Banner iklan disini Banner iklan disini

Dinda, Modal Embel-embel Senyuman Maut Pembungkus Kelemahan Kepemimpinan


Aksi para aktifis Bima di Mataram menolak Dinda maju dua periode


Bima, Porosntb.com-Gelombang aksi penolakan terhadap Bupati Bima Hj Indah Damayanti Putri untuk maju pada periode kedua terus bergelora. Bak bola salju, hastak tolak IDP dua periode menggema di berbagai penjuru,  yang bukan hanya berpusat di Bima. Tapi di sejumlah daerah lain. Salah satunya ditujukan oleh sejumlah aktifis Mahasiswa Bima yang ada di kota seberang Mataram.

Sejumlah aktifis yang bermukim di asrama Bima yang juga berkoloborasi dengan element aktifis Jakarta asal Bima ini meneriakkan dari jauh penolakan dua periode Bupati yang akrab disapa Dae Dinda tersebut.

Joni Junaidi aktifis Bima di Mataram melalui media ini, secara tegas mengatakan, kepemimpinan yang dinahkodai Dinda alias IDP, telah kehilangan marwahnya. Bahkan sejumlah persoalan dugaan korupsi menggerogoti kepemimpinan IDP. 

"Riak-riak kerap bermunculan, walau tak bisa dipungkiri hal itu lenyap dengan kepiawaian orang-orang di belakang IDP yang mampu meredam dengan taktik perangkulan maupun cara lain yang dianggap mampu meredam aksi para element yang berbau oposisi," ungkapnya.

"Yang pintar itu bukan IDP, tapi orang-orang dibelakangnya. Bagi saya, ia sebagai lambang, namun ia tersandera oleh kepentingan orang-orang dekatnya," imbuh Joni.

Dirinya  berani bilang bahwa bupati sudah gagal dan hanya pandai pidato dengan embel-embel senyum mautnya untuk membungkus kelemahan atas kepemimpinannya.

Joni pun melanjutkan,  Dinda secara iklas tidak ada niat untuk memajukan Bima. Di sektor olahraga misalnya,  sebagai ketua KONI Kabupaten Bima ia gagal menciptakan prestasi,  bahkan KONI dia pakai untuk tujuan yang berbau politis demi sebuah pencitraan semata. 

"Kita lihat bersama,  sebelum Pemilu 17 April kemarin, bagaimana kencangnya ia menggunakan kekuasaannya untuk menekan para ASN yang ada di wilayah Kecamatan Madapangga dan Bolo tempat anaknya Yandi mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Dimana pada saat itu, Ia menggunakan perangkat ASN sebagai alat untuk memenangkan anaknya untuk lolos sebagai ketua DPRD yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi Bupati Bima periode selanjutnya," bebernya.

Menurut wartawan senior ini, yang Dinda pikirkan adalah melanggengkan kekuasaan Dinasti Bima,  walau dia sendiri sadar, kalau sinisme masyakarat pribumi telah lama ditujukan pada trah istana. Namun Dinda tak peduli,  yang ia peduli adalah kekuasaan harus tetap dipegang oleh keturunan mereka,  dan orang orang pribumi tak boleh ada ruang. 

"Sikap cauvisme kekeluargaan,  atau mengagungkan Trah Mahkota ini harus kami lawan dari sekarang," tandas pria kelahiran Madapangga ini. 

Ditambahkan, dia sadar tindakanyan menjadi oposisi dalam menolak IDP 2 periode akan banyak pro kontra,  termasuk cibiran dari orang-orang dekat dan yang memiliki kepentingan. 

"Bagi kami itu hal biasa,  perjuangan untuk lepas dari kungkungan mereka yang mengkultuskan "Darah Biru" harus dilawan mulai dari sekarang,  kalau bukan kita siapa lagi," pungkasnya.(Poros08)

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.