Pilot Project, STKIP Tamsis Padukan Zero Waste dan Ketahanan Pangan


Ketua STKIP Tamsis Bima Dr Ibnu Khaldun Sudirman MSi (Baju putih) saat melihat kreasi dari botol bekas menjadi sebuah kolam di taman go green kampus setempat



Bima, Porosntb.com-Sebagai lingkungan akademisi, sudah menjadi keharusan untuk mengembangkan cara dan metode untuk peradaban yang lebih baik. Tak ketinggalan, STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima juga fokus dan serius untuk melaksanakan misi kesadaran lingkungan dan ketahanan pangan. 

Membaca kondisi yang terjadi di NTB, Ketua STKIP Tamsis Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., menegaskan tentang musuh utama 5 tahun ke depan.

"Lima tahun lagi, musuh utama adalah sampah dan kekeringan. Kita bisa lihat peningkatan yang sangat drastis untuk penggunaan air kemasan dan makan cepat saji. Kemudian, perambahan hutan yang sangat masif demi hasil tahunan juga terus bertambah," jelasnya pada media ini di taman Go Green STKIP Tamsis Bima, Sabtu (19/10/2019).

Melihat keadaan tersebut, pihaknya menggelar sebuah pilot project yang memadukan antara program Zero Waste dan ketahanan pangan. Program paduan tersebut akan terus dikembangkan sampai pada hasil yang memuaskan. 

"Ini program percobaan dengan memadukan pemanfaatan sampah botol plastik untuk konsep bertanam Hydroponic dan kolam ikan atau lele. Namanya adalah aquaculture. Jadi, fokus kami adalah melakukan pemanfaatan sampah sebagai gaya bertani terbarukan," tutur pria yang akrab disapa doktor Ibnu ini.

Jika program percobaan tersebut telah dinyatakan sukses, pihaknya akan menggelar pengabdian pada desa binaan. Kriteria desa binaan, merupakan daerah krisis air dan keadaan masyarakat yang sebagian besar berada pada ekonomi rendah. Tujuannya, agar dapat terus dibumikan tentang pola hidup sadar lingkungan dengan memanfaatkan sampah untuk peningkatan perekonomian. 

"Sampah itu, jika hanya dipandang sebagai sampah, ya selamanya hanya akan mengotori. Langkah awal yang harus dilakukan yaitu memandang sampah sebagai sesuatu yang berguna. Dengan begitu, kita tinggal mencari cara pemafataannya," papar doktor jebolan UI ini.

Selain konsep utama, aquaculture, pihaknya juga tengah mengembangkan hydroponic sistem sumbu dan drip. Masih dalam tahap perencanaan untuk pola sistem penyiraman satu titik. Semua jenis cara bertani terbarukan tersebut merupakan bagaian dari upaya untuk project ketahanan pangan untuk memerangi krisis air dan kekeringan. 

"5 tahun lagi, NTB akan berperang dengan sampah dan kekeringan. Tentu saja, hasil akhirnya adalah kemerosotan perekonomian masyarakat. Makanya, kami terus mempersiapkan amunisi untuk pertempuran 5 tahun lagi," terang Ketua STKIP Tamsis Bima ini.

Ditambahkan Ibnu, pola hidup bebas sampah sedang digalakkan pihaknya di lingkungan kampus. Dosen dianjurkan untuk membuat strategi dan teknologi pembelajaran yang minim menggunakan kertas. Selain itu, tenaga pengajar juga diharapkan untuk membawa bekal minum dan makan siang dari rumah. 

"Jangan sampai, dosen kami itu membawa calon sampah dari rumah untuk dijadikan sampah di dalam kampus. Jadi imbasnya nanti, iklim sadar lingkungan akan terbentuk di lingkungan kampus," tandas mantan tenaga ahli DPR RI ini.

Seperti yang diketahui, lingkungan pendidikan dengan julukan Kampus Merah itu tengah mengenjot program sadar literasi, sadar lingkungan dan kewirausahaan. Melalui program PPL-KKN Terpadu tahun 2019, program tersebut dibumikan ke21 titik posko. Beragam kegiatan yang berkaitan dengan kesadaran lingkungan juga dikembangkan, diantaranya adalah pemanfaatan botol dan plastik bekas untuk media tanam dan beragam kerajian, penghijauan, pembuatan tong sampah berkarakter dan Baksos di daerah wisata. (Poros07)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.