Guru Ngamuk tak Kebagian Nasi Bungkus, Tampar Wajah Dikbudpora





Bima, porosntb.com-Lantaran tidak dapat jatah makan siang, guru asal SMPN 6 Soromandi, Ridwan SPd mengamuk. Dia berorasi melampiaskan kekecewaannya terhadap panitia rapat kerja (Raker) yang digelar Dikbudpora Kabupaten Bima yang berlangsung di Gedung Kurnia Bolo. 

Aksi guru pada rapat yang dinahkodai Plt Dikbudpora sekaligus Sekda Kabupaten Bima itu tentu menampar keras wajah Dikbudpora. Terlebih, reaksi guru tersebut mencerminkan jika dunia pendidikan di Bima sudah tak memiliki marwah lantaran lama diisi pejabat pelaksana tugas. 

Tidak saja mencaci maki, guru yang begitu emosi itu juga sempat mengecam ulah panitia yang dinilai tak becus dalam menyelenggarakan kegiatan. 

"Masa rapat kerja pendidikan level Kabupaten Bima seperti ini tak mampu menyediakan konsumsi sesuai jumlah peserta. Masa kami harus berebutan kayak anak TK baru bisa dapatkan nasi," teriak Ridwan saat menyampaikan keluh kesahnya di saat acara sedang istirahat tersebut. 

Kata dia, tradisi seperti ini jangan dipelihara. Apalagi ini menyangkut dunia pendidikan yang mestinya harus dihilangkan. 

"Saya tujuh tahun merantau di timur tak pernah menjumpai hal seperti ini (Rebutan nasi bungkus). Dan ini sangat memalukan. Masa kita guru dan kepala sekolah harus berebutan untuk bisa mendapatkan nasi," tandasnya.

Mestinya kata dia, mengingat semua unsur pimpinan Dinas Dikbudpora ikut dalam rapat, pihak panitia harus hitung matang-matang segala sesuatunya.  

"Bukan saja saya. Masih banyak Kasek lain yang tidak kebagian nasi kotak. Hanya saja mereka nggak berani ngomong," tutur dia.

Selaku dewan pendidikan asal Soromandi, dia siap mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan. Karena tradisi seperti ini harus hilang dari permukaan.
"Kalau ada yang keberatan atas pernyataan saya, silakan ketemu dengan saya," tantang dia.

Ketua Panitia Rapat Pendidikan Daerah Kabupaten Bima, Ico Rahmawati, SPd MPd yang dikonfirmasi saat itu juga mengatakan, jumlah peserta rapat sesuai undangan yakni sebanyak 600 orang. Yakni khusus seluruh kepala sekolah mulai jenjang SD dan SMP. Namun realita yang hadir saat itu melebihi jumlah undangan.

"Peserta yang hadir sangat banyak. Sehingga persedian konsumsi tidak memenuhi," ujarnya.
Lanjut dia, terkait anggaran konsumsi sumbernya dari patungan semua Kasi yang ada di Dinas Dikbudpora, bukan dikumpul melalui Kasek dan lainnya. Bahkan dari banyaknya peserta yang hadir. 

"Kita upayakan semua tercukupi dan  dapat bagian. Hanya saja oknum guru tersebut tak sabaran," tuturnya.

Terkait ada oknum guru yang ngamuk karena tidak kebagian makan, dia tidak membantah kejadian itu. 

"Ya memang ada orang yang ngamuk gara -gara tidak dapat nasi kotak. Tapi kita tidak mengenalnya, apakah dia dewan guru, kasek atau siapa. Bahkan kita menduga orang itu sengaja membuat gaduh saja," ungkap dia.

Sementara Plt Kadis Dikbudpora Kabupaten Bima, Drs H Taufik HAK MSi mengaku kesal dengan ulah oknum tersebut. Pasca kejadian tersebut pihaknya langsung memanggil dan memberi teguran keras pada oknum yang bersangkutan.
"Saya langsung panggil oknum tersebut. Sekaligus membina di hadapan umum," tegasnya.

"Saya tidak mengenal oknum guru tersebut. Apalagi harus menunjukkan sikap seperti itu," pungkasnya. (Poros-07)

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.