--> Ma Pentin(a) Mori Nawa | Poros NTB

Ma Pentin(a) Mori Nawa

Dibaca Normal



“Ma Pentin(a) Mori Nawa”. Kalimat itu keluar dari mulut Dahlan setelah melihat rumahnya diterjang banjir. Dia yang tadinya ingin kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barang berharga miliknya, tidak lagi bersemangat. Arus air menyurutkan nyali-nya. Dia pasrah pada keadaan dengan baju di badan saja.


Meski hujan telah mengguyur hingga dua hari lamanya warga Desa Leu Kecamatan Bolo Kabupaten Bima tidak ada yang menduga banjir sebesar itu yang akan menerjangnya. Dalam benak mereka banjir hanya akan terjadi seperti biasa yakni mengalir di aliran sungai. Sunga di Sila (Kecamatan Bolo) memang besar. Bahkan sangat besar jika dibandingkan dengan sungai di wilayah lain di Kabupaten Bima. 
Keyakinan itu pula yang membuat mereka beraktivitas seperti biasa usai Jum’atan kemarin (2/4). Mereka ngobrol santai di teras rumah dengan anggota keluarga lainnya. Ada juga yang menyiapkan kebutuhan untuk aktivitas pertanian untuk esok hari.
Hanya saja keadaan seperti itu tidak berlangsung lama karena adanya beberapa warga yang berlari-lari kecil menuju ke arah rumah keluarganya yang berada di bantaran sungai. Ternyata banjir sudah datang dan masuk ke rumah warga dekat bantaran sungai. Mereka bukannya tidak memiliki motor. Mereka ternyata sengaja tidak menggunakan motor agar tidak terganggu saat membantu keluarganya menyelamatkan barang berharga.
Obrolan tentang banjir-pun mulai bergulir dari mulut ke mulut. Ada juga beberapa warga yang pergi ke bantaran sungai untuk memastikan pergerakan air. Ternyata tidak berselang lama setelah mereka pergi, mereka kembali dan membawa kabar jika banjir telah mendekati jalan raya. Desa Leu memang dibelah oleh Jalan Lintas Bima-Sumbawa. Banjir telah melanda semua rumah di selatan jalan itu. 
Kepanikan pun mulai terlihat dari warga yang berada di utara jalan. Mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Ada yang mulai mengemas barang-barang berharga dan surat-surat berharga. Ada juga yang masih terlihat tenang dan menenangkan warga lain agar tidak panik. 
Banjir akhirnya menyeberangi jalan raya berselang beberapa saat kemudian. Di saat yang sama arus air ternyata datang juga dari arah desa lain yang berada di barat yakni Desa Kananga. Hal itu tentu membuat warga yang sejak tadi mengemas dan bersiap-siap menjadi kalang kabut. Mereka ternyata tidak sepenuhnya siap. Mereka masih harus mencari barang-barang berharga miliknya. Entah di simpan di mana. Hingga air-pun menerjang masuk ke dalam rumah mereka. 
Hal itu juga lah yang terjadi pada Dahlan, Laki-laki 48 tahun warga RT 07 Desa Leu. Aliran air yang begitu cepat dan terus meninggi membuatnnya menyerah. Dia meninggalkan rumahnya tanpa membawa barang berharga miliknya. Dia keluar dengan baju di badan saja. Begitu pun istri dan anaknya. 
Dia meninggalkan rumahnya dalam keadaan terkunci dan menuju ke dataran yang lebih tinggi di gang desa. Pandangan matanya kosong melihat air yang terus menaik bahkan di tempat dia berdiri yang jarak dari rumahnya sekitar 100-an meter. “Ma pentin (a) mori nawa,” ujarnya lirih. Dalam Bahasa Indonesia artinya yang penting masih hidup. 
Kondisi yang sama juga di alami oleh warga lain, Landa, perempuan 57 tahun. Landa juga terlihat pasrah ketika air di rumahnya menaik. Dinding rumahnya hanya terlihat setengah. Dia bersama tetangga-nya yang lain meninggalkan rumah karena air terus meninggi. Semua menuju ke dataran dan rumah yang tinggi yang dianggap aman. “Syukur mori nawa ana e (syukur kita masih hidup nak),” ujarnya dengan nada sendu. 
Dalam peristiwa ini, orang tua dan anak-anak menjadi fokus utama penyelamatan oleh warga. Mereka juga dipindahkan ke dataran dan rumah yang tinggi yang dirasakan aman. Bagi mereka saat itu harta benda tidak lagi penting. Menyelamatkan diri menjadi yang utama. 
Banjir memang terjadi di banyak wilayah di Kabupaten Bima. Di wilayah Kecamatan Bolo di mana Desa Leu berada terdapat Delapan desa lain yang juga terdampak banjir. Hal yang sama juga terjadi di beberapa desa di Kecamatan Madapangga, Kecamatan Woha, Kecamatan Monta, Kecamatan Belo, dan Kecamatan Palibelo. Bahkan terdapat korban jiwa. Soal kerugian materi jangan ditanya. Tentu sangat banyak. Baik secara mikro (rumah tangga) maupun makro (daerah dan pusat).
Dalam keadaan seperti ini berpasrah memang menjadi titik terdalam dalam batin manusia. Kondisi-nya memang tidak bisa di lawan. 
Meski demikian harus juga menjadi bahan evaluasi bagi kita agar tetap menjaga alam dengan tidak terus menggunduli hutan dengan dalih apapun. Begitu juga bagi pemerintah. Hal ini harus juga menjadi bahan evaluasi dalam mengambil langkah dan kebijakan sehingga semua tetap harmoni. Dalam jangka pendek tentu soal perut. Pemerintah harus memastikan logistik (bahan makanan) tersedia cukup di seluruh wilayah terdampak banjir baik disumbangkan maupun tersedia di kios-kios yang harus dibeli oleh korban banjir. Pascabanjir mereka justeru membutuhkan energi yang besar untuk memperbaiki dan membersihkan rumahnya dari lumpur dan lain sebagainya. 
Lembo ade untuk semua keluarga di seluruh wilayah terdampak banjir. Ini duka yang sangat mendalam bagi kita semua. 

Penulis Irwan Abd

COMMENTS

Nama

#Corona,123,arena,37,Bandara,7,Bansos,39,Bawaslu,17,bhakti sosial,27,bima,2307,bima iptek,4,Bima Pemerintah,81,Bima Pemerintahan,47,Bima: Pemerintah,5,bima. Pariwisata,3,Coro,1,Corona,74,Covid-19,28,Curanmor,3,Demonstrasi,2,des,1,Desa,53,dompu,134,Editorial,2,ekbis,204,Ekonomi,1,Ekonomi.,4,enterpreneur,1,event,1,explore,2,featured,92,Hoax,1,huk,2,hukrim,616,huksrim,3,hukum,1,Humaniora,1,HUT RI,1,inspiratif,1,iptek,26,Keagamaan,15,keamanan,7,kebudayaan,1,Kecelakaan,1,kejadian dan peristiwa,2,kemanusiaan,4,kepegawaian,1,kependudukan,10,kepolisian,60,Kesehatan,125,Kesenian,1,ketenagakerjaan,2,Kodim,15,Konflik,1,Korupsi,11,kota bima,142,KPU,3,KSB,2,lingkungan,99,lombok,108,Mataram,76,miras,1,Narkoba,7,Nasional,7,NTB,1,olahraga,24,Opini,49,Pariwisata,80,Pelayanan Publik,13,pembangunan,22,pembangunan.,2,pemerintah,37,Pemerintah.,1,pemerintahan,435,Pemerintahan.,5,Pemprov,3,Pemprov NTB,143,pendidikan,360,pendidikan.,8,Perbankan,1,Perguruan Tinggi,3,perhubungan,7,perisstiwa,45,peristiwa,386,peristuwa,1,Perjudian,2,persitiwa,6,Pertamina,2,pertanian,34,Peternakan,3,politik,272,Politik.,9,Prahara,12,Prestasi,22,Provinsi,1,puisi,1,regional,3,religi,26,religius,41,Sains,1,SAJAK,1,seni,1,SKCK,1,sosbud,190,Sosial,42,Sosok,2,SUDUT PANDANG,1,sumbawa,20,Tajuk,2,Tekhnologi,2,TKI,5,TNI,1,transportasi,2,travel,5,Tribrata,1,video,5,
ltr
item
Poros NTB: Ma Pentin(a) Mori Nawa
Ma Pentin(a) Mori Nawa
https://lh3.googleusercontent.com/-T3D-Y7REmlI/YGkdFwAooMI/AAAAAAAAB7c/x0-fF4dJ4yA7AQ_5pRE8iM-OPr0lIof2wCLcBGAsYHQ/s1600/0_IMG-20210404-WA0008.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-T3D-Y7REmlI/YGkdFwAooMI/AAAAAAAAB7c/x0-fF4dJ4yA7AQ_5pRE8iM-OPr0lIof2wCLcBGAsYHQ/s72-c/0_IMG-20210404-WA0008.jpg
Poros NTB
https://www.porosntb.com/2021/04/ma-pentina-mori-nawa.html
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/2021/04/ma-pentina-mori-nawa.html
true
2479742407306652642
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content