Agustus 2018

Sekretaris Dikbudpora Kabupaten Bima Drs H Lukman MSi


Bima, porosntb.com-Dinas Pendidikan Kabupaten Bima menunjukkan kepedulian terhadap para korban gempa di Lombok. Sejumlah sekolah di bawah naungan Dikbudpora ini menggalang dana kepada siswa dan guru.

Aksi solidaritas ini berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 100 juta serta beberapa barang kebutuhan masyarakat seperti beras, tenda, selimut dan lain-lain. Bantuan tersebut langsung diserahkan sekolah ke kantor dinas setempat. 

“Sejumlah sekolah sudah menyerahkan bantuan. Uang yang sudah ada sebanyak Rp 100 juta. Ada yang ditransfer ke rekening dinas, ada juga yang bawa langsung ke kantor. Sementara beras dan lain-lain sudah standby di kantor," ungkap Sekretaris Dikbudpora Drs H Lukman MSi.

Dikatakan, bantuan tersebut akan diberikan langsung kepada korban gempa khususnya para guru dan pelajar yang terdampak gempa. Selain, itu, pihaknya sudah membuka dapur umum untuk membantu para korban di Lombok Utara.

"Bantuan segera kita bawa ke Lombok Utara bersama bupati. Khususnya, kita akan berikan kepada dunia pendidikan di sana," terang pria enerjik ini. 

Menurutnya, bantuan sudah terkumpul di kantor dinas setempat. Tinggal menunggu perintah untuk dibawa ke lokasi. 

“Bantuan ini atas dasar rasa solidaritas dunia pendidikan di Bima. Meski tidak seberapa, namun diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tanggap darurat para korban,” pungkas H Luken. (Poros-07)


Bima, porosntb.com-Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Bima Berhasil menyelamatkan sumber daya ikan berupa Lobster Undersize berjumlah 36 ekor. Lobster yang juga sedang bertelur ini dilepas di Pantai Kalaki Senin (27/8) kemarin. Pelepasan sesuai dengan PERMEN KP 56 TAHUN 2016 tentang Pelepasliaran Lobster. 

Kepala Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Bima, Ridwan, SSt Pi mengatakan, pihaknya komit menjaga keberlangsungan ikan. 

‘’Kami berkomitmen untuk memastikan keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan melalui tindakan tegas terhadap pelanggaran penangkapan dan peredaran komoditas ikan yang tidak sesuai dengan aturan," ujarnya saat melepas Lobster Undersize.

Pelepasan Lobster tersebut Hasil Penegahan BKIPM Bima. Modus yang digunakan adalah dengan meletakkannya di bagian bawah dari Loabster yang sesuai aturan.

“Kami harapkan hal ini menjadi pelajaran buat seluruh stakeholder. Khususnya pengusaha perikanan untuk mematuhi aturan yang ada," kata Ridwan. 

Diakui, upaya tersebut terus dilakukan untuk kebaikan dan jangka panjang dari industri perikanan. Peraturan Menteri no 56 Tahun 2016 mengatur bahwa ukuran Lobster yang boleh ditangkap adalah lebih dari 200gr dan/atau lebar karapas diatas 8 cm/ekor, dan tidak boleh dalam kondisi bertelur.


Dalam pelepasliaran tersebut, Karantina Ikan bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bima, Kepolisian  KP3 Bandara Bima. 

"Pelestarian sumber daya ikan ini merupakan tanggung jawab bersama, dan hanya akan optimal jika semua pihak bekerja sama," pungkasnya. (poros-07)

Peraih juara lomba menulis surat remaja Nurfaijah saat menyerahkan piala kepada kepala sekolah yang didampingi guru pembina.

Bima, porosntb.com-Berbagai macam rangkaian kegiatan perlombaan diadakan pihak kecamatan dan kabupaten dalam memeriahkan HUT RI ke 73. Tahun ini, prestasi menawan ditorehkan SMAN 1 Belo. 

Sejumlqh piala perlombaan sukses diborong sekolah yang berlokasi di Desa Cenggu ini. Yakni juara satu gerak jalan indah antar guru dan siswa, juara satu voli putra dan putri untuk para guru, piala juara tiga futsal antar guru dan instansi. Serta juara lomba menulis surat remaja nasional 2018 dengan tema “Dilan (Dinda Dahlan) Bima Ramah” tingkat Kabupaten Bima yang ditorehkan Nurfaijah siswa asal Desa Ncera. 

Keseriusan dewan guru dalam menempa dan membina siswa siswinya pantas untuk mendapatkan apresiasi positif. Karena selama bulan Agustus 2018 ini setidaknya ada 6 piala dan tropi diraih oleh siswa dan guru. 



Kepala SMAN 1 Belo Mustamin SPd mengapresiasi apa yang diraih guru dan siswanya. Dia menilai, prestasi tersebut menjadi indikator keseriusan sekolah dalam menempa kedisplinan dan karakter siswa. 

“Ini adalah bukti keseriusan sekolah dalam membina karakter siswa. Lebih khusus torehan juara dua lomba menulis surat remaja yang digelar Sarangge Baca Bima,” ungkapnya. 

Pihaknya mengaku bangga atas prestasi yang diraih siswa dan guru. Ke depan sekolah akan terus memacu semangat siswa khususnya di bidang sains agar bisa bersaing dengan sekolah lain. Disamping itu, bidang olahraga juga terus digenjot sebagai salah satu identitas sekolah. 

“Sekolah kita terkenal dengan atlet voli nya. Untuk itu, kita terus menempa kemampuan dan bakat siswa di bidang olahraga. Selain itu, sains juga menjadi fokus kami,” tegasnya. 

Dia berharap kesuksesan ini menjadi momentum untuk terus meraih prestasi baik provinsi maupun nasional. “Perlahan sekolah kita mulai bersaing di kancah provinsi,” pungkas kasek murah senyum ini.(poros-07)


Bima, porosntb.com-STKIP Taman Siswa Bima patut berbangga dan menjadi salah satu perguruan tinggi unggulan. Kampus yang beralamat di jalan Lintas Talabiu-Bima Desa Padolo tersebut, kini mampu mencetak “Angkatan Emas”.
Predikat tersebut wajar saja jika mengintip tata kelola akademik dan administrasi kampus yang cukup baik. Butuh waktu 11 tahun bagi kampus “Jas Merah” ini untuk meramu mahasiswa menuju angkatan emas di tahun ini.
Adalah angkatan 2014 yang akan diwisuda tahun ini menjadi gerbong majunya perguruan tinggi terbaik di Bima tersebut. Tercatat, yudisium angkatan ini menjadi yang terbanyak sekitar 450 lebih mahasiswa. Selain itu, sekitar 95 persen mahasiswa meraih standar baik 95 dalam pelaksanaan studi.
Secara akademik mahasiswa angkatan tersebut mengikuti proses mulai pengajuan judul, bimbingan, seminar, ujian skripsi dengan baik.  “Sepanjang sejarah, lebih dari 80 orang menghadiri seminar proposal. Ini menunjukkan kegairahan di kampus. Selain itu banyak skripsi terbaik tahun ini,” ungkap Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman MSi.
Selama 11 tahun berdiri, hampir seluruh mahasiswa tidak ada tunggakan. Semuanya diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Kondisi ini menjadi pencapaian terbaik dan kebanggaan tersendiri bagi kampus.
“Ini poin positif yang akan kita pertahankan dan tingkatkan. Kita juga akan sosialisasikan kepada mahasiswa dan orangtua,” terang dosen ilmu politik ini.
Disamping itu, pihak kampus telah menerapkan data berbasis online. Hal ini merujuk pada ketentuan Ristekdikti yang menginginkan data kampus dan mahasiswa bisa diakses online. Tidak sulit lagi mengakses data mahasiswa dan kampus. Karena semuanya sudah terkoneksi secara online.
“Baik itu sifat hingga karakter mahasiswa sudah bisa langsung terbaca secara online.  Artinya, dalam sejarah kampus, baru bisa kita capai ini setelah 11 tahun  berdiri. Kita mulai membangun taat sistim regulasi kepada banyak pihak. Karena kita sudah menggunakan ketentuan Kemenristekdikti. Semuanya berbasis data online,” terang doktor jebolan UI ini.
Diakui, angkatan 2014 menjadi angkatan terbaik. Karena banyak hibah yang mewarnai studi mereka selama empat tahun ini. Mulai pertukaran 30 pelajar, hibah lomba karya tulis ilmiah, seminar internasional, PHBD, mahasiswa prestasi, English debate, hibah PPTS dan masih banyak lagi.
“Sehingga tidak berlebihan jika angkatan ini dinobatkan menjadi angkatan emas,” pungkasnya.(poros-07) 


Bima, Porosntb.com- Menunjang sekaligus meningkatkan angka minat belajar didunia Pendidikan, Relawan Dompet Dhuafa menggelar sosialisasi Sekolah Literasi Indonesua (SLI) diempat Kecamata di Kabupatrn Bima, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut langsung dilaksankan di Mis Roka Kecamatan Belo, Senen 27/8/18.

Dari empat kecamatan terdapat 6 sekolah yang dipilih Relawan Dompet Dhuafa untuk sasaran peningkatan mutu pendidikan anak. Salah satunya adalah Sekolah Mis Roka sekaligus tuan rumah dalam kegiatan sosialisasi SLI yang diwadahi oleh Makmal dan bekerja sama dengan Dompet Dhuafa.

Sedangkan 5 sekolah lainya yang terpilih adalah SDN Inpres Tenga, Inpres Pandai Woha, SDN Tolouwi Monta, MIisTonggu dan Mis Yasin Belo.

Dalam sosialisasi tersebut Pengelolo Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Ragional Kabupaten Bima Febriviani mengatakan, bahwa angka minat baca siswa di bima jauh dari harapan, sehingga relawan Dompet Dhuafa hadir memilih beberapa sekolah untuk melaksanakan kegiatan SLI.
Targentnya adalah, memberikan pendidikan literasi kepada siswa agar presentase minat baca dan komunikasi siswa lebih maju.

"Minat baca siswa di Bima-NTB kurang, makanya Relawan Dompet Dhuafa hadir dibeberapa sekolah untuk meningkatkan semangat membaca fan komunikasi,"katanya.

Lanjut Febriviani, untuk menunjang itu semua, pihaknya akan menitipkan dua orang Relawan Dompet Dhuafa untuk memberikan pendidikan kepada enam sekolah terpilih di Bima, yakni Agus Tya dan Neneng sebagai konsultan relawan SLI Dompet Dhuafa. Targetnya kedua relawan tersebut akan difungsikan sebagai pendidik selama 1 tahun.
"Selama setahun, relawan Dompet Dhuafa menjadi pengajar di enam sekolah dengan sistem roling."tandasnya.

Ditempat yang sama Kepala Mis Roka Nursyamsiah S. Pd mengatakan, sebagai kepsek di enam sekolah merasa senang dan bangga dengan hadirnya Relawan Makmal Dompet Dhuafa, untuk merubah Visi Misi Sekolah literasi, karena dengan adanya misi tersebut dapat menunjang dan memotivasi minat belajar siswa sekaligus akan memajukan Dunia Pendidikan.

"Terimaksih Dompet Dhuafa, karena telah memilih sekolah kami sebagai Sekolah Literasi Indonesia."ucapanya singkat.

Acara sosialisasi SLI langsung dihadiri Pejabat Dikbudpora kabupaten Bima, KUPTD Woha, Monta, Belo, Kades Roka, Tokoh Agama dan puluhan guru di enam sekolah yang terpilih sebagai SLI.

Pantauan Porosntb.com, Setelah pemaparan tentang Sekolah Literasi Indonesia, oleh fasilitator. Kegiatan ditutup dengan dengan launcing fakta integritas selama 1 tahun oleh masing-masing Kepala Sekolah dan disaksikan pejabat Dikbutpora Kahupaten Biam.(Poros-11)


Bima, porosntb.com-Pacuan kuda Bima seri kedua kembali digelar Sabtu (25/8) siang. Sebanyak 529 kuda akan beradu cepat di lintasan pacuan di Kelurahan Sambinae Kota Bima. Kuda-kuda tersebut terbagi dalam 12 ren kelas. Mulai kelas TK hingga Dewasa C. 

A Haris mengatakan, kuda-kuda yang berlaga berasal dari sejumlah daerah. Mulai, Kabupaten Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok hingga Sumba NTT. 

"Kita sudah siapkan hadiah hingga ratusan juta rupiah," ungkap ketua panitia ini. 

Juara kelas akan memperoleh hadiah mulai Rp 2.5 juta hingga Rp 10 juta. Dalam satu kelas akan diambil enam juara. Sedangkan untuk juara umum mendapat hadiah Rp 2 hingga 7 juta.

Ketua Pordasi Kota Bima Feri Sofiyan SH mengaku, pacuan kuda tersebut terlaksana berkat dukungan pemerintah kota. Serta kerja keras seluruh panitia lomba.

“Saya juge berharap agar peserta dan penonton bisa menjaga keamanan. Sebab keamanan dan ketertiban tak akan terwujud tanpa ada dukungan bersama,” tegas wakil wali kota terpilih ini.(poros-07)


 
Pembawa baki Adelia Herniati dan pengerek bendera Zulfadlil 'Adhim
yang menjadi anggota pasukan delapan Paskibraka NTB, 
Bima, porosntb.com- Di balik suksesnya pengibaran bendera merah putih di Kantor Gubernur NTB, ada sejumlah nama yang menjadi perhatian. Tidak lain adalah pembawa baki dan pengerek bendera. Ternyata, anggota pasukan delapan Paskibraka NTB didominasi oleh pelajar asal Kabupaten Bima.

Tercatat empat dari lima orang Paskibraka asal Bima menjadi anggota pasukan inti tersebut. Dua orang yang bertugas pada pengibaran bendera yakni Putri Salsabila SMAN 1 Woha sebagai pengiring pembawa baki dan Sahrul Akbar SMAN 2 Bolo sebagai pengerek bendera.

Sedangkan saat penurunan bendera ada nama Zulfadlil ‘Adhim SMAN 1 Woha sebagai pengerek bendera dan Adelia Herniati dari SMAN 1 Sape sebagai pembawa baki. Sementara satu orang Hilda Faradilah Putri dari SMAN 1 Bolo masuk dalam pasukan delapan.

“Kita bangga karena semua siswa kita masuk di pasukan delapan yang bertugas mengibarkan merah putih,” ungkap Kasi Kepemudaan Dikpora Kabupaten Bima, Mustamin SH.

Upacara HUT RI di kantor Gubernur NTB berlangsung lancar meski tengah diancam gempa. Tidak  bisa dipungkiri, tingginya intensitas gempa jelas menyisakan trauma. Tak terkecuali anggota Paskibraka yang bertugas.



Putri Salsabila contohnya. Pelajar SMAN 1 Woha Kabupaten Bima tersebut masih trauma akibat guncangan gempa. Meski kini dia sudah berada di Bima. Karena sehari setelah mereka tiba di Mataram dan masuk karantina, gempa dahsyat dengan magnitudo 7.0 SR mengguncang Lombok Utara.

Saat itu, mereka yang bermalam di hotel harus berhamburan keluar. Hingga tidur di emperan Mataram Mall dan jalan raya.

“Pas ada berita tsunami, kita ngungsi di Mataram Mall bersama senior dan anggota Paskibra,” urainya.

Meski takut, anggota pasukan delapan ini tetap fokus menatap tugas besarnya sebagai pengiring pembawa baki pada upacara pengibaran bendera, Jumat (17/8) pagi itu.

Upacara pengibaran bendera

“Trauma sih tetap ada. Tapi mau gimana lagi. Kita harus tetap fokus. Baik ke gempa, maupun upacara,” ujarnya.

Kendati konsentrasinya terpecah oleh gempa, namun dara asal Desa Talabiu Kecamatan Woha ini sukses menjalankan tugasnya dengan baik. Merah putih pun berhasil mereka kibarkan tanpa hambatan.

“Tekad saya sudah bulat untuk memberikan yang terbaik pada bangsa. Meski saat itu perasaan saya campur aduk. Terutama dan rindu dengan orang tua. Lebih-lebih saat gempa yang terus malanda,” kenang gadis cantik ini.

Sementara saat proses penurunan bendera, kondisi serupa juga terjadi. Sejumlah Paskibraka masih dihantui kekhawatiran akan gempa. Meski begitu, pelaksanaan upacara berlangsung lancar dan penuh khidmat di bawah tangan dingin pengerek bendera Zulfadlil ‘Adhim siswa kebanggan Kabupaten Bima tersebut. (poros-07)

Bima, Poros NTB.- Sedikit kikuk, tapi meriah dan menyenangkan. Begtulah ekspresi yang Nampak di muka bapak-bapak Kepala Sekolah dan pengawas Tingkat SD se-Kecamatan Woha, saat mengikuti lomba Masak Cipta Rasa Nasi Goreng yang digelar UPT Dikbudpora setempat dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-73, Sabtu (16/8/18) kemarin di Kantor UPT setempat.

Meski memasak pada umumnya digiatkan kaum ibu. Namun, dalam lomba memasak tersebut, pihak penyelenggara hanya mengikut sertakan kaum bapak.

Dapat dibayangkan bagaimana lucunya para bapak-bapak yang kesehariannya biasa bergelut dengan tetek bengek tugas kantor, tiba-tiba berhadapan dengan alat masak dan bumbu dapur untuk membuat hidangan dalam tempo yang ditentukan.

Menurut  Kepala UPT Dikbudpora Woha, Haris Nasution, S.Sos, lomba ini tidak sekedar untuk “senang-senang”, tapi dimaksudkan agar para peserta juga bisa ikut merasakan bagaimana  repotnya ibu-ibu di dapur.

“Lomba ini untuk menggali kreatifitas memasak bapak-bapak, sehingga bisa memasak sendiri, tanpa mengandalkan isteri saja di dapur,” kata Haris dalam sambutannya.

Dalam lomba tersebut, kaum ibu hanya diperbantukan saja, seperti mengiris dan memotong bahan, tapi untuk meracik dan memasaknya para peserta yang melakukannya.

Sementara itu para peserta dibagi dalam 6 gugus, dan yang dinilai adalah, kekompakan tim, keseragaman pakaian tim, serta rasa dari nasi goreng itu sendiri, yang dinilai oleh Camat dan Sekcam Woha, Kepala UPT, dan Kapolsek Woha.

Adapun yang keluar sebagai juara adalah, Gugus 4 sebagai juara pertama, diikuti oleh Gugus 6 dan Gugus Pengawas. (Maman)

Imran, SH
Bima, Poros NTB.- Salah seorang tokoh masyarakat di Desa Tolotangga yang juga Ketua Pelaksana Proyek Rabat Gang di RT 4 desa setempat, Imran, SH, mengapresiasi pemberitaan yang berjudul “Dari Ibu-Ibu, Proyek RabatGang di Tolotangga Murni Libatkan Warga” tentang pelaksanaan proyek rabat gang yang bersumber dari ADD di RT 2 yang dilansir sebelumnya.

Kata Imran, dengan adanya pemberitaan media seperti itu, bisa memberikan energy positif bagi Pemerintah Desa untuk lebih meningkatkan kinerjanya dalam membangun dan memberikan pelayanan di desanya.

Lanjut Imran, yang juga merupakan salah satu Caleg Dapil I Partai Golkar ini, dengan adanya pemberitaan “Positif” tersebut,   para pelaksana proyek yang bersumber dari ADD akan saling berlomba meningkatkan kualitas proyeknya.

Itu menguntungkan masyarakat,” cetusnya

Dan seolah tak mau kalah, Imran juga ingin mempublikasikan pelaksanaan proyek yang ditanganinya saat ini, yakni proyek rabat gang di RT 4 yang terdiri dari dua lokasi. 

Tak hanya Proyek di RT 2, kata dia yang memberdayakan masyarakat sekitar sebagai pekerjanya. Namun termasuk proyek rabat gang berparit sepanjang 70 meter yang saat ini ditanganinya di dua tempat.

Sebanyak 20 orang warga diserap sebagai pekerja, yang diupahi Rp. 100 ribu per hari.

“Jadi lumayan dapat mengurangi pengangguran masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, ia juga memuji kesadaran warga Tolotangga. Warga pemilik pagar dan teras yang bersinggungan dengan gang lokasi proyek, rela mereka bongkar sendiri. Pohon-pohonpun ditebang dengan penuh kesadaran.

“Kita berkomitmen mengganti kerugian warga yang membongkar pagar dan terasnya. Bahkan yang menebang pohonnya,” Jelas Imran.

Para pelaksana dan pengawas proyek saat berada di lokasi proyek
 Proyek yang mulai dikerjakan Jum’at (10/8/18) ini langsung dikontrol Sekdes setempat, Mujahidin atau yang akrab disapa Amrozi bersama Kaur Desa, Heri. Sementara anggota LPMD, yang diwakili Alamsyah, dan Ketua Pemuda, yang disapa Mone Ncera, ikut mengawasi pelaksanaan proyek.


Sehingga dengan melibatkan warga serta kontrol serta pengawasan dari berbagai pihak ini, masyarakat tidak perlu meragukan penggunaan dana dan kualitas proyek. (Teddy)



Bima. porosntb.com-PPL-KKN Terpadu STKIP Taman Siswa Bima yang dilepas bulan lalu rupanya mampu beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Terbukti, mahasiswa PPL-KKN terpadu angkatan ketiga ini menggelar sejumlah lomba untuk semarakkan HUT RI ke 73. Tidak hanya itu, mahasiswa “Kampus Merah” ini juga membawa program fisik di masing-masing desa lokasi PPL-KKN.
Posko Desa Pandai Kecamatan Woha misalnya. Menyemarakan 17 Agustus dengan menghias desa menggunakan umbul-umbul merah-putih. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian program fisik yang mereka seminarkan.  Kegiatan tersebut semata-mata bertujuan untuk menciptakan suasana hikmat menyongsong hari kemerdekaan.


"Kegiatan seperti ini merupakan hal kecil yang memiliki makna yang besar. Karena akan menciptakan paradigma masyarakat dan generasi tentang urgennya merayakan hari kemerdekaan," ungkap Mulyadi SOr MPd selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Ketua posko, Khairul Annas menambahkan, kegiatan tersebut merupakan bagian kecil dari rangkaian kegiatan HUT RI ke 73. Karena mereka juga sudah menyiapkan lomba lainnya seperti Volly Ball.
“Masyarakat sangat antusias dan berperan aktif. Mereka juga membantu kami menghias umbul-umbul,” ujarnya.
Selain itu, mengarah ke seberang tepatnya di Monggo Kecamatan Madapangga. Mahasiswa PPL-KKN Terpadu menyelenggarakan lomba sepak bola dan bola voli. Program ini terselenggara atas kerja sama antar mahasiswa KKN bersama dengan karang taruna desa setempat.
DPL Desa Monggo Ita Fitriati, SKom MT mengatakan, lomba tersebut  bertujuan untuk meningkatkan jiwa sportivitas sekligus mencari bibit unggul generasi Monggo. Hal ini sesuai harapan kepala Desa Monggo yang disampaikan pada saat serah terima program PPL KKN.
"Total yang akan bertanding sebanyak 22 RT, diperkirakan lomba ini akan berlangsung selama sebulan,” ungkapnya.



Ketua Posko Monggo, Ade Ichtiar Saputra menyampaikan, kegiatan tersebut langsung dibuka Camat Madapangga. Turut hadir Kapolsek, Danramil dan seluruh warga Monggo.
“Sebagai pertandingan pembuka, turun tim Mahasiswa KKN melawan tim dari kepemerintahan desa. Mahasiswa KKN unggul 3-0,” terangnya.

Sementara PPL-KKN Desa Jia Kecamatan Sape juga menggelar kegiatan khas 17an. Selain itu, juga mengikuti kegiatan pawai HUT RI. Di Posko di Desa Nipa Kecamatan Ambalawi melaksanakan lomba sepak bola dangdut. Juga masih banyak kegiatan yang dilaksanakan. Sedangkan Posko Desa Tambe Kecamatan Bolo, mahasiswa ikut menyemarakkan HUT RI dengan berbagai lomba. Salah satunya adalah lomba panjat pinang yang cukup menyita perhatian warga.
Yang terakhir adalah PPL-KKN Desa Pesa Kecamatan Wawo yang mengubah Uma Lengge di kantor desa menjadi perpustakaan desa.Serta PPL KKN Kelurahan Kolo Kota Bima yang menggelar pentas seni budaya.(poros-07)


Bima, porosntb.com-Lombok terus diguncang gempa. Hampir sebulan ini, pulau yang masuk pariwisata halal dunia itu kerap digoyang hingga mala mini.
Namun, jika merunut pada aktifitas kegempaan yang telah terjadi selama ini, semuanya terjadi pada hari Minggu. Gempa dahsyat pertama pada Minggu 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6.4 SR. Kemudian pada pekan berikutnya, tepatnya Minggu 5 Agustus 2018 gempa hebat kembali menggoyang pulau seribu masjid tersebut dengan magnitudo 7.0 SR.
Gempa yang berpusat di Lombok Utara ini tercatat menjadi gempa terdahsyat di Indonesia lantaran telah menelan korban jiwa hingga 382 orang dan melululantahkan rumah warga. Tidak sampai di situ, gempa susulan terus terjadi, hingga puncaknya pada Minggu, 12 Agustus 2018 dengan kekuatan 5.0 SR.
Yang terakhir dan tidak kalah dahsyat yakni pada Minggu, 19 Agustus 2018 malam ini. Gempa dengan magnitudo 7.0 skala richter kembali mengguncang sekitar pukul 22.54 Wita. Gempa dahsyat yang juga terasa hingga di Bima tersebut belum ada laporan korban jiwa.
Laporan yang diterima malam ini di Lombok sedang mati lampu. Hampir seluruh kota dan kabupaten di pulau Lombok gelap gulita. Hilir mudik warga berlarian karena panik sudah tidak bisa dihindarkan. Kondisi malam ini cukup mencekam, warga masih berada di luar rumah dan menjauhi bangunan.    
Dari rangkaian gempa tersebut, tercatat tiga kali gempa dahsyat tersebut semuanya terjadi pada hari Minggu. Entah kebetulan ataukah memang tanda alam, walahualambisawab.(poros-07)



Bima, porosntb.com-Setelah sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih, anggota Paskibraka Kabupaten Bima menangis histeris penuh haru. Tidak terkecuali Putri Amelia, gadis cantik pembawa baki pada upacara HUT RI ke 73 tahun 2018 di Kantor Bupati Bima.
Dara kelahiran Rasabou Kecamatan Sape itu menangis tersedu penuh emosi kebahagiaan setelah berhasil menjalankan tugasnya mengambil duplikat bendera pusaka dari Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri dan mengibarkannya. Namun malangnya, gadis yang akrab disapa Putri ini menangis sendiri tanpa orang tua di sampingnya.
Pemandangan ini cukup berbeda, karena hampir seluruh temannya anggota Paskibraka melampiaskan rasa suka cita bersama keluarga masing-masing. Putri hanya menangis sendiri tanpa siapa-siapa yang mendampinginya. Beruntung, ada beberapa purna paskib yang langsung menyambut gadis 17 tahun tersebut.
Sambil menangis, Putri berlari ke lapangan upacara dan mencari orang tuanya. Setelah beberapa lama mencari, adalah sang ayah yang hadir mendapinginya lebih dulu sebelum bertemu sang ibu dan adik bungsunya.
“Perasaan saya campur aduk. Sedih dan bangga,” ungkapnya sembari mengusap air mata yang terus berlinang di pipinya.
Dia tidak bisa berkata apa-apa saking bahagia bertemu orang tuanya. Putri hanya menyampaikan terimakasih kepada pelatih yang telah menunjuknya sebagai pembawa baki. “Terimakasih kepada semuanya, atas dorongan dan semangatnya,” ucapnya. (poros-07) 



 
Anggota Paskibraka Pasukan Delapan, Lukman saat menangis
usai melaksanakan tugasnya sebagai pengerek bendera
Bima, Porosntb.com-Upacara HUT RI ke 73 tahun di Kantor Bupati Bima berjalan lancar. Anggota Paskibraka sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Setelah berhasil menjalankan tugas, tangisan sejumlah anggota Paskibraka seketika pecah.
Mereka menangis histeris penuh emosi kebahagiaan. Mereka terharu karena menjadi bagian penting dari terlaksananya momentum bersejarah bagi Bangsa Indonesia tersebut.
Pantauan wartawan, tangisan mulai pecah saat orang tua dan keluarga Paskibraka menghampiri. Masing-masing anggota Paskib merangkul hangat orang tua meraka dan menangis tersedu. Seketika suasana berubah khidmad bercampur bangga.

“Saya bangga karena menjadi bagian dari Paskibraka dan berhasil menjalankan tugas sebagai pengibar bendera,” ujar Lukman, anggota Paskibraka pasukan delapan yang menjadi pengerek bendera dengan nada terbata-bata.


Cucu dari kepala SMPN 1 Palibelo H Makhruf SPd ini tak kuasa menahan tangis setelah berhasil mengibarkan Merah Putih di ujung tiang bendera kantor Bupati Bima. Dia tidak menyangka jika dirinya akan dipilih sebagai salah satu pasukan delapan. Karena menjadi anggota paskibraka sudah merupakan kebanggaan tersendiri baginya.
“Setiap anggota Paskib pasti menginginkan bisa masuk di pasukan delapan. Ini menjadi kebanggaan tersendiri,” sambungnya dengan rintihan tangisan sambil merangkul ibunya.(poros-07)

Kasi PTK Dikpora Ico Rahmawati SPd MPd (Tengah)
saat foto bersama guru berprestasi tingkat provinsi


Bima, porosntb.com-Seorang guru sekolah dasar (SD) di Kabupaten Bima sukses melanggeng ke tingkat nasional. Dia adalah Salbiah SPd, guru di SDN Kangga Kecamatan Langgudu. Dia sukses meraih poin tertinggi saat seleksi di tingkat provinsi NTB. Atas prestasinya itu, Salbiah diundang ke Istana Negara untuk mengikuti upacara HUT RI ke 73 tahun 2018.
Kasi PTK Dikpora Kabupaten Bima, Ico Rahmawati SPd MPd mengapresiasi keberhasilan Salbiah. Menurut dia, tidak mudah meraih predikat guru prestasi di tingkat nasional. Butuh dedikasi tinggi dan kerja keras.
“Kita bangga karena guru kita berhasil menyisihkan kompetitor di provinsi. Dia menjadi salah satu guru terbaik yang berasal di daerah terpencil,” ungkapnya, usai mengikuti upacara HUT RI ke 73 di Kantor Bupati Bima, Godo, Woha.
Disamping itu kata perempuan murah senyum ini, tahun lalu 3 orang guru setempat juga menjadi guru berprestasi tingkat nasional. Meski tahun ini menurun, namun pihaknya akan terus berupaya agar menciptakan guru-guru berkompeten.
“Target kita tahun depan harus lima orang yang menjadi guru prestasi tingkat nasional,” tegasnya.
Selain itu, sebanyak 15 guru di Kabupaten Bima juga menjadi guru berprestasi di tingkat provinsi. Bahkan sambungnya, para guru tersebut nyaris melangkah ke pusat. “Mungki belum rezekinya. Tapi kita yakin, guru berprestasi di Bima cukup banyak dan siap bersaing dengan daerah lain,” tutur perempuan berparas tirus ini.
Dia berharap, para guru terus meningkatkan mutu diri dan mutu pengajaran. Pihaknya juga akan terus melakukan monitoring dan evaluasi setiap tahun dalam rangka mengukur sejauh mana kemampuan para guru.
“Kalau gurunya berhasil, tentu siswanya juga akan berhasil. Ini baru namanya keberhasilan pendidikan itu,” pungkasnya. (poros-07) 

Mahasiswa PPL KKN Terpadu foto bersama

Bima, porosntb.com-Mahasiswa PPL-KKN Terpadu STKIP Taman Siswa Bima Posko Desa Sakuru Kecamatan Monta menggelar seminar bahaya aborsi dan kekerasan seksual pada anak dan perempuan. Seminar ini sebagai salah satu program kerja mahasiswa PPL-KKN Terpadu angkatan 3. Serta menyikapi Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi dan UU Perlundungan Anak.

Seminar yang diselenggarakan di aula kantor desa setempat itu dihadiri sejumlah peserta dari siswa SMPN 4 Monta. Selain itu, juga ada dari tokoh pemuda, perempuan, masyarakat dan tokoh agama. 

Seminar tersebut menampilkan dua pembicara yakni Bidan Koordinator Puskesmas Monta Dewi Asnah AMd Keb dengan materi aborsi. Sedangkan satu pemateri lagi dari Kapolsek Monta IPTU Edi dengan materi seputar hukum aborsi, kekerasan perempuan dan anak. 

Banyak hal dibicarakan dalam seminar sehari itu. Berbagai masukan termasuk tindak lanjut dari seminar diungkap sejumlah peserta pada seminar yang dipandu dosen pembimbing Hardiansyah MPd tersebut. 

Pada kesempatan itu Hardiansyah MPd menyampaikan, aborsi merupakan suatu kejahatan yang durhaka dan tergolong dosa berat. Para pelakuknya harus dijerat hukum. “Islam menolak aborsi yang dikehendaki secara langsung dengan alasan apapun,” tegasnya. 

Dia berharap dengan seminar tersebut masyarakat khususnya remaja bisa menghindari seks bebas dan aborsi. “Semoga kegiatan ini bisa mengedukasi masyarakat akan bahaya aborsi,” ujarnya. 

Disamping itu, para narasumber Kapolsek dan Puskesmas diberikan sertifikat penghargaan. 

Sementara Ketua STKIP Taman Siswa Bima Dr Ibnu Khaldun Sudirman MSi mengatakan, pasca dilepas oleh Sekda Bima bulan lalu, mahasiswa PPL-KKN Terpadu sudah banyak memberi dedikasi bagi masyarakat. Mereka sudah menjalankan peran strategis Tri Dharma perguruan tinggi. 

“Antara lain membangun iklim yang kondusif dalam menjalankan program. Seperti fisik, karakter masyarakat desa serta pembangunan non fisik,” ungkapnya. 

Menurut dia, kampus setempat mendapat amanah dari pemerintah daerah untuk menjalankan program kerja sesuai visi Bima Ramah. Pihaknya juga diminta untuk menginisiasi kegiatan keagamaan. 

“Memang ini menjadi program unggulan di kampus kita. Melalui pendidikan karakter dalam mengembalikan nilai keislaman. Baik dalam bentuk literasi baca Quran maupun keilmuan,” tutur dosen ilmu politik ini. 

Diakui, selama sebulan terjun ke masyarakat, interaksi antara masyarakat dan mahasiswa PPL-KKN terpadu yang tersebar di 22 lokasi sangat baik. Begitu juga hubungan yang terjalin antara kampus dan masyarakat sudah relatif berjalan dengan baik. 

“Selain program literasi, kita juga membangun kesadaran lingkungan. Kita berikan ruang yang proporsional kepada mahasiswa untuk menjalankan program sadar lingkungan. Seperti baksos, maupun kegiatan lain yakni mendukung semaraknya HUT RI,” terang doktor jebolan UI ini. 

Pihaknya berharap, tren positif ini bisa dipertahankan. Karena pihaknya akan memberikan penghargaan umroh bagi 10 dosen pembimbing terbaik, jika kampus sudah punya sponsor. 


“Kita juga akan monitoring kegiatan PPL di sekolah. Karena selama tiga tahun terakhir daya serap mahasiswa yang PPL di sekolah cukup tinggi. Banyak sekolah yang langsung menawarkan mahasiswa kami untuk menjadi tenaga pendidikan di sekolah setempat,” pungkasnya. (Poros07)

Ketua Pelaksana Proyek, Budi Suharjo
 nampak ikut bekerja untuk membantu warga
Bima, Poros NTB.- Pemerintah Desa Tolotangga Kecamatan Monta patut diacungi jempol. Pasalnya, Kepala Desa setempat, Drs. Faisal M. Tayeb, lewat Ketua Pelaksana Proyek, Budi Suharjo, dalam merealisasikan proyek ADD berupa rabat gang, murni melibatkan warganya sebagai pekerja.
Rabat gang sepanjang sekitar 200 meter tersebut, dikerjakan sejak Jum’at (10/8/18) dan hingga kini masih dalam proses pengerjaan.

Tak hanya kaum pria yang dipekerjakan, nampak pula ibu-ibu juga ikut dilibatkan bahu membahu mengangkut material, hingga mencampur adonan semen dan beton.

Para warga yang dipekerjakan sekitar 20 orang tersebut terlihat antusias dalam bekerja mempermak jalan gang mereka yang didanai sekitar Rp. 100 juta dari ADD tersebut. Suasana kebersamaan membuat pekerjaan yang seharusnya berat itu terlihat ringan.

Tak dipekerjakan percuma memang, tapi mereka digaji setara upah biasa.

Menurut Ketua Pelaksana Proyek, Budi Suharjo, pihaknya memang berniat untuk memberdayakan warga sekitar dalam setiap pelaksanaan proyek fisik yang ada di Desa Tolotangga.

“Dari segi kualitas hasil pekerjaan, apa yang dikerjakan warga ini sangat berkualitas. Sudah sesuai dengan standar proyek,” ujarnya.

Ia berharap dengan melibatkan warga sekitar ini, dapat berkontribusi dalam meminimalisasi pengangguran, dan warga tidak lagi merasa cemburu secara social dan memandang sinis setiap proyek yang berasal dari ADD.

Budi sendiri, meski sebagai Ketua pelaksana, namun tak segan-segan ikut membantu warga mencampur adonan semen. Sehingga warga merasa termotifasi untuk giat bekerja.

Budi mengaku, tak seperti biasanya. Sebelum mulai pengerjaan rabat, warga sepanjang gang yang dilewati proyek secara sadar langsung membongkar pagar-pagar mereka.

“Alhamdulillah, tanpa disuruh, warga sudah membongkarnya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Dusun 2, Tamsil, sangat mengapresiasi kebijakan Pemerintah Desa dan inisiatif Ketua Pelaksana Proyek, karena melibatkan warganya.

“Rabat gang kali ini juga bagus. Ada parit di kedua sisi gang. Tidak seperti gang lain.” Cetus Tamsil (KP.03)


Bima, Poros NTB.-Bagi para PNS dulunya yang kini disebut ASN, khususnya lingkup daerah Bima, dipindah –tugaskan ke wilayah Kecamatan Tambora sama halnya dengan dikucilkan, disingkirkan, dibuang, dipencilkan, disegregasi, lalu diabaikan, bahkan merasa dipenjara secara halus oleh para pemangku kepentingan.

Dalam persepsi PNS kala itu, mungkin tidak sepenuhnya benar, PNS yang dipindahkan ke Tambora, setara dengan para pembangkang politik yang  dikamp kerja paksakan karena membangkang, membelot, dan berseberangan dengan keinginan atau kepentingan penguasa.

Diperkuat kejadian-kejadian berulang yang menjadi rahasia umum, bahwa penguasa juga jika akan menghukum para pegawainya, maka Tambora sering dijadikan pilihan utama untuk dijadikan sebagai “Kawah Pengucilan” bagi mereka.

Tak heran dulu itu, Pasca Pilkada, merupakan saat-saat yang paling mendebarkan bagi para PNS yang nakal berpetualang dalam politik dan kebetulan memihak yang kalah, lantaran dibenaknya dihantui oleh momok “dipindahkan ke Tambora”.

Tak hanya PNS, masyarakat umum juga menganggap Tambora sebagai pilihan terakhir sebagai tempat untuk mengadu peruntungan. Mereka yang putus asa karena menganggur dan yang bangkrut di tempat asal, biasanya beralih ke Tambora untuk mencoba meraup untung. Ada juga mereka yang kalah bertarung dalam kontestasi tertentu, berpaling ke Tambora karena memendam malu.

Persepsi semacam itu dianggap wajar. Kecamatan Tambora yang didiami gunung berjuluk Pompeii dari Timur yang mengeringkan dapur magmanya Tahun 1815 ini, dulunya memang wilayah terpencil yang sulit dijangkau transportasi. Untuk sampai ke Tambora, dari Kota Bima memakai Bus bisa memakan waktu lebih dari setengah hari melewati medan perjalanan yang cukup berat.

Namun, beberapa tahun terakhir ini persepsi seperti itu tentang Tambora perlahan memudar. Wilayah Tambora kini bukan lagi momok, tapi mulai menjelma menjadi primadona. Terhitung sejak dinobatkan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional April 2015 lalu, ditambah pula Kawasan Tambora resmi didapuk sebagai Geopark Nasional oleh UNESCO 2017 lalu sejak digagas Tahun 2014. Imbasnya bagi geliat perekonomian di wilayah Tambora menjadi sangat luar biasa.

Lalu masih adakah yang masih menganggap Tambora sebagai “Kawah Pengucilan”?

Menyadur laporan wartawan media ini, hasil wawancara beberapa PNS yang dulunya pernah bebulan-bulan memendam dendam karena merasa dibuang ke Tambora, malah mengaku saat ini tidak ingin  ditugaskan diluar Tambora.

“Ngapain (pindah dari Tambora)?,”ujar sumber. “saya sangat merasa nyaman bertugas di Tambora saat ini. Kita mendapatkan berbagai tunjangan yang tidak diberikan kepada mereka yang bertugas di tempat lain. Bagi saya Tambora sekarang seperti taman yang tidak membosankan,” ungkapnya lagi.

Bagusnya lagi, Pemerintah Kabupaten Bima yang dipimpin Dinda-Dahlan pintar memanfaatkan peluang dari dua status besar yang disematkan bagi Gunung Tambora. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Drs. Dahlan, mengaku bahwa sector pariwisata merupakan prioritas utama Pemkab Bima saat ini. Sumber dana dan sumber daya manusia yang  dikerahkan untuk memajukan pariwisata di Bima ini sangat diseriusi.

Dahlan mencontohkan, jika dulu untuk sampai ke Kawinda To’i sekarang hanya memerlukan waktu 2-3 jam lewat jalur lingkar utara Sanggar. “Jadi untuk menikmati tempat pariwisata Air Terjun Bidadari di Kawinda To’I sekarang hanya butuh waktu 2 atau 3 jam dari Kota Bima, Jalanya sudah di-Hotmix kok “ ujar Dahlan.

Untuk Tambora sendiri, dahlan memastikan bukan lagi wilayah terpencil yang biasa dijadikan sebagai tempat “membuang “ orang. Bahkan sekarang banyak orang diluar Tambora yang berlomba-lomba menjadi pelaku usaha di sana. Karena Tambora sekarang merupakan destinasi wisata yang sangat popular dan digemari saat ini.
Hal menarik yang dikatakan Dahlan, bahwa untuk membuat sebuah daerah agar dikenal dunia, maka pariwisata merupakan jawabannya. 

“Pariwisata boleh dibilang sebagai jendela bagi dunia untuk memperkenalkan potensi daerah”, cetusnya.

Selain Tambora, Bima sendiri, kata dia memiliki ratusan spot wisata, yang masih terus dikembangkan dan dipromosikan lewat event-event seperti Festival Sangiang Api. Arus yang deras di perairan sangiang dinilainya sangat menantang bagi para turis untuk berperahu layar.

“Arus air di sana deras, dan itu unik yang tidak akan didapatkan di wilayah perairan lain,” ungkap Dahlan.

Ia kemudian menyebutkan spot wisata lain yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah Pantai Wane. Untuk membuktikan keseriusan, di Woro-Wane telah dibangunkan Hotel berbintang. Dan jarang diketahui umum, turis sering mampir di Wane dengan kapal pesiar mereka.

Isu yang berkembang saat ini pengembangan pariwisata di Kabupaten Bima sering terkendala oleh keamanan yang kurang. Untuk itu Dahlan berharap masyarakat di wilayah destinasi wisata bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjungnya.

“Selain itu masyarakat juga harus jujur,” kata Dahlan.

Karena sering ditemukan kasus, penyedia jasa transportasi secara oportunis mematok harga yang tidak biasa untuk mengantar para turis ke tempat wisata, dan itu membuat turis kapok. “Masa minta turis antar ke wane dengan harga 250 ribu, padahal tarif normalnya berkisar 25 sampai 50 ribu. Jadi harus jujur agar turis tidak kapok,” imbuhnya.

Ke depan Bima ini diharapkan Dahlan tidak hanya dijadikan sebagai tempat transit bagi turis yang akan berwisata ke Pulau Komodo. Tetapi turis bisa mampir beberapa pekan untuk menikmati spot wisata di Bima yang tak kalah menggiurkan. (Aden)

Anggota PSBT Bima yang dipimpin pelatih Agus Supriadi (kanan) saat menyerahkan bantuan perabot kepada korban kebakaran 

Bima, Porosntb.com- Persatuan Silat Bintang Timur Bima, mengunjungi korban kebakaran di Desa Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima Jum'at 10/8 sore tadi. Dalam kunjungan tersebut, PSBT yang dipimpin langsung Pelatih PSBT Agus Supriadi S.Pd menyerahkan Bantuan berupa perabot kepada korban kebakaran.

Agus mengatakan, kunjungan sekaligus penyerahan bantuan kepada kedua keluarga korban kebakaran di talabiu adalah bentuk solidaritas PSBT kepada para korban, walaupun dalam kunjungan itu tak seberapa bentuk bantuan yang diberikan PSBT.

"Bantuan tak seberapa, tapi bantuannya sangat bermanfaat untuk para korban,"ucapnya.

Lanjut Agus yang dikenal dengan akun facebook Sampela Ndolo Dawara Dirawi, bahwa bantuan yang diserahkan ke korban kebakaran merupakan hasil penggalangan dana anggota PSBT Jum'at siang tadi.

Bukan hanya kepada korban kebakaran di talabiu, bentuk kepedulian PSBT juga terus berbagi hingga ke Kota Pedas. Rencanaya besok akan membawakan bantuan.

"Besok pagi anggota PSBT akan membawa bantuan sembako untuk korban Gempa di kota pedas,"ungkapnya.

Iyapun berharap, kepada generasi bangsa hari ini untuk lebih peka terhadap musibah-musibah yang terjadi hari ini, karena sebagai makhluķ sosial kita tak boleh tutup mata ataupun kaku dalam merespon persoalan yang terjadi akhir-akhir ini."tutupnya.(Poros-11)

Bima, Poros NTB.-Upaya keras SMAN 1 Woha Kabupaten Bima untuk kembali mengulang kesuksesan melenggangkan siswanya ke istana negara sebagai anggota Paskibraka seperti tahun lalu, nyaris berhasil.

Putri Salsabila, siswi Kelas X yang diutus ke Provinsi NTB untuk ikut seleksi anggota Paskibraka Tngkat Nasional akhirnya dinyatakan tidak lolos.

Padahal, berbekal prestasi Peringkat 2 di Tingkat Provinsi, Putri dinilai punya peluang besar untuk kembali mengulang kegemilangan seniornya, Agus Putra Pratama.

Menilik fisik secara keseluruhan, Putri memang layak. Ia punya rupa yang oriental dengan tinggi badan ideal 167 cm sebagai syarat anggota paskibraka. Tingkat intelegensia serta kemampuan baris berbaris juga memadai .

"Dia (Putri) sangat ideal untuk menjadi anggota Paskibraka tingkat Nasional, baik dari facenya, tinggi badannya, dan intelegensinya," aku Najamuddin, M.Pd, kepala Sekolah SMAN 1 Woha, Jum'at (10/8/18) pagi tadi.

Namun sayang, kata Najamuddin, seleksi ketat di tingkat Provinsi, menghempaskan impian putri, karena bagian lengannya sejak lahir memang sedikit bengkok seperti terkilir.

Meskipun secara kasat mata "cacat kecil" ini tidak nampak dan mempengaruhi performancenya saat bertugas sebagai anggota paskibraka, namun seleksi super ketat Tim Provinsi tidak "memaafkan" cela sekecil itu.

"Sayang memang," ujar Najamuddin, "Tapi kita tidak terlalu kecewa karena putri tidak lolos bukan karena masalah penampilan keseluruhan dan kemampuan baris berbarisnya yang buruk. Namun karena secara lahiriah, ia memiliki bagian lengan yang tidak lurus," imbuhnya.

Pihaknya sendiri mengaku puas bisa mengantarkan dua orang dari 5 orang utusan Kabupaten Bima di Paskibraka Tingkat Provinsi, Yaitu Putri Salsabila dan Zulfadlil Adhin, yang juga siswa Kelas X yang keduanya berasal dari Desa Talabiu.

Sementara tiga lainnya, berasal dari siswa SMAN 1 Bolo, SMAN 2 Bolo, dan SMAN 1 Sape.

Untuk Paskibraka tingkat Kabupaten Bima sendiri, SMAN 1 Woha mengutus 11 siswanya yang terdiri dari 4 putri dan 7 Putra, yang saat ini sedang menjalani proses karantina di Sekolah Al-Maliki.

Meskipun jumlah siswanya yang berkontribusi dalam Paskibraka tahun ini, berkurang dibanding tahun lalu. Namun sejatinya Secara Prestasi, SMAN 1 Woha masih menjadi sekolah penyumbang anggota paskibraka terbanyak, baik di Tingkat Kabupaten maupun Provinsi.

Predikat SMAN 1 Woha sebagai "Gudang anggota Paskibraka" tidaklah memudar karenanya. (Aden)



Bima, porosntb.com-Tim voli putra SMPN 1 Woha siap mempertahankan gelar juara yang diraih di Kota dan Kabupaten Bima tahun lalu. Dimana saat itu, sekolah yang berada di Desa Tente ini sukses menyabet juara umum di dua even yang bergengsi. Tahun ini kejuaraan yang sama sudah digelar kembali di Kabupaten Bima.
“Mempertahankan memang sulit dari pada merebut. Ini menjadi tugas kita untuk terus berjuang,” ungkap kepala sekolah Drs Muhtar Pua, usai timnya menang di laga perdana, Selasa (7/8).
Dikatakan, pihaknya sudah menyiapkan para pemain sejak dua bulan lalu. Ini diharapkan agar siswa bisa memberi hasil makasimal. Selain itu, sekolah juga sudah menyiapkan pelatih khusus.
“Untuk mempertahankan juara bukan perkara mudah. Apalagi persaingan tahun ini cukup ketat. Tapi kita tetap optimis memasang target untuk juara,” tegasnya.
Meski begitu, pihaknya saat ini telah kekurangan empat pemain inti yang membela SMPN 1 tahun lalu. Kondisi ini membuatnya sedikit khawatir. Apalagi para pemain saat ini disominasi para pemain muda.
“Empat orang ini sudah SMA. Tapi melaihat kemampuan para pemain baru yang dilatih khusus selama dua bulan ini, saya yakin kualitasnya sama,” tegas kasek yang akrab disapa Pua ini.
Dia berharap, tim voli tetap menjaga stamina dan ritme permainan. Serta tidak menjadikan juara sebagai beban saat berada di lapangan. “Urusan menang kalah itu nasip. Yang penting berikan permainan yang indah,” pungkasnya. (poros-07)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget