Nasib Partai Berkarya Kabupaten Bima,"Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula"

Bukti transfer pengembalian dana yang ditunjukkan oleh Ketua DPD Partai Berkarya Kabupaten Bima, Abdul Rauf H. Ibrahim, S.Sos
Bima, Poros NTB.- Pemilu serentak 2019, khususnya legislatif telah usai dilangsungkan. Senarai perolehan kursi Dewan tiap Parpol telah resmi dirilis KPU sebagai penyelenggara pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Tak urung, Parpol peserta Pemilu melakukan evaluasi dengan merujuk hasil rilis KPU. Salah satunya Partai Berkarya.

Hasilnya, Partai besutan Keluarga Cendana ini terpuruk dalam kontestasi Pemilu tahun ini. Terbukti, seperti dilansir Republika, Partai Berkarya menjadi salah satu dari 7 Parpol yang tidak lolos ke senayan, dengan persentase suara nasional yang hanya mampu meraup 2.929.495 suara atau 2,09 %, dari total 139.971.260 suara sah pemilih.

Di Kabupaten sendiri, Partai Berkarya diketahui tidak mampu mengirimkan satupun wakilnya dari tiap Dapil. Undukan kekecewaan para caleg yang menunggangi partai nomor tujuh inipun mulai disuarakan.

Kurang gesitnya pengurus partai di lapangan, dituding menjadi salah satu factor utama yang menyebabkan terkaparnya partai ini di arena Pemilu.

Belum lagi, dikatakan, tidak adanya transparansi Pengurus partai, yang nota bene unsure pimpinan DPD didaulati oleh satu keluarga.

Maka tak heran, Beberapa caleg yang gesit membesarkan nama partai hingga berjuang untuk meraih suara keterwakilan di masing-masing Dapil, berakhir kecewa.

Hal krusial lain, para kader, pengurus DPC maupun kader-kader partai yang menjadi caleg mempertanyakan suntikan dana dari DPP. Karena sampai saat ini, Ketua DPD Kabupaten Bima maupun beberapa unsur pimpinan dari sanak keluarganya, terkesan menghindar dan membungkam.

Bukti adanya dana partai yang disuntik oleh DPP yakni terjadi sebelum Hari H Pemilu Legislatif pada 17 April 2019. Dana ditaksir ratusan juta itu diterima oleh Ketua DPD Partai Berkarya Kabupaten Bima melalui Pengurus DPW Provinsi NTB.

Seperti diakui Sekjen DPD Partai Berkarya, Adinul, uang yang ditaksir Rp500 juta itu sempat ia jaga di mobil pimpinan partai. "Saat itu saya bersama beliau di kantor KPUD Bima. Uang itu disimpan dibelakang mobil pak ketua," kata Adi belum lama ini, di Mapolsek Bolo.

Sementara itu, Suryadin salah satu caleg dari Partai Berkarya Dapil II (Bolo-Madapangga), mengaku sempat menanyakan dana partai tersebut. Bahkan dirinya sempat membahas dana suntikan dari pusat itu dengan salah satu caleg Dapil NTB 6 Partai Berkarya, Abdul Sarif, sebagai pemegang dana.

Dana itu, diduga Suryadin, dipakai ke Mataram untuk kepentingan politik. "Saat itu saya tidak ikut berangkat karena keadaan tak menentu. Namun turut bersama beliau yakni Ketua DPC Woha bang Ipul (nama panggilannya) dan Muh Nur Dirham," ungkapnya.

Di Mataram pula, Ketua DPC Partai Berkarya Kecamatan Woha sendiri sempat melakukan klarifikasi dengan pihak DPW. "Memang uang itu sudah kita serahkan ke pimpinan DPD Kabupaten Bima," kutip Ipul dari hasil konsultasi mereka dengan pihak DPW.

"Intinya kami dari seluruh Pengurus DPC Partai Berkarya meminta Ketua DPD Partai Berkarya untuk memberikan klarifikasi dan menjelaskan suntikan dana partai itu. Kita sudah tahu, dan dana itu digunakan kemana," tukas Ipul.

Di tempat terpisah, Ketua DPD Partai Berkarya Kabupaten Bima, Abdul Rauf H Ibrahim S.Sos ditemui di kediamannya, Rabu (19/06/19), membantah hal tersebut. Dia tidak menafikan menerima dana tersebut.

“Tapi bukan dana dari Cendana. Itu saya terima dari Ketua DPW Propinsi Partai Karya. Dana tersebut telah dikembalikan kepada ketua DPW,” tuturnya sembari menunjukkan bukti transfer pengembaliannya, dimana tertera angka Rp200 juta.

“Hanya 200 juta, bukan seperti yang disebutkan (Rp.500 juta)," Pungkas Rauf.


Jadinya, nasib Partai Berkarya Kabupaten Bima seperti kata pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”, sudah tidak mendapatkan jatah kursi, kini dirundung masalah transparansi dana partai. (Poros08)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.