujung pada aksi penyegelan sekolah, namun bukan rahasia lagi, setiap ada momentum yang menyibukkan guru honorer, banyak sekolah yang meradang karena seretnya proses KBM.

Untuk itu, H. Ahmad, meminta Pihak Pemerintah Provinsi agar betul-betul memperhatikan nasib para guru honorer.

“Jangan pandang sebelah mata guru honorer. Mereka itu tulang punggung KBM. Jadi, maunya kita Pemprov betul-betul memperhatikan nasib mereka,” cetusnya.

Sementara terkait sanksi pembinaan terhadap Kepala SMAN 2 Soromandi, H. Ahmad menolak berkomentar.

“Saya tidak mau melangkahi Bapak Kepala, itu pak Kepala yang tahu,” kilahnya.

Namun setahunya, Pengawas  Pembina sudah ditegasi untuk “mengurus’ Kepala Sekolahnya.


Ironisnya lagi, saat Kepala UPT tiba di SMAN 2 Soromandi untuk mebuka segel sekolah, Pengawas Pembina yang diharapkan menunggu di sana tidak Nampak batang hidungnya. (Teddy)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.