Kapankah Kita Bisa Mengenyam Patut?


Banyak pembual bergantian datang mengetuk hati
Gelisah mencari kerabat
Dan lama bertanya-tanya
Sampai tersesat ke ujung kampung
Di depan kerumunan batu nisan
Karena nama yang dituju
Kadang telah lama mati

Dari timur ke barat
Bersahaja menekur debu
Kerikilpun disapa “saudara”
Kepada semak-semak
“Rumahku Adalah Rumahmu”

Untunglah dari Gunung Parewa
Angin masih bertahan tanpa suara
“Kapan-kapan kita akan membuat perhitungan,”
Dalam bilik hatinya menggunyam tetabuhan serapah

Berpeluh merangkul sahabat,
Hingga tersedak oleh kentalnya kopi hitam
Terburu-buru,
Dari atas kursi menjabar peta
Hanya ada lintang dan bujur
Titik kiblat tertutup bungkusan rokok

Dan dalil terlunta di bubungan oleh kepulan asap
Kaum kerabat dan para sahabat,
Sudah berbuku-buku
Janji yang ditinggalkan di setiap dapur

Padahal semuanya hanya singgah
Menjilat daun pintu
Meminang hak pilih semusim sekali
Apatah lagi, hanya berbekal
Mahar retorika dan ikatan rupiah
Kelak, salam khusyu’
Dan jabat hangat di ruang tamu
akan terlerai pupus di gerbang istana

Tapi kapankah ….?
Kita bisa mengenyam patut
Jika yang menilai layak
Banyak yang tidak pantas

(Aden)

---------------- Catatan kaki --------------------

Hematku, hanya Ada 3 tipe manusia yang memasuki bikik TPS.

Tipe pertama, mereka memilih dengan acuan kualitas. Kedua, mereka yang memilih karena kuantitas, dan ketiga mereka yang memilih karena perasaan.

Tipe pertama, sejatinya memilih menjadi raja, tipe kedua memilih menjadi budak, sementara yang ketiga memilih menjadi korban.


Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.