--> Sulitnya Menjumpai “Anak Bima” Di Bima | Poros NTB

Sulitnya Menjumpai “Anak Bima” Di Bima

Views

Penulis : Suaidin, M.Pd
Pemerhati pendidikan yang juga Kepala SMPN 3 Woha

Akhir-akhir ini begitu sulit menjumpai “anak Bima” dikampungnya sendiri di Bima. Entah kemana mereka pergi, siapa sesungguhnya yang menculik mereka atau mereka sudah terhipnotis ataukah mereka sudah merantau berkepanjangan. Memang di Bima banyak dijumpai anak anak, tetapi saya belum yakin itu anak-anak Bima atau mereka hanya anak dari orang Bima dan bisa jadi hanya berdomisili di Bima. Sudah lama saya mencari anak Bima di Bima tetapi hanya sebagian kecil yang saya temukan.

Anak Bima yang dulu pernah saya kenal dengan karakter dan cirinya, mereka yang sering meramaikan rumah guru ngaji, magrib mengaji mereka tekun ikuti setiap malam. Entah kemana lantunan suara anak-anak itu dan yang saya jumpai sekarang Cuma anak-anak yang meramaikan Wi-Fi dan Hotspot, maka keyakinan saya semakin kuat bahwa mereka bukan anak Bima. Mereka biasa menunggu khataman dengan menyelesaikan 30 juz, jari mereka masih jauh bahkan tidak mengenal layar sentuh, kangen dengan gerekan lidi bambu ditangan mereka yang mengeja huruf demi huruf Alif, Ba, Ta.

Sekarang hanya dijumpai anak-anak yang hanya menunggu habisnya paket 30 hari. Mereka yang biasa jalan menunduk dan menyapa orang tua dan gurunya dengan salam, bahkan begitu malunya mereka jalan lewat orang tua dan guru lebih baik mereka menghindar dengan malu tapi bukan cuek. Tapi sekarang dijumpai hanya anak-anak yang tidak menghargai sesama, orang tua dianggap korban jaman dulu alias jadul yang tertinggal kereta zaman. Saya yakin itu bukan anak-anak Bima seperti yang saya kenal. Sebab yang saya tau mereka biasa dengan lekas mencium tangan orang tua ketika bersua; tak pernah membangkang.

Anak Bima yang saya kenal sebagai anak yang rajin membantu orang tua di sawah sepulang dari sekolah; bahkan mereka mencari upah tani demi biaya sekolah, hari libur mereka bantu orang tua di ladang, sawah dan kebun; ada yang bantu giliran orang tua untuk mengembala; satupun tidak mengenal valentine day yang konon disponsori oleh hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) lajunya zaman. Mereka yang dulu saya kenal sebagai penurut dan setia mendengar nasehat walau hanya dengan dongeng menjelang tidur.

Mereka hanyut dalam dongeng “Duha Lano” tentang kisah anak durhaka yang diceritakan oleh nenek/kakek menjelang tidur, kesan cerita betul-betul menjelma dalam sikap dan prilaku mereka. Anak Bima yang hanya mengenal air kelapa muda, madu asli, susu kuda liar dan tidak pernah tau tramadol atau miras. Mereka antusias secara berkelompok menuju rumah guru ngaji dan belajar kelompok seperti yang terjadi pada anak-anak yang sekarang berdomisili di Bima.

Anak Bima dulu memegang teguh harapan dan pesan orang tua ketika anaknya keluar rumah lebih-lebih ketika hendak merantau; Jaga rukura rawi anae Lampa Ra Lao. “Jagalah sikap dan perbuatan anakku ketika kemana saja”. Pesan ini selalu dijaga baik-baik, pikirannyapun tak lepas dari ingatan cucuran keringat orang tua di sawah, di ladang, di kebun dibawah trik matahari demi anak yang sekolah. Anak Bima begitu sederhana menjalani hidup karena mereka tau keberadaan orang tua;

mereka sadar makna ungkapan orang tua “Dodo Pu Ninu Mantaurasa, Kanipu Mete Mantau nomo.
“Bercerminlah dengan cermin yang menghasilkan bayang, pakailah meteran/alat ukur yang tertera nomor atau angka”. Itulah ajaran hidup sederhana yang diajarkan orang dulu bahwa hidup ini perlu sesuaikan dengan keadaan dan intropeksi diri terhadap kemampuan yang ada. Itulah karakter anak Bima sejati yang kini sudah terbawa arus zaman yang sekarang sudah menjadi kisah antic.

Merosotnya karakter dan ciri khas yang dimiliki kini berdampak pada langkahnya anak Bima sejati. Anak-anak itu mungkin sedang menderita penyakit zaman; penyakit yang lebih parah dibanding virus corona yang menyerang Negeri seberang. Corona pada saatnya nanti diyakina akan musnah namun penyakit karakter akan tertular dari generasi kegenerasi.

Betapa tidak, berbagai surat kabar maupun media social memberitakan tentang anak-anak yang sudah menjadi korban kelainan jiwa akibat obat terlarang, menjadi pesuruh setia pengedar narkoba, di sana sini muda mudi mempertontonkan perkelahian kelompok antar geng; teman diadu seperti ayam jago, siswa mencekik leher guru, guru teraniaya akibat melarang siswa merokok, peristiwa pencurian motor terjadi di mana-mana.

Bahkan menjadi pembunuh orang tuanya sendiri akibat otak sudah tertutup narkotika. Begitu banyak kejadian yang memilukan menimpa anak Negeri ini; anak kita semua, generasi kita betul-betul sedang sakit parah. Oh… Bima, masih teringat saya pernah bercerita kepada sahabatku dulu ketika bertemu di luar Daerah. Panjang lebar saya ceritakan semuanya bahwa anak Bima itu baik, setiap magrib mengaji, khataman massal al qur,an, membantu orang tua dan jangan kaget jika ke Bima anak-anak menyapa dengan salam dan langsung mencium tangannya. Seorang pun anak wanita tidak akan pernah dijumpai jika sudah malam pukul 22.00. Sebab pukul 21.00 mereka sudah tidur; subuh sudah bergegas mencari rezeki. Jangan heran pula bahwa sepulang sekolah mereka bergegas bantu orang tua di sawah.

Rasa persaudaraan yang sangat tinggi dan jarang ada perkelahian kelompok, muda mudi tidak pernah mengenal miras dan tramadol. Dengan situasi dulu saya menceritakan semuanya, bahwa Bima itu kental dengan religius dan sosialnya, orangnya ramah-ramah dan saling mencintai antar sesama. Anak Bima sangat asing bahkan tidak mengenal yang namanya kafe dan diskotik, yang mereka tau hanya gubuk dan lumbung (jompa) tempat mereka menyimpan hasil panen. Jika sekarang saya bertemu kembali dengan sahabatku itu pasti saya tidak berani dan malu mengulang kembali cerita yang sama. Malah saya berdoa semoga sahabatku itu tidak akan pernah datang ke Bima, apa lagi saat sekarang.

Saya malu jika dianggap bercerita tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Apa lagi dianggap bercerita hanya untuk memuji dan membanggakan Bima kampung halamannya sendiri. Sesekali saya berpikir dari pada mendoakan sahabat itu tidak datang ke Bima, lebih baik berdoa dan berpikir untuk mengembalikan anak Bima menjadi anak Bima seperti yang dulu. Anak bima yang sejatinya berdiri diatas semboyan Maja Labo Dahu yakni Malu dan Takut. Serta memiliki rasa takut kepada sang khalik dan memiliki rasa malu sesama manusia; malu untuk berbuat yang tidak terpuji. Harapan ini memang agak berat karena kita berhadapan dengan zaman yang serba canggih.

Beberapa orang pun tempat saya curhat dan bertanya, “sudah kemanakah anak Bima yang dilahirkan dengan darah dan air mata itu.? Dengan nada pesimis mereka menjawab tidak lebih dari dampak kemajuan zaman. Permasalahannya, sampai kapankah kita menitip nasib anak kita pada zaman.? Percayakah kita bahwa generasi kita dijamin oleh zaman.? Oh… tidak, walau kemajuan zaman tidak bisa dipungkiri dan diyakini semakin pesat, namun tidak salah jika kita optimis dan menyakini pula zaman dapat ditaklutkan. Dan untuk menuju kesitu, harus ada upaya dari kita untuk mempersiapkan generasi yang akan mengelolah zaman bukan sebaliknya. Kemajuan ilmu dan teknologi yang ada tidak boleh mengorbankan adab, apapun zaman yang dilalui tidak dilakoni dengan lalai. Akhirnya jika bisa berharap kembalikan generasi kita dulu “anak Bima” sejati.

Kita semua rindu pada mereka yang dulu mencium tangan kita, mereka ada disekitar kita, Cuma butuh teguran, nasehat dan ajakan kita. Tentu hal ini membutuhkan peran holistic semua pihak terutama orang tua, sekolah dan masyarakat (Tri Pusat Pendidikan) serta instansi lintas sector. Orang tua dapat mengoptimalkan peran sertanya sebagai guru karakter di rumah. Bukankah anak terlahir dalam keadaan fitrah bagaikan kertas putih yang tak ternoda, yang harus di,isi dengan beragam pilihan warna oleh orang tuanya. Apakah itu dengan pilihan warna hitam atau merah. Sedangkan sekolah dapat mendekati dengan kegiatan pembinaan, baik melalui pola integrasi pembelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler. Dan guru tidak bisa tergantikan oleh secanggih apapun teknologi.

Sementara masyarakat dapat meningkatkan fungsi control terhadap generasi kita, keteladanan adalah resep spesialis atas gejala ini. Hilangkan anggapan bahwa itu bukan anak saya sehingga merasa cuek terhadap keadaan yang terjadi di depan mata. Harusnya tidak ada lagi orang tua yang tersinggung ketika anaknya ditegur tatkala sedang berbuat salah. Tidak ada lagi orang tua yang marah ketika putra putrinya diberi sansi semasih dalam pola mendidik; orang tua harus menitipkan putra putrinya kepada guru di sekolah untuk dianggap sebagai anak kandung sendiri. Ayo, mari bergerak bersama, siapa lagi kalau bukan kita. Sebelum kita semua hanyut dalam tidur abadi. (*) 

COMMENTS

Nama

#Corona,121,arena,36,Bandara,7,Bansos,26,Bawaslu,13,bhakti sosial,20,bima,2147,bima iptek,4,Bima Pemerintah,81,Bima Pemerintahan,47,Bima: Pemerintah,5,bima. Pariwisata,3,Coro,1,Corona,57,Covid-19,23,Curanmor,3,Demonstrasi,2,des,1,Desa,53,dompu,90,Editorial,2,ekbis,199,Ekonomi,1,Ekonomi.,4,enterpreneur,1,explore,2,featured,89,hukrim,499,huksrim,3,hukum,1,Humaniora,1,HUT RI,1,iptek,24,Keagamaan,15,keamanan,7,kebudayaan,1,Kecelakaan,1,kemanusiaan,4,kepegawaian,1,kependudukan,10,kepolisian,7,Kesehatan,116,Kesenian,1,ketenagakerjaan,2,Kodim,14,Konflik,1,Korupsi,11,kota bima,120,KPU,3,KSB,2,lingkungan,95,lombok,106,Mataram,57,miras,1,Narkoba,7,Nasional,5,NTB,1,olahraga,24,Opini,49,Pariwisata,79,pembangunan,22,pembangunan.,2,pemerintah,37,Pemerintah.,1,pemerintahan,424,Pemerintahan.,5,Pemprov,3,Pemprov NTB,143,pendidikan,352,pendidikan.,8,Perbankan,1,Perguruan Tinggi,3,perhubungan,7,perisstiwa,41,peristiwa,332,Perjudian,2,persitiwa,6,Pertamina,2,pertanian,34,Peternakan,3,politik,236,Politik.,9,Prahara,12,Prestasi,20,Provinsi,1,puisi,1,regional,2,religi,14,religius,41,SAJAK,1,seni,1,SKCK,1,sosbud,184,Sosial,41,Sosok,1,SUDUT PANDANG,1,sumbawa,20,Tajuk,2,Tekhnologi,2,TKI,5,transportasi,2,travel,5,video,5,
ltr
item
Poros NTB: Sulitnya Menjumpai “Anak Bima” Di Bima
Sulitnya Menjumpai “Anak Bima” Di Bima
https://1.bp.blogspot.com/-p2s_4w6oYik/XoAjUDDuLkI/AAAAAAAAHlc/ed3x8SZUUZonpkMasfVzK2JrHzx2AzRbwCLcBGAsYHQ/s640/Screenshot_2.png
https://1.bp.blogspot.com/-p2s_4w6oYik/XoAjUDDuLkI/AAAAAAAAHlc/ed3x8SZUUZonpkMasfVzK2JrHzx2AzRbwCLcBGAsYHQ/s72-c/Screenshot_2.png
Poros NTB
https://www.porosntb.com/2020/03/sulitnya-menjumpai-anak-bima-di-bima.html
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/2020/03/sulitnya-menjumpai-anak-bima-di-bima.html
true
2479742407306652642
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content