Harga Anjlok,Petani Garam Meradang

Kepala Desa Sanolo Kecamatan Bolo, Mahfud Hasan
 Bima,PorosNTB.com-Harga garam saat ini terjun bebas hingga Rp 2000 per kilogram. Kondisi ini tentu membuat paa petani garam di Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima meradang.

Kades Sanolo Kecamatan Bolo Mahfud Hasan yang juga adalah petani garam mengungkapkan jika sebagian besar warganya merupakan petani garam. Dimana warga yang memiliki lahan sebanyak 568 saat ini merasakan kegelisahan atas turunnya harga garam.


"80 persen warga disini berprofesi sebagai petani garam. Baik yang memiliki lahan maupun pemegang lelang," ujarnya.

Dengan harga garam yang turun sampai 22.000-22.500 perkarung pada tahun 2018-2019 ini akan berdampak buruk bagi para petani garam. Hal ini berbeda dengan tahun 2016-2017 lalu, dimana harga garam tembus hingga Rp Ratusan ribu Perkarung.

Selain sebagai Kades dirinya telah lama menjadi petani garam bahkan sudah puluhan tahun. Berdasarkan pengalamannya selama ini harga seperti ini akan berpengaruh buruk bagi petani garam, mengingat biaya produksi tidak sesuai dengan hasil yang dicapai.

"Hal seperti ini bukan saja dikeluhkan oleh petani garam yang ada di Bolo, bahkan para petani garam di Bima mengeluhkan hal ini," katanya.

Dirinya berharap kepada pemerintah daerah agar memperhatikan nasib petani garam. Regulasi pengawasan pemerintah daerah kaitan dengan produksi, penyediaan stock hingga soal harga harus diperhatiakan.

"Dengan begitu, nasib para petani garam bisa maju dan sukses," ujarnya.

Di tempat terpisah Kepala Desa Darussalam, Abdurrahman mengungkapkan bahwa persoalan harga garam di petani saat ini masih belum stabil. Hal itu dikarenakan adanya dugaan permainan harga yang dilakukan oleh oknum-oknum tengkulak. Sehingga tak heran banyak petani setempat masih menampung garam di pugarnya masing-masing.

"Harga garam saat ini masih berfariasi. Yakni sekitar  Rp 22 ribu per karung," ujar Abdurrahman saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/3).

Terkait belum stabilnya harga tersebut, pihaknya meminta agar Pemerintah melalui Perusahaan Daerah dapat memperjuangkan nasib petani setempat. Apalagi di desa ini sebagian besar warga adalah petani garam. Yakni lahan yang digunakan warga setempat sekitar 40 hektare.

"Semoga PD Wawo bisa turun dan bersosialisasi langsung pada warga. Dalam membahas kepastian harga garam tersebut," pungkasnya.(Poros08)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.