PRAHARA RUMAH TANGGA: "Suamiku Mainnya Kasar, Aku Kesakitan"


Bima, Porosntb.com.-Tak ada perempuan yang suka diperlakukan kasar. Begitu juga dengan istri yang satu ini. Setiap hari dia tertekan karena sikap suami yang ringan tangan. Tidak hanya itu, saat di ranjang pun suami asal Kecamatan Lambu Kabupaten Bima itu masih bisa bermain kasar.

Dalam kasus ini, narasumber sengaja disembunyikan. Sebut saja Uba dan Manohara. Mereka menikah sudah 15 tahun lamanya. Meski sudah lama membangun rumah tangga, tidak menjamin hubungan mereka tetap harmonis.

Sekitar dua minggu lalu, Manohara mendadak menggugat cerai Uba. Ia lelah menghadapi sikap suaminya itu. Karena selalu main kasar.

Sebagai manusia biasa, Manohara juga tersulut emosi. Ia bahkan tidak ingin berhubungan lagi dengan suami yang sudah memberikannya tiga orang anak itu.

“Siapa yang tahan, kalau setiap hari terus disakiti. Suami saya mainnya kasar,” ujar Manohara saat ditemui di kantor Pengadilan Agama (PA) Bima, menjalani sidang perdana.

Uba tergolong suami tempramen. Setiap persoalan yang terjadi, selalu dihadapi dengan emosi. Hampir tidak pernah diselesaikan dengan kepala dingin. Hingga akhirnya Manohara jadi sasaran.

Meski demikian, Manohara terus bersabar. Karena ia tidak ingin berpisah dengan pria yang sangat dicintainya itu. Namun sayangnya, Uba tidak berpikir demikian. Ia sama sekali tidak bisa bebas dari kebiasaan buruknya.

Selain itu, suaminya memiliki kebiasaan aneh. Usai memukul istri hingga babak belur, Uba selalu meminta berhubungan badan.

“Setelah selesai memukuli saya, dia wajib melakukan hubungan badan dengan saya,” ungkap Mano.

Perbuatan seperti ini terus diulangi dari hari ke hari. Hingga Manohara lelah. Ia menyerah dengan kondisi tersebut. Ia ingin melepas Uba melalui jalur hukum, agar hidupnya bebas tanpa beban.

Ketiga buah hati mereka, sudah mengetahui rencana perceraian itu. Mereka menyetujui langkah ibunya. Karena merasa kasihan dengan penderitaan yang dihadapinya selama ini.

“Setelah gugatan cerai resmi saya layangkan, dia pergi dari rumah entah kemana,” terangnya.

Mano mengaku tidak terbebani dengan perceraian itu. Karena ia sudah terbiasa dengan mencari nafkah sendiri. Saat masih berstatus istri Uba pun, ia tetap berjualan dan mencari nafkah.

“Punya suami ataupun tidak sama saja. Toh saya tetap menjadi tulang punggung keluarga,” tutupnya sembari meninggalkan tempat itu. (Poros-07)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.