"Win-Win Solution". SMAN 1 Woha Terpaksa Pindahkan Siswa Bermasalah

Ilustrasi kasus perkelahian siswa, yang menjadi faktor utama yang menyebabkan SMAN 1 Woha memutuskan untuk memindahkan Hadi
Bima, Poros NTB.- Keputusan dipindahkannya salah seorang siswa yang bernama Hadirin atau yang biasa disapa Hadi, warga Desa Nisa Kecamatan Woha Kabupaten Bima, siswa kelas XII/IPS 3 oleh pihak SMAN 1 Woha mendapat tanggapan negatif dari segelintir orang. Dengan alasan dikeluarkannya (istilah tepatnya dipindahkan) siswa tersebut dilakukan secara sepihak.

Padahal menurut Kepala SMAN 1 Woha, Nazamuddin, S.Pd, M.Pd, bahwa keputusan memindahkan Hadi ini, telah melalui proses pengambilan kebijakan yang panjang dengan melibatkan berbagai elemen.

Mulai dari Dewan Guru, Anggota Komite Sekolah, sampai ikut menghadirkan Babinsa dan bahabinkamtibmas, serta unsure pimpinan Pemerintah Desa di lima desa. Yakni Kepala Desa Tente, Nisa, Naru, Rabakodo, dan Sekdes Talabiu Kecamatan Woha.

“Jadi semuanya kita libatkan untuk mempertimbangkan keputusan apa yang akan diambil terhadap siswa ini. Satu hal lagi siswa ini tidak dikeluarkan tetapi dipindahkan,” ujar Nazamuddin, Rabu (30/10/19) kemarin, saat dikonfirmasi terkait kabar dipindahkannya salah satu siswa di sekolah yang diampunya

Menurut Nazamuddin, bahwa tidak benar jika dikabarkan kita memindahkan siswa secara sepihak. Seakan-akan keputusan mengeluarkan dan menerima murid itu adalah keputusan saya sendiri tanpa melibatkan guru, komite dan pihak lainnya. Kita sudah melakukannya sesuai procedur dengan melibatkan berbagai pihak,” imbuhnya menegaskan.

Bagi Nazamuddin sendiri, bahwa keputusan mengeluarkan dan memindahkan siswa itu adalah keputusan besar dan berat bagi sekolah. Maka, sudah barang tentu katanya, harus melibatkan semua pihak.

Keputusan yang diambilpun, ujar Nazamuddin, dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Dan semua pihak yang terlibat dalam pengambilan kebijakan, memutuskan bahwa aspek kenyamanan 1.175 siswa SMAN 1 Woha lainnya yang harus diutamakan.

Akhirnya diputuskanlah, siswa yang bernama Hadi tersebut untuk dipindahkan.

“Jadi keputusan itu diambil untuk ‘menyelamatkan’ seribu lebih siswa kita, dan juga ‘menyelamatkan’ siswa yang kita pindahkan,” tukasnya.

“Diselamatkan” dalam hal ini menurut Nazamuddin, karena bisa jadi siswa yang dipindahkan itu akan lebih cocok dengan lingkungan sekolah lain.

“Karena mungkin d SMAN 1 Woha,  ia kesulitan mengikuti disiplin yang ketat yang kita terapkan. Nanti di sekolah lain, dia akan bisa beradaptasi dan bisa nyaman sehingga bisa belajar dengan baik,”

Di sisi lain, 1.175 siswa lainnya menjadi terhindar dari berbagai gangguan keamanan di lingkungan sekolah akibat ulah seorang siswa yang bermasalah. “Sebagai sarana pendidikan itu yang paling penting. Kita harus bisa mengayomi semua siswa. Tidak mengayomi satu anak, tetapi semuanya” timpalnya.

Jadi boleh dibilang, dipindahkannya siswa terkait merupakan keputusan yang sifatnya "Win-Win Solution".

Alasan Dipindahkannya Hadi

Sementara itu, menurut anggota Komite SMAN 1 Woha yang mewakili Desa Nisa, Gunawan Haris mengatakan, Hadi memang sering terlibat dengan kasus perkelahian di sekolah. Terhitung empat kasus.

Yang lebih parah, kata anggota komite yang akrab disapa Gun ini, kasus perkelahian yang melibatkannya sampai menyertakan orang luar, yakni  yang berasal dari Desa Nisa untuk ikut masuk lingkungan sekolah dengan mengejar seterunya dengan memakai senjata tajam.

“Dia ini bawa orang kampung pakai parang. Saya datang saat (kejadian) itu untuk memulangkan mereka. Hadirin ini sudah tiga kali (sampai saat itu) melakukan hal seperti itu,” tutur Gun yang juga satu desa dengan Hadi.

Lalu untuk menyikapi kasus perkelahian itu, komite, kata Gun, ikut mengundang babinsa dan bhabinkamtibmas, kepala desa atau yang mewakili dan tokoh masyarakat ke SMAN 1 Woha.

“Akhirnya, pada saat itu kita yang hadir sebagai komite dan lainnya. Meminta kepada pihak sekolah untuk segera memindahkan Hadirin ini. Sepakat pada saat itu! Kepala Sekolah akhirnya sepakat juga, karena kita yang hadir memang menuntut dipindahkan saja,” ujarnya, saat berada di ruang kerja Kepala SMAN 1 Woha, Rabu kemarin.

Setelah sekitar sebulan lebih, lanjut Gun, di kampungnya ia dipanggil lagi oleh sejumlah pemuda, yang mengabarkan, bahwa Hadi kembali berkelahi (hingga terhitung empat kali).

“Saya bantah di sana, bahwa Hadirin ini sudah dipindahkan dari SMAN 1 woha. Rupanya pada saat kasus yang ketiga kalinya itu, Kepala Sekolah masih mempertahankannya dengan alasan merasa kasihan karena siswa status wajib belajar. Mungkin yang terakhir ini sudah kapok, kata Kepala Sekolah waktu itu,” ungkap Gun.

Pada saat kasus ketiga itu, terangnya, Kepala Sekolah sudah meminta kepada orang tua muris bersangkutan untuk meneken surat pernyataan.

Tapi ternyata kasus perkelahian yang melibatkan Hadi kembali terjadi untuk yang keempat kalinya.

“Sebenarnya Kepala Sekolah ini sudah luar biasa mempertahankan siswa ini. Tapi setelah empat kali kasus, akhirnya sepakat untuk dipindahkan. Itu atas permintaan kita bersama,” katanya.

“Kita sudah capek, siswa yang lain juga merasa terganggu dengan ulah Hadirin ini. Apalagi sampai mengejar pakai parang. Tau sendirilah kalau terjadi perang kampung. Bagaimana dahsyatnya. Itu saja masalahnya,” pungkas Gun.

Sementara Kepala Sekolah, mengungkapkan, bahwa tidak hanya kasus perkelahian antar siswa yang membertakan Hadi. Namun juga perbuatannya yang sampai mencekik leher guru dan menodongkan panah kepada salah seorang pegawai.

Untuk diketahui, saat terjadinya kasus perkelahian (yang terakhir), Pemerintahan Desa Rabakodo, lewat unggahan di akun Facebooknya, menyatakan dengan tegas akan menyegel SMA Negeri 1 Woha, karena tetap mempertahankan seorang siswa yang nota bene sering berkelahi dan melibatkan orang luar di sekolah.

“Melalui media sosial, Pemdes Rabakodo sampai mengatakan, bahwa SMA Negeri 1 woha adalah sekolah untuk mendidik siswa berkelahi. hastagnya ke gubernur. lalu ketika kita memindahkan anak ini, ternyata tetap ada yang menyalahkan dan lain sebagainya,” timpal Kepala Sekolah.

Yang pasti kata Nazamuddin, keputusan memindahkan siswanya itu telah melalui prosedur, dan melalui pertimbangan yang komprehensif, serta melibatkan banyak pihak terkait.


“Bahwa anak ini terpaksa dipindahkan sebagai akumulasi dari semua perbuatan perbuatan yang dilakukannya sejak kelas satu.” Pungkasnya. (Poros03)
Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.