Agustus 2019


Kepala Bappeda Bima, Ir Muzakkir (tengah, diapit Dr Ibnu Khaldun dan Dr Karyadin saat sesi foto bersama

Bima, porosntb.com-Dua belas tahun sudah perjalanan STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima membangun dan mewarnai dinamikan dunia pendidikan. Tekad untuk membangun kualitas akademik dan non akademik juga terus digenjot. Seminar Nasional pada Sabtu (31/8/19) kemarin merupakan bagian dari cara yang dipilih perguruan tinggi yang akrab disapa "Kampus Merah" tersebut untuk mewujudkan arah tekadnya. 

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua STKIP Tamsis Bima, Dr. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., ketika menyapaikan sambutan saat kegiatan seminar nasional yang digelar di Auditorium Sudirman.

"Tamsis terus melakukan percepatan pembangunan kualitas akademik dan non akademik. Seminar Nasional ini merupakan sejarah baru yang menandai 12 tahun perjalanan STKIP Taman Siswa Bima,” katanya.

Menurut Dr Ibnu (sapaan akrab Dr Ibnu Khaldun Sudirman), kegiatan tersebut dirasa penting karena mampu meningkatkan gairah dan iklim ilmiah dosen dan mahasiswa. Karena, baik dosen maupun mahasiswa diharuskan untuk memiliki karya ilmiah yang terpublikasi melalui jurnal-jurnal ilmiah. 

"Amanat regulasi, bahwa selain dosen, para lulusan harus memiliki karya ilmiah atau artikel untuk dimuat di Jurnal sebagai salah satu persyaratan kelulusan. Para mahasiswa juga dituntut untuk memiliki skill menulis, meneliti, dan soft skill lainnya,” jelas Ibnu.

Sebagai narasumber, pria yang menyelesaikan gelar doktornya di Universitas Indonesia itu membahas percepatan sadar literasi. Dia menilai, kondisi pendidikan di Kabupaten Bima yang baru mampu berada pada urutan ketujuh di NTB dirasa perlu untuk melakukan berbagai terobosan untuk mempercepat gerakan sadar literasi. 

“Ini merupakan tanggung jawab semua pihak. Difasilitasi oleh pemerintah, dan didukung oleh perguruan tinggi, sekolah, swasta, dan para penggiat literasi. Pemerintah harus mulai membangun perpustakaan yang memadai untuk menyediakan buku yang berkualitas, jurnal, dan karya ilmiah yang dapat dibaca atau diakses oleh siswa, mahasiswa dan masyarakat luas,” paparnya seraya berharap Pemkab untuk mensupport para penggiat literasi perpustakaan desa.

Visi dan gagasan konstruktif yang dimiliki Kampus Merah ini mendapat respon baik dari Bupati Bima melalui Kepala Bappeda Kabupaten Bima, Ir Muzakkir, M.Sc. Dalam sambutannya, dia mengapresiasi kegiatan yang dihelat STKIP Tamsis Bima. Apresiasi itu dihadiahkan lantaran keseriusan kampus merah dalam meningkatkan “adrenalin” ilmiah. Dirinya sepakat bahwa untuk mepercepat pembangunan harus dilakukan ‘Colaborative Governance“. Termasuk dalam merumuskan RPJMD dibutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah. Membangun pendidikan di Kabupaten Bima harus berpatokan pada RPJMD sebagai kompas pendidikan. 

"Pemerintah harus mensupport dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian dan inovasi,” ujar Muzakkir.

Untuk diketahui, STKIP Tamsis Bima melakukan langkah besar dengan menghidupkan iklim Ilmiah dengan mengadakan Seminar Nasional dengan tema, Percepatan Pembangunan Pendidikan, Ekonomi, Sosial Budaya Menuju NTB Gemilang dalam Menyongsong Era Industri 4.0. Kegiatan pertama di Pulau Sumbawa itu yang diikuti sekitar 100 peneliti dan pemakalah, baik internal maupun yang berasal berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia. Secara umum, setidaknya 500 peserta hadir dalam kegiatan “bernada” akademik tersebut. (Poros07)


Sejumlah Narasumber pada seminar Nasional di Auditorium Sudirman


Bima, Porosntb.com-STKIP Taman Siswa Bima melakukan langkah besar menghidupkan iklim Ilmiah dengan mengadakan “Seminar Nasional” pertama di Pulau Sumbawa. Pada kegiatan itu, 50 peneliti (Pemakalah Eksternal) dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia ikut ambil bagian. Kemudian sedikitnya 50 Peneliti Internal di STKIP Taman Siswa Bima dari dosen dan mahasiswa juga tak ingin ketinggalan untuk ambil peran pada kegiatan tersebut. Selain itu, acara yang digelar di auditorium Sudirman ini juga diikuti 500 peserta dari berbagai unsur, seperti  umum, dosen, dan mahasiswa. 

Sebagai Narasumber Utama dalam Seminar Nasional ini adalah Prof. Dr Hartono, M.Pd., Dr Bambang Subali, M.Pd., dan Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si, Sabtu (31/8/19).

Sebelum seminar dimulai, Panitia mengadakan acara pembukaan dengan beberapa sambutan, yakni dari Ketua STKIP Taman Siswa Bima Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., Dr Karyadin, M.Pd yang mewakili Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, dan Kepala Bappeda Ir Muzakkir, M.Sc yang mewakili Bupati Bima sekaligus membuka kegiatan Seminar Nasional. 

Panitia juga menyuguhkan penampilan tarian dari UKM Terompet Tamsis dan pertunjukan musik biola dari violinis muda, Fuadi pada pra acara untuk menghibur peserta seminar.

Dalam sambutannya, Ketua STKIP Tamsis Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si menjelaskan, kampus setempat terus melakukan percepatan pembangunan kualitas akademik dan non akademik. Seminar nasional ini merupakan sejarah baru yang menandai 12 tahun perjalanan kmous setempat. 

"Kegiatan Seminar semacam ini penting dilakukan untuk menggairahkan iklim ilmiah bagi para dosen dan mahasiswa. Amanat regulasi, bahwa selain dosen, para lulusan harus memiliki karya ilmiah atau artikel untuk dimuat di jurnal sebagai salah satu persyaratan kelulusan. Para mahasiswa juga dituntut untuk memiliki skill menulis, meneliti, dan soft skill lainnya," tuturnya. 

Para  dosen STKIP Tamsis sebagai pemakalah 


Dengan suksesnya seminar Nasional tahun ini, pihaknya akan menaikan level untuk menggelar seminar internasional pada 2020 mendatang. Dan kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan di kampus setempat. Kaena STKIP Tamsis sudah memiliki kerjasama dengan berbagai Universitas di Malaysia dan lainnya.

Sementara mewakili Dikbudpora, Dr Karyadin, M.Pd menjelaskan, kampus dan pemerintah harus bersinergi membangun pendidikan. Kampus sebagai mesin utama yang memproduk tenaga pendidik memiliki peran strategis untuk membangun pendidikan bersama pemerintah. Katanya, bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan tentu membutuhkan guru yang professional dengan menguasai empat kompetensi sekaligus. Yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi professional. 

"Pendidikan yang bermutu harus memenuhi 8 standar pendidikan dan diharapkan untuk melebihi standar tersebut," ujarnya.

Sedangkan mewakili Bupati Bima, Kepala Bappeda Ir Muzakkir, M.Sc, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si, yang terus melakukan kegiatan ilmiah. Ir Muzakkir sepakat dengan Dr Ibnu bahwa untuk percepatan pembangunan harus melakukan ‘Colaborative Governance’ termasuk dalam merumuskan RPJMD dibutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah. 

Katanya, dalam membangun pendidikan di Kabupaten Bima harus berpatokan pada RPJMD sebagai kompas pendidikan kita. "Pemerintah daerah diperbolehkan memberikan dana hibah buat kampus. Apalagi kampus dan para mahasiswa adalah bagian dari masyarakat daerah kita juga. Pemerintah harus mensupport dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian dan inovasi," tegasnya. 


Narasimber saat memaparkan materi

Sebagai Narasumber Utama Prof Dr Hartono, M.Pd memaparkan tentang pembelajaran di era revolusi industri 4.0. Katanya, Era Industri 1.0, 2.0, 3.0 dan sekarang 4.0 tak bisa dihindari dan harus siap menghadapinya agar tidak tertinggal dari bangsa lain. 

"Pada Era Industri 4.0 ini kita sering menghadapi banyak kemajuan dan perubahan seperti Mobile Banking, Driverless, transaksi online, dan lain-lain. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan, bahwa Era Industri 4.0 memiliki ciri, antara lain, Pertama, 75 persen pekerjaan melibatkan kemampuan sainteknologi, teknik, matematika, dan Internet of Things. Kedua, berbasis Cyber Physical System. Gabungan antara domain digital, fisik, dan biologi. Ketiga 55 persen organisasi mengatakan bahwa digital talent gap semakin melebar. Keempat, semakin pentingnya kecakapan sosial dalam bekerja," bebernya. 

Di tengah perkembangan teknologi dan inovasi, menurutnya respon masyarakat terhadap perubahan inovasi tersebut begitu beragam. Hanya 2,5 persen masyarakat yang menjadi innovators, 13,5 persen yang mudah adaptasi, 34 persen Early Majority sebagai pengikut awal yang langsung mau menerima perubahan, 34 persen Late Majority sebagai pengikut akhir yang terlambat menerima, dan 16 persen Lagards sebagai masyarakat yang tradisional yang sulit menerima perubahan inovasi. 

"Inovasi dan teknologi membawa kemudahan dan resiko yang kompleks sekaligus. Dengan teknologi dunia menjadi terikat dalam digital dan tidak ada batas geografis lagi," terangnya. 

Sambungnya, untuk menghadapi perubahan tersebut harus membekali diri dengan kemampuan menguasai IT, kemampuan berpikir kritis untuk pemecahan masalah, kemampuan komunikasi, kecakapan berkolaborasi, dan kreatif inovatif. Seorang guru atau dosen harus kompeten dan bertanggungjawab, mereka harus mau melatih, membiasakan, dan bahkan memaksakan hal baik bagi siswa atau mahasiswannya, tentu dengan program yang terencana dan terukur.

Susana seminar nasional


Sebagai Narasumber kedua, Dr Bambang Subali, M.Pd memaparkan tentang hasil penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Inovatif Sederhana Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah". Katanya, penggunaan alat peraga yang inovatif sederhana yang sesuai dengan kebutuhan siswa dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu konsep atau materi ajar. Untuk dapat membuat alat peraga yang inovatif, seorang dosen atau guru harus melakukan tiga hal, yaitu menciptakan, meniru, dan memodifikasi, tentu dengan tekad, motivasi, dan totalitas dalam bekerja.

"Agar kita dapat melahirkan gagasan untuk membuat alat peraga yang inovatif, dibutuhkan untuk melakukan beberapa hal antara lain, melakukan observasi di sekolah atau di kelas untuk mengetahui data yang sebenarnya mengenai apa yang dibutuhkan oleh sekolah dan siswa. Mengikuti berbagai seminar, lakakarya, workshop dan pelatihan pembuatan alat peraga, serta berdiskusi dengan sesama atau bertanya kepada yang ahli di bidangnya. Dalam mengikuti penelitian dan pengabdian hibah, sudah biasa gagal atau ditolak berkali-kali, tapi kuncinya kita harus terus mencoba dan totalitas untuk fokus, dan Alhamdulillah sukses juga akhirnya," tuturnya. 

Sebagai Narasumber Ketiga, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si membahas tentang Percepatan Sadar Literasi. Katanya, bahwa kondisi pendidikan di Kabupaten Bima yang memiliki peringkat 7/8 di NTB perlu ada percepatan atau gerakan sadar literasi dari semua pihak. Terutama difasilitasi oleh pemerintah, dan didukung oleh perguruan tinggi, sekolah, swasta, dan para penggiat literasi. 

"Pemerintah harus mulai membangun perpustakaan yang memadai untuk menyediakan buku yang berkualitas, jurnal, dan karya ilmiah yang dapat dibaca atau diakses oleh siswa, mahasiswa dan masyarakat luas. Pemerintah juga harus mensupport para penggiat literasi dan membantu perpustakaan desa setiap tahun anggaran, agar minat baca dan geliat literasi massif di seluruh kabupaten Bima," tegasnya.

Sementara makalah-makalah yang telah dipresentasi oleh para peneliti tersebut akan dimasukan dalam pro sidang, online jurnal sistem, akan diseleksi masuk jurnal terakreditasi, kampus Universitas Negeri Semarang, google scholar dan publikasi lainnya. 

Selain itu para pemakalah berasal dari Aceh, Manado, Makassar, Jakarta, Mataram. (poros07)


Bima, Poros NTB.- Pembangunan mushola Al – Amin Desa Ragi Kecamatan Palibelo ditandai peletakan batu pertama oleh Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE. kegiatan tersebut dihadiri oleh Kabag Humas dan Protokol Setda Bima, Para Kepala OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Bima, Camat Palibelo beserta perangkatnya, warga masyarakat desa ragi kecamatan Palibelo serta panitia pelaksana pembangunan masjid, pada hari Sabtu ( 31/8).

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE dalam arahan mengatakan bahwa dengan dilakukanya peletakan batu pertama pembangunan musholla ini kedepannya warga masyarakat dapat memanfaatkan sarana dan prasarana musholla tersebut dengan melakukan kegiatan sholat 5 (lima) waktu sehari semalam serta kegiatan keagamaan lainnya, sehingga keberadaan musholla ini dapat bermanfaat bagi kita selaku umat muslim.

Oleh karenanya keberadaan musholla ini harus dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya terutama di bidang keagamaan  sehingga syiar islam di desa Ragi akan menggema dan mengumandangkan asma Allah.

Dengan dilaksanakanya pembangunan musholla Al – Amin ini mari kita selaku warga masyarakat desa Ragi kecamatan Palibelo agar kita kawal bersama pembangunanya sehingga pada saatnya nanti pembangunan mushola tersebut dapat kita manfaatkan secara bersama – sama. Ujarnya.

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE berharap selain sebagai tempat ibadah, musholla ini dapat dimanfaatkan dengan kegiatan keagamaan sehingga 2 (dua) program Pemerintah Daerah yang kami laksanakan dapat dirasakan oleh warga masyarakat yaitu program jum’at khusyu dan membumikan Al – Qur’an.

Momentum tersebut selain melakukan peletakan batu pertama, Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE secara pribadi menyerahkan bantuan dana Rp. 5 Juta untuk kelanjutan pembangunan musholla tersebut yang diterima oleh panitia pembangunan musholla Al – Amin yaitu bapak Drs. A. Rajak. (Poros06/hum)


Bima, Poros NTB.- Dalam konsep pembangunan ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan yaitu Pemerintah, Masyarakat dan Dunia Usaha. Demikian ungkapan Dr. Syarif Ahmad, SE, M.Si pada saat menjadi narasumber dari kegiatan seminar Pembangunan Kabupaten Bima.

Menurut beliau, ketiga konsep pembangunan ini memiliki keterkaitan yang sangat erat. Perencanaan adalah sebuah proses yang dinamis dan dalam mempersiapkan atau menentukan kondisi yang lebih baik di masa mendatang. Dimana perencanaan ini merupakan proses untuk menentukan tindakan di masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Perencanaan dapat dikatakan memiliki kaitan yang erat pembangunan karena hasil dari perencanaan dapat dilihat dari pembangunan yang dilakukan. Sebagaimana perencanaan, pembangunan merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak terlepas dari pemanfaatan sumber daya. Pandangan mengenai pembangunan pada awalnya seringkali hanya memperhitungkan pembangunan fisik dan peningkatan produktifitas dan perekonomian (PDRB, Pendapatan Perkapita, dll) sebagai indikator pembangunan.

Seiring berjalannya waktu, pandangan pembangunan secara konvensional yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi lama kelamaan tidak lagi sesuai seiring dengan semakin berkurangnya ketersediaan sumberdaya tak terbarukan serta degradasi lingkungan akibat eksploitasi faktor produksi serta gaya konsumsi yang berlebihan. Dampak dari model pembangunan yang tidak memperdulikan kelestarian alam dapat dilihat dan dirasakan secara langsung seperti kekeringan, banjir, serta meningkatnya suhu secara global.

Kesadaran akan pentingnya sebuah pembangunan disadari tidak hanya berhubungan dengan peningkatan ekonomi, tetapi juga isu lingkungan dan sosial. Isu ini kemudian mendorong lahirnya konsep pembangunan yang belakngan disebut pembangunan berkelanjutan  sebagai proses pembangunan yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. 

Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar utama yang menjadi kunci dalam pelaksanaannya yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan pembangunan berkelanjutan. Sementara itu sasaran pembangunan berkelanjutan mencakup pada upaya untuk mewujudkan terjadinya, pemerataan manfaat hasil-hasil pembangunan antar generasi (intergeneration equity) yang berarti bahwa pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan pertumbuhan perlu memperhatikan batas-batas yang wajar dalam kendali ekosistem atau sistem lingkungan serta diarahkan pada sumber daya alam replaceable dan menekankan serendah mungkin eksploitasi sumber daya alam irreplaceable. Pengamanan terhadap kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup yang ada dan pencegahan terjadi gangguan ekosistem dalam rangka menjamin kualitas kehidupan tetap baik bagi generasi mendatang.  pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam semata untuk kepentingan mengejar pertumbuhan ekonomi demi kepentingan pemerataan pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan antargenerasi.  mempertahankan kesejahteraan rakyat (masyarakat) yang berkelanjutan baik masa kini maupun masa yang mendatang (inter temporal). mempertahankan manfaat pembangunan ataupun pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang mempunyai dampak manfaat jangka panjang ataupun lestari antargenerasi.  menjaga mutu ataupun kualitas kehidupan manusia antargenerasi sesuai dengan habitatnya.

Diharapkan dengan adanya konsep pembangunan tersebut kedepanya sebuah Perencanaan dapat dikatakan memiliki kaitan yang erat pembangunan karena hasil dari perencanaan dapat dilihat dari pembangunan yang dilakukan. Sebagaimana perencanaan, pembangunan merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak terlepas dari pemanfaatan sumber daya. (Poros06/hum)


Bima, Poros NTB.- Tahun ini Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kabupaten Bima mengikuti Pameran The 17 th NTB EXPO 2019 yang berlangsung selama lima hari tanggal 29 Agustus sampai dengan  02 September 2019 di Komplek Islamic Centre (IC) NTB

Kepala DPMPTSP Kabupaten Bima Drs. Agus Salim M.Si Kamis (29/8) mengatakan,  NTB EXPO 2019 diselenggarakan untuk mendukung kebangkitan UKM di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan memperluas akses pasar produk unggulan daerah. Juga dalam rangkaian memperingati Hari UMKM Nasional ke-4 tanggal 12 Agustus 2019, memperingati HUT RI ke-74 tanggal 17 Agustus Tahun 2019 serta dalam rangka mendukung penyelenggaraan Symposium Asia Pasific Network (APGN) ke-6 Tahun 2019.

Dijelaskanya, event akbar yang berlangsung selama lima hari dan dibuka secara resmi oleh Gubernur NTB di Komplek Islamic Centre (IC) NTB ini melibatkan para pelaku usaha (Sellers dan Buyers) dan investor dari seluruh Indonesia dengan potensi pengunjung lebih dari 15.000 orang.

“Disamping memamerkan  informasi potensi dan peluang investasi di kabupaten Bima, Stand DPMPTSP yang bermitra dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Bima juga menampilkan beragam  komoditi yang merupakan potensi unggulan di Kabupaten Bima seperti , bibit bawag merah, bibit bawang putih, berbagai jahe bubuk, susu kuda liar  dan beragam  produk pangan lainnya serta produk olahan  seperti bandeng presto dan lain sebagainya “Ungkap Agus.
                   
Ditambahkan Agus Salim, DPMPTSP  kabupaten Bima juga ikut berpartisipasi pada NTB Expo tahun ini dengan menggandeng beberapa UKM  untuk mempromosikan usahanya.

“Keikut sertaan UKM  merupakan wujud dari komitmen DPMPTSP dala upaya promosi penanaman modal dan fasilitasi usaha kecil dan menengah. Targetnya adalah supya ada perluasan pasar UKM dan  kerjasama usaha kecil dan menengah dengan pengusaha besar,” Jelasnya.


Selain DPMPTSP, Perangkat daerah lainnya  yang berpartisipasi pada NTB Expo tahun ini yaitu Dinas Koperasi dan Dinas Perindag. (Poros06/hum)


Bima, Poros NTB.- Untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan tahapan pembangunan dan revitalisasi Pasar Woha III, Dinas Perindusrian dan Perdagangan Kabupaten Bima  melakukan kegiatan sosialiasi kepada para pedagang Rabu (28/8) di Aula Kantor Camat Woha.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bima Drs.H. Arifudin HMY dalam sambutannya mengatakan Pemerintah terus berupaya agar pasar Woha menjadi pusat perdagangan di kabupaten Bima dan mendukung distribusi barang ke kecamatan sekitar.

Dihadapan 40 orang pedagang, H. Arifudin menghimbau agar mendukung pelaksanaan pembangunan pasar dan setelah pasar selesai dibangun, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya serta menjaga kebersihan dan ketertiban areal pasar. 

“Kepada para pedagang yang terkena dampak agar bersabar dan secara sukarela melakukan relokasi ke tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah”. Harapnya.
Kepala Bidang Perindustrian Juraidin ST, M.Si mengatakan, Sosialiasi tersebut berlangsung di Aula Kantor Camat Woha dengan menghadirkan narasumber Kabag Administrasi Perekonomian Setda, Ketua TP4D dan Kabid Perindustrian Dinas Perindag Kabupaten Bima.

Sosialisasi  pembangunan/revitalisasi Pasar Woha III tahun 2019 kepada para pedagang ini merupakan langkah awal yanag akan dilanjutkan dengan proses lelang yang akan berlangsung  tanggal 30 Agustus sampai dengan 13 September  2019 mendatang.  Diharapkan tahap pembangunan dapat dilakukan selama 110 hari kalender mulai  tanggal 13 september  sampai dengan 30 Desember 2019. 

Dijelaskan Juraidin, “pasar yang akan dibangun tahun ini menyerap dana senilai Rp 4 miliar yang bersumber dari Alokasi Dana Tugas Pembantuan  APBN Tahun Anggaran 2019”. Luas Bangunan yang direncanakan  ±  1.145,5 m² mampu menampung  sebanyak ± 104 pedagang dengan berbagai jenis dagangan yaitu pedagang sembako, Buah-buahan, sayur-sayuran, bumbu dan kebutuhan lainnya”.

Alumni Pascasarjana Teknologi Industri Unhas Makassar ini berharap, pasca pembangunan Pasar Woha III, para padagang dapat memanfaatkan areal pasar yang representatif, aman, nyaman, bersih, tertata dengan baik sehingga jauh dari kesan kumuh.

Aspek lain yang diharapkan akan mningkatkan iklim  usaha yang baik, meningkatkan dan memperlancar arus distribusi barang serta meningkatkan daya saing dan optimalisasi pasar tradisional menghadapi persaingan dengan pasar modern yang bermuara pada meningkatnya pendapatan masyarakat setempat serta  Pendapatan Asli Daerah (PAD). (Poros06/kom)

20 WB PKBM Suya Cipta Mandiri Desa Tolotangga sedang mengikuti KBM perdana Keaksaraan Dasar, Sabtu (31/9/19)
Bima, Poros NTB.- Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Cipta Karya Mandiri yang berlokasi di Desa Tolotangga Kecamatan Monta, mulai menjalankan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), Sabtu (31/8/19).

KBM Keaksaraan Dasar perdana ini diikuti oleh 20 Warga Belajar yang bertempat di RT.02 RW.01 Dusun Kambu’u, yakni yang tergabung dalam Kelompok 3 dan Kelompok 4 keaksaraan dasar, dengan melibatkan 2 tenaga tutor. Yakni, Nurhidayah S.Pt dan Usfan, S.Pt.

20 orang WB yang mengikuti KBM tersebut terlihat antusias mengikuti proses KBM, yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan sehingga para WB tidak merasa jenuh.

Diketahui, PKBM yang diketuai oleh Sulaiman, ST Tahun 2019 ini menampung WB Keaksaraan Dasar sebanyak 150 orang dan melibatkan 15 orang tutor.


Salah seorang WB, Fatmawati (P/22), mengatakan sangat senang dengan adanya program pemerintah dalam upaya memberantas buta aksara ini. Pasalnya, kata dia, mereka yang sebelumnya tidak bisa membaca, kini sudah mulai dikenalkan dengan huruf dan cara mengejanya.

“Malu ya jaman sekarang tidak bisa membaca. Apalagi kalau bisa membaca, kan banyak manfaatnya,” ujar Fatma dalam Bahasa Bima.

“Setidaknya, kami tidak lagi merasa canggung karena kami  minimal akan bisa membaca. Walaupun dengan proses yang panjang.,” ungkapnya lagi masih dalam bahasa yang sama.

Sementara itu, salah satu turot, Nurhidayah, S.Pt, merasa yakin, dengan adanya Program Keaksaraan Dasar yang dijalankan PKBM Cipta Karya Mandiri ini, akan mampu memberantas buta aksara khususnya di Desa Tolotangga. Selain itu, lanjutnya, akan dapat menciptakan semacam Industri Rumahan di kalangan ibu-ibu yang masih menyandang Buta Aksara. Dicontohkannya, seperti pembuatan susu kedelai dan menjahit.

“Ini bisa meningkatkan ekonomi dan masyarakat khususnya ibu-ibu tidak lagi mengandalkan hasil pertanian semata untuk menopang kehidupan ekonomi keluarganya atau hanya sekedar mengurus rumah tangga saja.” Ujarnya.

Selain itu Nurhidayah merasa “berguna” bagi masyarakat. Karena  dengan terlibatnya adanya PKBM ini kini merasa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain.

“Sekaligus bisa menjadi wahana untuk menyumbangkan ilmu yang kita dapat di bangku kuliah. Meski secara akademik, saya jurusan non pendidikan, tapi saya rasa cukup memadai untuk memandu WB dalam program keaksaraan dasar ini.” Katanya sembari senyum tipis.

Dia berharap kepada Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, agar program ini bisa berkelanjutan. Sehingga masyarakat yang belum sempat tertampung Tahun 2019 ini, kedepannya dapat tertampung.

“Mudah-mudahan, Pemerintah Kabupaten Bima, membangun sarana dan prasarana yang layak. Mengingat antusiasme WB yg begitu tinggi,” harap Tutor jebolan Unram Sarjana Peternakan ini.

Ia sendiri meyakini, Pemerintah Daerah lewat Bupati, Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE, dan Wakil Bupati, Drs. H. Dahlan M. Noer,  sangat mengatensi program semacam pemberantasan Buta Aksara ini.

Selain itu, WB juga mengungkapkan keinginannya, agar Bupati dan Wakil Bupati, jika berkesempatan, bisa hadir langsung untuk melihat Proses KBM di PKBM Cipta Karya Mandiri.

Kehadirin Bupati dan Wakil Bupati ini, tentunya akan sangat bermakna untuk menggenjot semangat belajar bagi para WB. Baik dalam program Keaksaraan Dasar maupun Program Home Industry” bagi para ibu-ibu.

Tapi secara keseluruhan, saat ini, hadirnya program yang ada, para WB sudah sangat berterima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Bima.

Terkait Ketua PKBM Cipta Karya Mandiri, di mata para WB dan Tutor, adalah merupakan sosok yang sangat konsisiten dalam menjalankan setiap program yang diembankan kepadanya. Ia dikenal orang yang memiliki komitmen yang kuat untuk medayagunakan setiap rupiah anggaran untuk menuntaskan programnya.

"Oiya, Kabid Himpaudni, Drs Chairunas, Mpd, beserta jajaran anggota Forum PKBM Kabupaten Bima yang berkesempatan hadir langsung untuk bersoalisasi dengan WB kemarin, kami juga mengucapkan terima kasih,” pungkas Nurhidayah.(Poros06/ADV).



Oleh: Muammar

(Mahasiswa Pascasarjana & Peneliti Research Institute UMM)

Welcome to the jungle: Indonesia picks site for new capital city. Begitulah judul berita di muka depan surat kabar internasional The Washinton Post pada tanggal 26/8. Pemilihan judul tersebut bukanlah tanpa alasan oleh pihak media tersebut, hal ini dikerenakan pemindahan ibu kota ke pulau Kalimantan sangatlah mengkawatirkan terhadap sosio masyarakat dan permasalahan lingkungan.
Pulau Kalimantan yang terkenal dengan hutan rimbanya sebagai salah satu penyuplai oksiken terbesar di dunia akan disulap menjadi ibu kota negara. Pemilihan letak ibu kota baru yang terletak pada pada kawasan konservasi Bukit Soeharto yang merupakan rumah bagi banyak spesies makhluk hidup lainnya. kepadatan, adalah salah satu alasan pemerintah dalam mengambil kebijakan pemindahan ibu kota. Selain itu, masalah Jakarta tenggelam adalah alasan paling terbesar  yang menjadi dasar pemindahan ibu kota. Namun seharusnya pemerintah tidaklah meninggalkan Jakarta begitu saja, namun pemerintah dapat memfokuskan perhatiannya pada menyelesaikan masalah-masalah yang di hadapi Jakarta, dengan begitu masihkah perlu Indonesia memindahkan ibu kotanya? Dan pula, apakah Kalimantan siap untuk menjadi New Capital City Indonesia?
Pemindahan ibu kota ke pulau Kalimantan tidak hanya berdampak pada sebuah kawasan yang telah menjadi rumah untuk banyak spesies, pembangunan ibu kota baru juga tentu berpengaruh bagi masyarakat, baik positif maupun negative. Akan ada perubahan drastis terhadap masyarakat lokal, walaupun pemerintah daerahmengaku senang dan siap menjadi warga ibu kota, akan tetapi, dibalik itu semua, kesiapan warga lokal masih perlu dipertanyakan. Dan pemerintah juga harus segera mengambil peran dalam hal ini. Karena, langkah penyiapan masyarakat perlulah dimulai secepat mungkin agar masyarakat lokal mampu menerima perubahan tanpa gejolak sosial yang berarti.
 Selain itu, pemindahan ibu kota sejatinya membutuhkan lahan yang sangatlah besar yang membawa dampak lingkungan . Taman Hutan Rakyat Bukit Soeharto yang disinyalir menjadi lokasi ibu kota baru, merupakan penyangga cadangan air untuk empat kota utama di Kalimantan Timur, yakni Balikpapan, Samarinda, Panajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara. Perubahan status peruntukan wilayah tersebut sangatlah mengkhawatirkan terhadap warga masyarakat setempat. Apalagi pemindahan ibu kota juga seiring dengan mobilisasi 870.000 aparatur sipil negara ke Kalimantan Timur, pertambahan penduduk sebanyak ini merupakan masalah yang akan muncul, karena membutuhkan pasokan air bersih yang sangat banyak perharinya.
Selain itu, beberapa waktu yang lalu dalam pertemuan di Paris France, Indonesia berkomitmen menyerap I Milyar ton CO2 lewat pemberdayaan potensi hutannya. Jadi apabila pemindahan ibu kota ke Bukit Soeharto terjadi, maka seharusnya pemerintah haruslah melakukan pengkajian ulang untuk hal itu. Sehingga pemindahan ibu kota baru tidak menghadirkan masalah baru, apabila pemindahan ibu kota oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah, maka pemilihan lahan terlantar bekas pertambangan 2,4 juta hektak sangatlah produktif, karena sekaligus dapat mengetaskan masalah lingkungan yang merupakan akibat dari kesalahan pemerintah ini sendiri.
Selain perdebatan  persoalan dampak Sosial-Ekologis akibat pemindahan ibu kota, persoalan pembiayaan dan ketersediaan anggaran jugalah persoalan kontroversi seputar rencana relokasi ibu kota. Bagaimana kita membiayai pemindahan ibu kota? Adalah pertanyaan yang muncul dalam percakapan publik baru-baru ini, rencana pemindahan ibu kota, yang meliputi proses perpindahan serta pembangunan infrastruktur pendukung dan pusat ekonomi di perkirakan akan menelan biaya Rp. 466 Triliun. Penggunaa anggaran yang begitu besar disaat roda perekonomian Indonesia yang jauh dari stabil sangatlah mengkhawatirkan, David Henley (Laiden University) mengatakan bahwa kebijakan pemindahan Ibu Kota Indonesia belum saatnya dilakukan dan hal tersebut hanyanya akan terjadi pemborosan uang negara, kerena masih ada permasalahan lain yang harus di perhatikan dan jauh lebih baik dana yang mencapai Rp.466 Triliun ini di alokasikan untuk beberapa sektor guna mendorong perekonomian yang lebih baik.
Perbandingan pengalaman negara-negara lain, mungkin dapat memberikan kita ilustrasi dan imajinasi yang lebih baik tentang implikasi pemindahan ibu kota. Brasilia adalah contohnya, ibu kota brazil sejak tahun 1960 yang menggantikan posisi Rio de Janeiro. Dengan membangun ibu kota baru, pemerintah brazil berharap bisa mendistribusikan kembali hasil atau manfaat pembangunan ke berbagai penjuru negeri. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu.konflik tanah antara pendatang dengan warga lokal dan negara terus bermunculan dan tidak berkesudahan. Brasilia lantas menjadi bukti bahwa pembangunan ibu kota baru tidak secara otomatis mewujudkan pembangunan yang lebih adil, justru pembangunan ibu kota baru telah membangun permasalahan baru. (*)

Pelaku, bernama alias Bobi, saat diamankan Kepolisian Sektor Monta

Bima, Poros NTB.- Nasib nahas menimpa Ajhar alias Kacung, warga Desa Waro Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Ia terpaksa harus dilarikan ke Puskesmas Monta untuk mendapatkan penanganan medis, setelah menderita luka bacokan dari adik iparnya sendiri, yang bernama alias Bobi (19).

Kejadian yang berlangsung Kamis (29/8/19) kemarin itu berawal dari cekcok mulut antara Kacung dengan isterinya, berinisial Y.

Beberapa saat terlibat cekcok mulut, nampaknya Kacung tak mampu lagi menahan sabar dan langsung memukul isterinya.

Rupanya aksi pemukulan yang bersifat KDRT yang dilakukannya itu tidak diterima baik oleh mertuanya, Jubaidah, dan langsung menegur Kacung karena sampai memukul anaknya.

Nahasnya, Kacung bukannya merasa bersalah mendapat teguran dari mertua. Ia malah balas memaki mertuanya sendiri.

Sementara itu adik iparnya, Bobi (adik Y), mendengar cacian dan makian kasar yang ditujukan kepada ibu kandungnya langsung kalap.

Akhirnya, Bobi langsung membacok Kacung dengan menggunakan sebilah pisau secara bertubi-tubi.

“Bagian pundak kanan korban (Kacung) dibacok satu kali, bagian leher kanan satu kali, kepala satu kali dan bagian punggung belakang satu kali,” ungkap sumber dari Kepolisian Sektor Monta.


Akibat luka-luka yang dideritanya, Kacung langsung dibawa ke Puskesmas Monta untuk mendapatkan penanganan medis.

Semenara Bobi langsung diamankan oleh personil Kepolisian Monta untuk mempertanggung-jawabkan aksi pembacokannya tersebut (Poros06)


Bima, Poros NTB.- Kepala Bidang Paud Dikbudpora Kabupaten Bima, Drs. Chairunnas, MPd, membuka secara resmi Program Keaksaraan Dasar TA 2019 yang dikelola oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) CIPTA KARYA MANDIRI yang berlokasi di Desa Tolotangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima, Kamis (29/8/19) kemarin di kediaman Ketua PKBM, Sulaiman, MT.

Kegiatan ini ikut dihadiri juga oleh PJ. Kepala Desa Tolotangga, Syarifurrahman, ST, Ketua Forum PKBM Kabupaten Bima, M. Salahuddin, SE bersama beberapa pengurus lainnya, beserta sejumlah Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan Ketua Karang Taruna Desa Tolotangga, Ediman H. Marwan.

Kehadiran Kabid PAUD Dikbudpora Kabupaten Bima, yang akrab disapa Dae Ko’o ini, disambut hangat oleh seluruh hadirin yang ada di lokasi Kegiatan.

Ketua PKBM terkait, Sulaiman ST, dalam penyampaiannya, menyebut, untuk Tahun 2019 ini, PKBM yang dikelolanya menampung sebanyak 150 Warga Belajar (WB) dan 15 totur.

“Tapi masih ada satu dusun yang belum disentuh. Yakni, Dusun Wane,” ujar Sulaiman.

Meski warga Dusun Wane sendiri sangat antusias ingin ikut serta dalam Program Keaksaraan ini, namun kata dia, akibat kurangnya anggaran, pihaknya hanya mampu menampung 150 WB.

Karena itu dia berharap, kedepannya dinas terkait bisa mempertimbangkan untuk menggelontorkan bantuan anggaran yang lebih besar lagi.

“Karena mengingat warga Desa Tolotangga, masih banyak yang membutuhkan program seperti ini,” ungkapnya.

Meski begitu, Sulaiman, merasa bersyukur karena diberikan kepercayaan mengelola anggaran untuk menjalankan program PKBM yang ia kelola. “Terima kasih kepada Kabid PAUD dan Ketua Forum PKBM Kabupaten Bima yang telah berjuang untuk memberantas buta huruf atau buta aksara di desanya,” ungkap dia.

Di tengah penyampaiannya, Sulaiman berseloroh menanyakan kepada para Tutor. Dia menanyakan, apakah para tutor yang direkrutnya mampu menjalankan tugas dengan baik? “Kalau tidak saya tidak akan menjemput anggaran pemerintah,” selorohnya, disambut tawa hadirin.

Ditambahkan Sulaiman, bahwa apa yang diusahakan oleh PKBM Cipta Karya Mandiri adalah upaya murni untuk memberantas buta aksara di Desa Tolotangga yang dicintainya.

Sementara itu, di kesempatan yang sama, Pj Kades Tolotangga, Syarifurrahman, ST, menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Dinas Dikpudpora yang telah memperhatikan warga Desa Tolotangga yang menurutnya masih banyak yang tergolong buta aksara.

 “Dengan adanya program seperti ini, Inshaa Allah,  warga kami akan terbebas dari buta aksara,” ujar Kades.

Dia juga mengatakan, bahwa PKBM Cipta Karya Mandiri sudah mencetak beberapa murid yang sudah mendapat Paket A, B, dan C.

“Kita juga berharap kepada Pak Kabid (PAUD) untuk membantu dalam hal sarana. Tapi dengan yang ada sekarang ini, kami sudah sangat berterima kasih,” tukasnya ikut memperkuat harapan Ketua PKBM, agar Tahun berikutnya, anggaran untuk PKBM di Desa yang kini diampunya bisa ditambah.

Kabid PAUD sendiri, Drs Chairunas, M.Pd dalam sambutannya, menekankan, agar PKBM yang mendapatkan anggaran bisa menjalankan programnya dengan baik dan benar sebagaimana aturan main yang termaktub dalam Juklat dan Juknis.

“Apabila ditemukan PKBM yang keluar dari aturan, maka laporkan saja kepada dinas Dikbudpora Kabupaten Bima.” Tegasnya.

Ia mengingatkan, bahwa untuk Lanjutan dari kegiatan ini, (WB) harus mendapatkan Surat Melek Aksara (SUKMA). Dan untuk mendapatkan itu, lanjutnya, harus mendapat nilai minimal 50.

Setelah itu, lanjutnya, WB akan mendapatkan Keaksaran Usaha Madiri (KUM) minimal 10 kelompok.

Pemerintah Daerah saat ini, lanjut Chairunnas, benar-benar serius memperhatikan program keaksaraan.

“Tiap PKBM harus ada PKBM contoh. Dan kita akan terus berjuang untuk membebaskan masyarakat dari buta aksara,” ungkapnya.

“Berapa uang yang diberikan oleh Sulaiman (Pimpinan PKBM),” Tanya Chairunnas selanjutnya kepada para WB.

“Kami tidak butuh uang, kami butuh ilmu,” jawab para WB, yang disambut dengan aplaus.

Pantauan media ini, kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana yang penuh keakraban dan kekeluargaan, sesekali diselingi dengan canda tawa yang hangat dalam interaksi antara para pembicara dengan audiens yang hadir (Poros06/ADV)

Dari kiri ke kanan, Ketua Bidang Studi Smart Class, Junaidin, S.Pd, Kepala Sekolah SMPN 1 Woha, Drs, Mukhtar Pua, Wali Kelas Smart Class, Wahidin, S.Pd, saat berpose di ruang Kepala Sekolah, Kamis (29/8/2019)
Bima, Poros NTB.- Sebagai salah satu sekolah model di Kabupaten Bima, SMPN 1 Woha kini tengah membentuk Kelas Model “Smart Class”, yang menurut Kepala SMPN 1 Woha, Drs. Mukhtar Pua, saat ini tengah memasuki tahap akhir seleksi siswa yang akan tergabung dalam model dimaksud.

Lahirnya inisiatif untuk membentuk Smart Class ini sendiri, lanjut Mukhtar, adalah untuk merealisasikan rencana program Pemerintah Kabupaten Bima tentang 20 Revolusi Gerakan Pendidikan.

“Jadi salah satunya, satu sekolah wajib ada satu (model) Smart Class. Apa yang diajarkan di Smart Class itu, tergantung pada masing-masing sekolah yang meramunya. Mungkin di sekolah lain ingin (mengajarkan) Bahasa Inggris, Indonesia, atau Arab. Tapi untuk di SMPN 1 Woha, kita memilih Bahasa Inggris Pola Kursus, TIK Pola Kursus, dan Hafis Juz 30,” paparnya, saat ditemui di Ruang Guru SMPN 1 Woha, Kamis (29/8/19).

Dalam satu Smart Classroom akan memuat 36 siswa, yang nantinya, imbuh Mukhtar, akan diajarkan dengan sistim computer.

Rencana pembentukan Kelas Model Smart Class ini, telah digagas oleh Mukhtar sejak pendaftaran siswa baru dimulai. Dengan cara menyeleksi siswa baru berdasarkan nilai NEM SD siswa yang tertinggi.

“Kita kumpulkan nilai tertinggi lalu ditest, dipadukan dengan nilai NEMnya di SD. Diambillah yang terbaik,” terangnya.

Lanjut Mukhtar, ada 82 orang siswa yang dijaring dalam seleksi awal. Setelah ditest, yang lolos seleksi kemudian berjumlah 40 orang, dimana nantinya mengerucut pata 36 siswa Kelas VII saja. Karena Smart Class ini baru dirintis Tahun 2019 ini.

Nantinya, setelah naik ke Kelas VIII akan tetap mengikuti Smart Class. “Nanti waktu pendaftaran kelas 1 (VII) akan kembali dijaring 36 siswa lagi untuk mengisi smart Kelas di kelas 1. Sementara yang kelas 1 sekarang saat naik kelas 2 akan tetap mengikuti Smart Class. Untuk kelas 3 tidak ada, karena hanya sampai Kelas 2,” urai Mukhtar lebih lanjut.

Terkait KBM, disebutkannya siswa Kelas VII akan tetap mengikuti KBM regular seperti biasa. Yakni, mulai pagi hingga jam pulang sekolah Pukul 12.15 Wita. setelah itu, siswa yang mengikuti Smart Class setelah makan, istirahat, dan sholat, akan memasuki Smart Classroom hingga Pukul 15.00 Wita, yang akan dijadwalkan 4 kali dalam seminggu. Yakni Hari Senin sampai Kamis.

Akibat adanya Smart Class ini, siswa Kelas VII yang biasanya masuk sore hari, akan ditarik masuk pagi.

“Sekarang nama-nama 36 siswa yang lolos seleksi akhir sudah ada. Tinggal besok (Jum’at, 30/8/19) kita panggil orang tuanya untuk mensosialisasikan tentang model Smart Class ini. September ini sudah mulai berjalan. Minggu pertama (September) mereka (siswa Smart Class) sudah pisah,” Cetus Mukhtar.

Rencananya, agenda pertemuan dengan orang tua siswa ini selain untuk mensosialisasikan terkait model Smart Class, juga untuk membahas masalah akan adanya tambahan biaya.  
“Sebab, anak-anak akan makan di sekolah dan lainnya. Nanti akan ada tambahan biaya yang akan dibahas dengan orang tua murid. Harus, sebab ini yang mengajar kan di luar jam dinas, jadi harus ada semacam insentif,” kata Mukhtar.

“Mereka masuk di tempat lain saja bayar sekitar 300 ribu per bulan. Tapi saya nggak akan minta sebanyak itu. Karena nantinya akan berjalan berbarengan, dana BOS sebagian, dan sumbangsih orang tua murid sebagian,” imbuhnya membandingkan.

“Yang pasti kita akan buat siswa Smart Class ini senyaman mungkin. Ruangannya akan kita instalasi dengan piranti computer, ada tempat minumnya, pokoknya kita buat mereka nyaman. Baik dari sarana maupun dari sisi teknik mengajarnya,” kata dia lagi

Karena Smart Class ini dalam proses KBM-nya akan menggunakan Pendekatan Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, atau yang biasa disingkat PAKEM.

Menyinggung Hasil akhir yang diharapkan dari siswa Smart Class ini, Mukhtar mengatakan dalam jangka panjang, siswa yang lulus dari SMPN 1 Woha tentunya memiliki bekal berupa “Life Skill” yang memadai atau kemampuan dasar yang mumpuni untuk menjejaki jenjang pendidikan selanjutnya.

“Jadi ada siswa yang sudah mahir computer, ada siswa yang sudah pintar bahasa inggris, ada siswa yang hafal juz 30,” harapnya.

Sementara untuk tujuan jangka pendeknya, menurut Mukhtar, dengan adanya model Smart Class ini, SMPN 1 Woha akan memiliki siswa-siswa yang “Siap Pakai”.

Siap pakai yang dimaksudnya adalah, jika ada lomba-lomba yang melibatkan siswa Tingkat SMP, maka SMPN 1 Woha sudah memiliki siswa Smart Class untuk diutus. “Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi. Kalau ada lomba-lomba semacam olimpiade, lomba Dai, atau lomba Bidang Studi kita tinggal utus mereka ini,” ujarnya.

Senada dengan Kepsek, Ketua Bidang Studi Smart Class, Jainuddin, S.Pd, menyatakan tujuan utamanya yakni untuk melahirkan siswa-siswa yang memiliki “kemampuan lebih”. “Sehingga jika ada kegiatan lomba apapun, mereka siap semua,” ujarnya menimpali.

“Misalnya terkait kegiatan Imtaq, debat-debat bahasa inggris. Jadi sesuai dengan kompetensi yang diajarkan di Smart Class,” imbuhnya.

Terkait tenaga pengajar, untuk Pelajaran Bahasa Inggris pola kursus, akan ditangani oleh guru internal SMPN 1 Woha. Yakni akan dikoordinir langsung oleh Wali Kelas Smart Class, Wahidin, S.Pd, yang juga merupakan guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris.

“Begitu pula untuk TIK kita akan pakai guru sendiri. Karena guru SMPN 1 Woha ini, syarat utamanya dalam mengajar harus menguasai computer. Jadi kita tidak susah kalau untuk TIK,” terang Mukhtar.

Yang menurutnya masih ada pertimbangan untuk mengambil  orang luar sebagai tenaga pengajar, yaitu pelajaran Hafis juz 30. Meski ada guru sendiri yang berpotensi untuk mengajar, namun dikhawatirkannya tidak maksimal.

“Untuk pelajaran Hafis Alkuran, kalau memang guru internal sekolah kurang, maka akan dipanggil orang luar. Sudah ada Qori juara 1 Kabupaten yang sudah saya tarik dan ada guru yang hafis alkuran yang memang mengajar di sekolah ini,” ungkapnya.

“Mungkin metode hafalannya, cara hafalannya, kalau guru internal mampu memanage itu, ya saya tidak akan panggil orang luar. Tapi kalau tidak mampu akan kita pakai orang luar sesuai dengan kebutuhan,” pungkas Mukhtar.

Untuk diketahui, SMPN 1 Woha merupakan sekolah di Kabupaten Bima yang menjadi pioneer atau yang mengawali Kelas Model “Smart Class” yang dijadwalkan berjalan minggu pertama September ini. Pihak Dikbudpora Kabupaten Bima sendiri baru akan melaunching Smart Class ini pada Bulan Oktober. Tapi nampaknya Kepala Sekolah SMPN 1 Woha ingin berinovasi lebih awal dengan Smart Class ini, tentunya dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki sudah memadai. (ADV)


Bima, Poros NTB.- Seminar pembangunan daerah Kabupaten Bima dengan thema “  Prospek Pembangunan Ekonomi Daerah Berbasis Komoditi Unggulan dan Dukungan Sosial Politik “yang digelar di aula Vokasi Unram Bima pada hari Kamis ( 29/8) dihelat. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Unsur FKPD, Kepala Bappeda Kabupaten Bima, Akademisi, Para Kepala OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Bima, LSM, Dosen, Para Mahasiswa/ Mahasiswi. Adapun Narasumber dari kegiatan ini yaitu Dr. M. Irwan Husein, MP, Dr. H. Darwis, M.Si serta Dr. Syarif Ahmad, SE,M.Si dengan moderator dari kegiatan ini : Mulyadin, M.AP.

Menurut Laporan Ketua Panitia Pelaksana M. Tahir Irhas, M.Pd. bahwa kegiatan yang dilaksanakan ini kerjasama antara pemerintah daerah dengan Pengurus Pusat Studi Konflik Dan Budaya NTB .  Dari kegiatan ini dalam rangka membangun daerah selama kepemimpinan Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE dan Wakil Bupati BIma Dahlan M.Noer selama memangku jabatan sebagai kepala daerah. Dari perjalanan masa kepemimpinan ini kedepannya kita akan mengupas secara tuntas apa saja yang dilakukan selama ini selama beliau menjabat sebagai kepala daerah dalam membangun daerah.

Dari seminar ini juga kita akan mendapatkan ide dan gagasan dalam pembangunan daerah Kabupaten Bima ini, sehingga dari ide dan gagasan yang disampaikan ini nantinya dalam rangka membangun daerah kita sekaligus dapat dimasukan kedalam APBD 2020 terkait dengan program pembangunan. 

Oleh karena itu dari kegiatan seminar yang dilaksanakan ini kita akan mengupas seluas – luasnya terkait dengan program pembangunan yang dilaksanakan oleh Kepala daerah dalam membangun daerah ini agar lebih baik lagi

Bupati Bima Diwakili oleh Kepala Bappeda Kabupaten Bima Drs. H.Muzakir, M.Sc menyampaikan terkait dengan pertumbuhan ekonomi selama 4 tahun terakhir ini sudah berjalan sesuai rencana, sektor pertanian sebagai penyangga utama pembangunan secara keseluruhan. 

Selain capaian dalam sektor pembangunan, Pemerintah Kabupaten Bima dalam beberapa tahun terakhir telah mampu menorehkan prestasi membanggakan dengan keberhasilan meraih beragam prestasi baik di tingkat Provinsi maupun di kancah nasional. Keberhasilan tersebut tentu saja dapat dicapai berkat kerja keras jajaran aparatur penerintah dan dukungan masyarakat dan beragam elemen serta makin luasnya ruang partisipasi yang diberikan kepada masyarakat untuk mengisi setiap tahapan pembangunan daerah.

Tugas kita bersama adalah memantik  semangat membangun dan memiliki hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai dalam aspek penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan. Namun demikian, pembangunan daerah sebagai sebuah proses berkelanjutan memerlukan dukungan sumberdaya dan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapannya. 

Oleh karena itu, forum yang kita gelar hari ini diharapkan dapat menjadi wahana untuk menampung dan menjembatani beragam aspirasi dan dinamika yang berkembangan di tengah masyarakat sebagai bahan masukan perbaikan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan daerah yang kita cintai.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pimpinan dan jajaran Pusat Studi Konflik Agama dan Budaya (Puskab) NTB selaku mitra Pemerintah daerah yang telah mempersiapkan secara seksama dan memfasilitasi penyelenggaraan seminar pembangunan daerah ini.

Saya atas nama pemerintah daerah juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus atas kesediaan para narasumber untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam seminar hari ini, dan mudah-mudahan menjadi sumbangsih nyata dari kita semua dalam mewujudkan Bima RAMAH secara berkelanjutan.

Saya  berharap Forum Seminar Tiga Tahun Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bima ini akan dapat menggali sebanyak mungkin aspirasi dan harapan yang tersebar dari berbagai alamen masyarakat dan pada saat yang sama mampu meningkatkan pemahaman dan kesamaan persepsi dalam membangun Kabupaten Bima di masa yang akan datang. (Poros06/hum)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget