Maja Labo Dahu Dari Suku Bima Untuk Seluruh Manusia



Oleh: M. Shoalihin (Magang)


Suku Mbojo atau Bima merupakan satu dari 1.340 suku yang ada di Indonesia. Tentunya setiap suku memiliki falsafah hidup tersendiri dalam menjalani roda kehidupan. Tidak terkecuali manusia dari pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat ini.

Bima merupakan daerah dengan corak Islam yang kental seperti Aceh, namun tidak dengan hukum yang diterapkan negeri serambi Mekah tersebut. Saat bertemu dengan Soekarno pada 22 Nopember 1945 Raja Bima Sultan Muhammad Salahuddin bersedia bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus melepaskan Syariat Islam sebagai hukum lokal dan ikut pada aturan hukum nasional.

Satu hal yang menjadi identitas yang melekat pada manusia Bima yaitu falsafah hidupnya serta orientasi universalisasi falsafahnya yang akan mudah diterima bagi seluruh umat manusia. Falsafah itu adalah “Maja Labo Dahu” berarti malu dan takut, yang berorientasi pada perdamaian dan kemanusiaan.

Manusia Bima menebarkan nilai kebaikan dan kemanusiaan melalui falsafah hidupnya. Ini merupakan cara manusia Bima merealitaskan konsep ideologi atau falsafah yang telah ditanamkan sejak manusia Bima hadir di muka bumi ini.

Secara historis Falsafah Maja Labo Dahu merupakan hasil pergulatan panjang dari realitas kehidupan sosial, politik dan agama masyarakat Bima pada masa silam. Seperti ketimpangan yang terjadi dimasyarakat karena banyaknya perbedaan pandangan maupun kepentingan. Sehingga hadirlah sebuh falsafah Maja Labo Dahu sebagai falsafah hidup perdamaian.

Kata “Maja” yang artinya malu (harga diri) ditanam dalam diri ketika manusia bima melakukan sesuatu yang dianggap merugikan manusia lainnya dalam kehidupan, artinya mencegah sikap buruk melalui “Maja” atau malu terhadap manusia lainnya, malu berbuat buruk .

Rasa malu telah ditanamkan secara turun temurun oleh Nenek Moyang suku Bima sejak manusia Bima hadir di muka bumi ini. Sebab rasa malu tidak hadir begitu saja dalam pribadi manusia tanpa di bangun dengan kesadaran, dipraktikkan dan dirawat menuju manusia yang manusia.

Setelah “Maja” atau malu kemudian ada “Dahu” atau takut, rasa “Dahu” atau takut tidak digunakan dalam peperangan atau keberanian dalam mempertahankan diri ketika menghadapi musuh yang dapat mengancam nyawa. Dahu atau takut ditanam dalam diri manusia sebagai pengendali diri dalam tindakan yang amoral seperti melanggar hukum Tuhan atau norma yang telah mengatur kehidupan bermasyarakat. Takut ketika berbuat buruk dan berani berbuat baik.

Secara universal budaya Maja Labo Dahu ini selaras dengan kehidupan umat manusia yaitu berupaya untuk menciptakan perdamaian di dunia dengan malu dan takut melanggar aturan, hukum, kejahatan kemanusiaan dan hal buruk yang dapat merusak tatanan sosial masyarakat. Tidak memaksakan kehendak sendiri kepada manusia lainnya serta menjunjung tinggi budaya menghargai dan memanusiakan.

Dalam agama Islam maupun agama lainnya terdapat tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan manusia begitu juga ideologi manusia yang ada diberbagai belahan dunia. Seperti Pancasila semisalnya yang mengkomplekskan sebuah cita-cita bangsa Indonesia dalam lima alineanya begitupun suku Bima yang menanam nilai dasar dalam sebuah falsafah Maja Labo Dahu ini sebagai acuan bersikap sehingga cita-cita kemanusiaan bisa diwujudkan.

Secara mendasar seluruh umat manusia membutuhkan sebuah acuan untuk bersikap yang kemudian akan digunakan dalam kehidupannya. Tanpa adanya acuan sikap manusia akan berbuat sesuatu semaunya saja tanpa memikirkan manusia lainnya.

Bayangkan saja pada masa lampau disebuah masyarakat yang hidup berdampingan tanpa adanya sebuah acuan sikap apalagi masyarakat belum mengenal hukum seperti hukum positif. Kekacauan akan terjadi dimana-mana, penindasan akan terus terjadi.

Ini merupakan sebuah bentuk kemodernan konsep kehidupan manusia Bima pada masa silam yang bahkan jauh sebelum ideologi Pancasila dicetuskan oleh Bung Karno dan kawan-kawan. Secara historis sangat menarik kita telusuri bagaimana bisa sikap modern seperti ini bisa jauh hadir dan bertahan pada masyarakat kuno di sebuah kerajaan kecil di pulau Sumbawa ini.

Jika dibandingkan secara ilmu pengetahuan dan temuan-temuan tehnologi modern manusia saat ini bisa dikatakan jauh berkembang dibanding ratusan tahun silam. Ini menunjukkan secara falsafah manusia Bima dimasa lampau lebih modern dari pada sebagian dari kita hari ini yang tidak merawat budaya malu dan takut dalam diri kita.

Begitu pula perilaku kita sejauh ini yang makin menghilangkan misi perdamaian, misi kemanusiaan, misi menghargai sesama. Buktinya peperangan dimana-mana, pembantaian, perpecahan karena beda ideologi dan lainnya. Bukankan itu bentuk kekunoan?

Oleh sebab itu, jika secara ilmu pengetahuan kita mampu menerima dan menerapkan falsafah hidup seperti manusia Bima atau terkhususnya falsafah hidup dari suku kita masing-masing.
Lalu kapan kita akan menanamkan sisi kemanusiaan dalam kehidupan sehingga peradaban manusia akan tetap berjalan damai.

Kemodernan ideologi atau falsafah lokal kita bahkan mengalahkan ideologi-ideologi lainnya dari negeri barat sana, misalnya sosialisme, liberalisme, komunisme dan ideologi lainnya. Yang ketika kita praktikkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, hukum dan politik sekalipun akan tetap relevan. Sebab “Maja Labo Dahu” atau malu dan takut tertanam dalam diri manusia secara alamiah karena manusia itu sadar akan tujuan hidup bersama

Maja Labo Dahu ada bukan seharusnya ada dan ada bukan belum ada untuk seluruh manusia.(*)

Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.