MEMBANGUN MIMPI ANAK INDONESIA MELALUI LEMBAR-LEMBAR PELANGI



Oleh:

Dzul Asfi Waraihan 

(Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

“Ada sebuah panggilan di dalam hati untuk memulai melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak Indonesia... Dan aku yakin, itu semua bisa dilakukan kalau anak-anak memiliki akses yang sama terhadap ilmu pengetahuan… akses yang sama terhadap buku”. (Tanzil, 2016: 22)

Cuplikan kutipan di atas merupakan ungkapan dari tokoh utama dalam novel Lembar-Lembar Pelangi Karya Nila Tanzil. Novel ini merupakan sebuah novel penginspirasi dan pembangun jiwa yang dapat memukau para pembaca sehingga dijadikan sebagai teladan. Para pembaca novel ini dapat meningkatkan kesadaran diri untuk ikut membangun pendidikan di Indonesia dan dapat menumbuhkan rasa cintanya terhadap anak-anak serta dapat memotivasi pembaca agar tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Novel Lembar-lembar Pelangi ini bertema tentang pendidikan yang bercerita tentang kisah perjalanan hidup penulis yang berdedikasi tinggi ingin membangun mimpi anak-anak Indonesia terutama yang berada daerah pelosok. Terbatasnya infrastruktur pada masyarakat dalam novel tersebut terutama di bidang pendidikan seperti kurangnya akses buku bacaan, tingginya jumlah anak yang buta aksara, menurunnya minat baca pada anak, terbatasnya jumlah tenaga pendidik, meningkatnya anak yang putus sekolah, serta sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai. Hal tersebut membuat Nila berinisiatif ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk membantu pendidikan anak di pelosok Indonesia Timur.
Di era industri 4.0 yang serba berkemajuan seperti saat ini, pendidikan merupakan suatu hal yang dianggap sangat penting karena dapat dijadikan sebagai tonggak kemajuan bangsa. Lahirnya generasi penerus bangsa yang berkualitas juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan yang maju. Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang masih memiliki masalah besar dalam dunia pendidikan. Negara kita mempunyai tujuan bernegara yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang seharusnya tujuan tersebut dapat dijadikan sebagai sumbu perkembangan pembangunan kesejahteraan dan kebudayaan bangsa. Kenyataan yang dirasakan saat ini adalah negara kita masih mengalami ketertinggalan di dalam mutu pendidikan yang cukup jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. Banyak faktor dan masalah yang menyebabkan pendidikan di Indonesia tidak bisa berkembang, diantaranya ialah mahalnya biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang kurang memadai, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, meningkatnya jumlah anak yang putus sekolah, kurang profesionalnya tenaga pendidik dan masih banyak lagi. 
Adapun novel yang mengungkapkan tentang permasalahan pendidikan adalah novel Lembar-Lembar Pelangi karya Nila Tanzil. Nila Tanzil adalah pendiri Taman Bacaan Pelangi, sebuah organisasi nirbala yang fokus pada mempromosikan literasi di daerah terpencil di Indonesia bagian Timur. Melalui pengalamannya itu, ia lalu menulis kisahnya ke dalam sebuah novel. Hal yang menarik dari novel ini adalah banyak menguak terkait rendahnya mutu pendidikan di Indonesia khususnya yang terjadi di daerah-daerah pelosok Indonesia bagian Timur yang menyebabkan banyak anak menjadi haus akan ilmu, hingga akhirnya terjadi peningkatan jumlah anak yang putus sekolah. Anak-anak di daerah pelosok lebih memilih bekerja membantu orang tua daripada bersekolah. Faktor penyebabnya tiada lain adalah karena kondisi ekonomi yang rendah dan tidak sepadan dengan biaya pendidikan di Indonesia yang cukup tinggi. Faktor lain juga disebabkan oleh kurangnya rasa sadar masyarakat di daerah pelosok akan pentingnya mengeyam pendidikan. Hal tersebut tentu akan menghambat cita-cita anak dalam menggapai mimpi-mimpinya. 
Dengan melihat kondisi seperti ini, ada beberapa orang atau komunitas yang peduli dengan pendidikan anak di daerah pelosok. Salah satunya yaitu Nila yang merupakan salah seorang yang sangat prihatin dengan kondisi pendidikan anak-anak di Indonesia. Nila rela berkorban banyak hal termasuk meninggalkan pekerjaannya demi ingin berdedikasi membantu pendidikan anak dengan mendonasikan banyak buku bacaan. Setiap hari ia selalu merangkul anak-anak untuk membaca buku supaya dapat menumbuhkan minat baca pada anak. Saat sedang berinteraksi dengan masyarakat lokal, ia sering melihat anak-anak kecil yang berlalu-lalang menyusuri sungai untuk pergi ke sekolah dengan jarak yang ditempuh hingga berjam-jam lamanya. Dengan hanya bermodalkan alat tulis seadanya dan tak jarang mereka harus mendaki gunung tanpa menggunakan alas kaki untuk pergi ke sekolah. Hal ini mengetuk hati seorang Nila untuk dapat berbuat sesuatu agar bisa mengedukasi anak-anak tersebut. Tiba-tiba terbesit untuk membantu pendidikan anak-anak di daerah tersebut dengan menyediakan buku dan membangun taman bacaan. 
Alasan lain mengapa tokoh Nila tergerak hatinya untuk mendirikan taman bacaaN untuk anak-anak adalah karena ia ingat akan masa kecilnya yang memiliki hobi membaca dan selalu menghabiskan waktunya untuk membaca. Kemudian cuplikan-cuplikan dimasa lalunya tersebut muncul ketika tokoh Nila melihat anak-anak di desa-desa kecil di Flores berlarian ke sana kemari tanpa alas kaki dan tak memiliki akses buku seperti yang ia miliki saat kecil. Berikut kutipan yang menggambarkan bentuk dedikasi tokoh Nila.

“Inilah hari yang ditunggu-tunggu. Dengan mobil sewaan, aku berangkat ke kampung Roe dengan membawa buku-buku hasil belanja di Jakarta.” (Tanzil, 2016: 31)

Nila tetap terus berusaha untuk menumbuhkan minat baca anak-anak tesebut dengan terus mengajak anak membaca dan memberikan kesadaran pada anak tentang pentingnya membaca. Tak jarang, Nila selalu memberikan hadiah kepada anak apabila anak berhasil membaca satu buku dalam sehari. Hal tersebut ia lakukan agar semangat anak membaca semakin tinggi. Membimbing anak dengan cara memperkenalkan dan mendekatkannya kepada buku akan mengubah kebiasaan anak menjadi lebih bermanfaat dan menambah wawasannya, serta merupakan satu langkah kecil yang akan memajukan sistem pendidikan. Setelah tokoh Nila dalam novel Lembar-Lembar Pelangi mendirikan taman bacaan untuk anak, ia berharap akan mengalihkan kegiatan anak-anak yang semula hanya menghabiskan waktu untuk bermain, menjadi sibuk membaca dan belajar di taman bacaan yang ia dirikan. Semua itu, Nila lakukan karena ia ingin memajukan pendidikan anak-anak di daerah terpencil tersebut, agar anak-anak memiliki akses buku bacaan yang sama seperti yang dimiliki anak-anak pada kota besar. Bentuk dedikasi tokoh Nila terhadap usahanya membangun mimpi anak tersebut ialah dengan langkah nyata, yaitu dengan mengenalkan buku dan membangun taman bacaan. Alangkah indahnya ketika kita bisa berbagi dan peduli pada pendidikan anak di daerah pelosok seperti yang dilakukan oleh Nila walaupun diawali dengan langkah kecil.
Dari berbagai permasalahan pendidikan yang tampak gersang seperti saat ini, adapun refleksi yang dapat dilakukan yaitu dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Lagi-lagi perlu kita menyentil pemerintah untuk lebih peka terhadap kondisi pendidikan di setiap daerah khususnya daerah terpencil dengan mengambil langkah bijak untuk memperbaiki kualitas pendidikannya. Tidak hanya pemerintah, kita sebagai masyarakat juga perlu menanamkan rasa sadar dan peduli terhadap pendidikan dengan sama-sama bahu-membahu meningkatkan pendidikan menjadi lebih maju. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan akan melahirkan generasi penerus yang bermutu dan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional. Dalam hal ini, novel Lembar-Lembar Pelangi ini layak dijadikan sebagai wahana belajar atau media pembelajaran, karena memiliki nilai-nilai edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran setiap individu untuk tulus berbagi demi kesejahteraan bersama.(*)
 

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.