"AYO NYOBLOS..!!!", TNI - Polri Menjamin Keamanan Pelaksanaan Pilpres & Pileg 2019 Hingga ke TPS

Banner iklan disini

Perkembangan Terbaru Kasus Rabies di Kabupaten Bima

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, Rifaid, M.Ap

Bima, Poros NTB.- Amad, bocah 10 tahun, warga Desa Naru Kecamatan Woha, bersama teman-teman bermainnya lari terbirit-birit dengan panik sambil teriak panggil ayahnya, saat melihat seekor anjing berlari ke arah mereka.

Sebelum ini, bagi Amad dan teman-temannya, sesekali berpapasan dengan seekor anjing yang melintas di gang tempat mereka bermain menuju persawahan adalah hal yang lumrah.

Namun sejak Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit anjing gila (rabies) di Kabupaten Dompu yang memakan 6 korban jiwa beberapa waktu lalu, trauma anjing juga memapar masyarakat Bima.

Kasus manusia digigit anjing, tiba-tiba menjadi atensi utama pemerintah daerah saat ini.

Menurut Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, Rifaid, M.Ap, saat ditemui Rabu (20/2/19) kemarin, sejauh ini kasus manusia digigit anjing di  Kabupaten Bima yang sudah dilaporkannya ke Pemerintah Provinsi sejumlah 15 kasus. Tersebar di Kecamatan Donggo 5 kasus, Sanggar 5 kasus, Madapangga 3 kasus, Soromandi 1 kasus, dan Bolo 1 Kasus.

Sementara tambahan kasus yang baru diterima dan belum dilaporkannya sejumlah 9 kasus. Yakni di Donggo 5 Kasus, dan Sanggar 4 Kasus.

“Jadi total kasus manusia digigit anjing yang masuk, ada 24 Kasus,” ungkap Rifaid. “Yang terbanyak di Donggo,10 kasus, dan Sanggar 9 kasus,” bebernya lebih rinci.

Untungnya, Rifaid menyatakan, dari 24 kasus tersebut, belum ada satupun korban yang terindikasi rabies.

Meski begitu, 24 korban digigit anjing belum bisa dipastikan telah aman dari rabies. Karena, jelasnya, masa inkubasi penyakit rabies terkadang mencapai hitungan bulan.

“Jadi pasca digigit anjing, tidak serta merta menunjukkan gejala rabies. Tergantung daya tahan tubuh korban, dan lokasi gigitan,” ujar Rifaid.

Jika di bawah ujung kaki, untuk naik ke jantung butuh waktu lama sehingga makin lama prosesnya. Sedangkan makin dekat gigitan dengan organ jantung, seperti di leher dan kepala, maka makin cepat prosesnya terinfeksi rabies.

Karena masa inkubasi rabies yang bervariasi, kata Rifaid, 24 korban gigitan akan terus dipantau hingga dipastikan aman dari rabies. “Tugas kita memberikan VAR dan Serum Anti Rabies (SAR). VAR untuk korban gigitan, dan SAR ini diberikan selektif pada mereka yang gigitannya pada daerah dekat jantung.” Paparnya. Lantaran, ketersediaan SAR yang terbatas dan harganya yang mahal.

Untuk diketahui, pasca KLB rabies di Dompu, Kementerian pertanian (Kementan) telah mendrop 9000 VAR ke NTB. Sementara SAR masih terbatas.

langkah awal yang dilakukan Dikes melalui Puskesmas untuk menangani korban gigitan anjing agar tidak terinfiksi rabies, yakni selain mengobati luka, juga dengan menyuntikkan 2 dosis Vaksin Anti Rabies (VAR), masing-masing 1 dosis di lengan kiri dan kanan.

“Seminggu kemudian, 1 dosis lagi. Selang seminggu kemudian 1 dosis lagi. Jadi totalnya 4 dosis untuk 1 orang” imbuhnya.

Terkait Pertolongan Pertama pada Kecelakaan, sesaat korban digigit anjing, iamenghimbau agar pertama-tama mencuci luka gigitan dengan air yang mengalir menggunakan sabun sekurang-kurangnya 15 mili, kemudian diberikan betadine, dan Setelahnya dirujuk ke sarana kesehatan. Baik di puskesmas maupun rumah sakit agar ditangani secara insentif oleh tenaga medis.

NTB dalam beberapa dekade terakhir, kata dia, bukan merupakan wilayah endemis rabies. Seperti halnya Bali dan Flores. Mungkin Namun untuk mengantisipasi meluasnya wabah rabies di Kabupaten Bima, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bersama Dinas Kesehatan kini secara intensif melakukan penyuluhan sejak 31 januari lalu di wilayah-wilayah prioritas.

“Seperti di Madapangga, Sanggar, Rora, dan Tambora,” ucapnya. Mengingat wilayah tersebut berbatasan dengan Dompu. (Aden)

Labels: , ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.