Sukses Seminar Nasional, STKIP Tamsis Naikan Level Berskala Internasional

Sejumlah Narasumber pada seminar Nasional di Auditorium Sudirman


Bima, Porosntb.com-STKIP Taman Siswa Bima melakukan langkah besar menghidupkan iklim Ilmiah dengan mengadakan “Seminar Nasional” pertama di Pulau Sumbawa. Pada kegiatan itu, 50 peneliti (Pemakalah Eksternal) dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia ikut ambil bagian. Kemudian sedikitnya 50 Peneliti Internal di STKIP Taman Siswa Bima dari dosen dan mahasiswa juga tak ingin ketinggalan untuk ambil peran pada kegiatan tersebut. Selain itu, acara yang digelar di auditorium Sudirman ini juga diikuti 500 peserta dari berbagai unsur, seperti  umum, dosen, dan mahasiswa. 

Sebagai Narasumber Utama dalam Seminar Nasional ini adalah Prof. Dr Hartono, M.Pd., Dr Bambang Subali, M.Pd., dan Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si, Sabtu (31/8/19).

Sebelum seminar dimulai, Panitia mengadakan acara pembukaan dengan beberapa sambutan, yakni dari Ketua STKIP Taman Siswa Bima Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., Dr Karyadin, M.Pd yang mewakili Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, dan Kepala Bappeda Ir Muzakkir, M.Sc yang mewakili Bupati Bima sekaligus membuka kegiatan Seminar Nasional. 

Panitia juga menyuguhkan penampilan tarian dari UKM Terompet Tamsis dan pertunjukan musik biola dari violinis muda, Fuadi pada pra acara untuk menghibur peserta seminar.

Dalam sambutannya, Ketua STKIP Tamsis Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si menjelaskan, kampus setempat terus melakukan percepatan pembangunan kualitas akademik dan non akademik. Seminar nasional ini merupakan sejarah baru yang menandai 12 tahun perjalanan kmous setempat. 

"Kegiatan Seminar semacam ini penting dilakukan untuk menggairahkan iklim ilmiah bagi para dosen dan mahasiswa. Amanat regulasi, bahwa selain dosen, para lulusan harus memiliki karya ilmiah atau artikel untuk dimuat di jurnal sebagai salah satu persyaratan kelulusan. Para mahasiswa juga dituntut untuk memiliki skill menulis, meneliti, dan soft skill lainnya," tuturnya. 

Para  dosen STKIP Tamsis sebagai pemakalah 


Dengan suksesnya seminar Nasional tahun ini, pihaknya akan menaikan level untuk menggelar seminar internasional pada 2020 mendatang. Dan kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan di kampus setempat. Kaena STKIP Tamsis sudah memiliki kerjasama dengan berbagai Universitas di Malaysia dan lainnya.

Sementara mewakili Dikbudpora, Dr Karyadin, M.Pd menjelaskan, kampus dan pemerintah harus bersinergi membangun pendidikan. Kampus sebagai mesin utama yang memproduk tenaga pendidik memiliki peran strategis untuk membangun pendidikan bersama pemerintah. Katanya, bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan tentu membutuhkan guru yang professional dengan menguasai empat kompetensi sekaligus. Yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi professional. 

"Pendidikan yang bermutu harus memenuhi 8 standar pendidikan dan diharapkan untuk melebihi standar tersebut," ujarnya.

Sedangkan mewakili Bupati Bima, Kepala Bappeda Ir Muzakkir, M.Sc, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si, yang terus melakukan kegiatan ilmiah. Ir Muzakkir sepakat dengan Dr Ibnu bahwa untuk percepatan pembangunan harus melakukan ‘Colaborative Governance’ termasuk dalam merumuskan RPJMD dibutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah. 

Katanya, dalam membangun pendidikan di Kabupaten Bima harus berpatokan pada RPJMD sebagai kompas pendidikan kita. "Pemerintah daerah diperbolehkan memberikan dana hibah buat kampus. Apalagi kampus dan para mahasiswa adalah bagian dari masyarakat daerah kita juga. Pemerintah harus mensupport dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian dan inovasi," tegasnya. 


Narasimber saat memaparkan materi

Sebagai Narasumber Utama Prof Dr Hartono, M.Pd memaparkan tentang pembelajaran di era revolusi industri 4.0. Katanya, Era Industri 1.0, 2.0, 3.0 dan sekarang 4.0 tak bisa dihindari dan harus siap menghadapinya agar tidak tertinggal dari bangsa lain. 

"Pada Era Industri 4.0 ini kita sering menghadapi banyak kemajuan dan perubahan seperti Mobile Banking, Driverless, transaksi online, dan lain-lain. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan, bahwa Era Industri 4.0 memiliki ciri, antara lain, Pertama, 75 persen pekerjaan melibatkan kemampuan sainteknologi, teknik, matematika, dan Internet of Things. Kedua, berbasis Cyber Physical System. Gabungan antara domain digital, fisik, dan biologi. Ketiga 55 persen organisasi mengatakan bahwa digital talent gap semakin melebar. Keempat, semakin pentingnya kecakapan sosial dalam bekerja," bebernya. 

Di tengah perkembangan teknologi dan inovasi, menurutnya respon masyarakat terhadap perubahan inovasi tersebut begitu beragam. Hanya 2,5 persen masyarakat yang menjadi innovators, 13,5 persen yang mudah adaptasi, 34 persen Early Majority sebagai pengikut awal yang langsung mau menerima perubahan, 34 persen Late Majority sebagai pengikut akhir yang terlambat menerima, dan 16 persen Lagards sebagai masyarakat yang tradisional yang sulit menerima perubahan inovasi. 

"Inovasi dan teknologi membawa kemudahan dan resiko yang kompleks sekaligus. Dengan teknologi dunia menjadi terikat dalam digital dan tidak ada batas geografis lagi," terangnya. 

Sambungnya, untuk menghadapi perubahan tersebut harus membekali diri dengan kemampuan menguasai IT, kemampuan berpikir kritis untuk pemecahan masalah, kemampuan komunikasi, kecakapan berkolaborasi, dan kreatif inovatif. Seorang guru atau dosen harus kompeten dan bertanggungjawab, mereka harus mau melatih, membiasakan, dan bahkan memaksakan hal baik bagi siswa atau mahasiswannya, tentu dengan program yang terencana dan terukur.

Susana seminar nasional


Sebagai Narasumber kedua, Dr Bambang Subali, M.Pd memaparkan tentang hasil penelitian yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Inovatif Sederhana Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah". Katanya, penggunaan alat peraga yang inovatif sederhana yang sesuai dengan kebutuhan siswa dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu konsep atau materi ajar. Untuk dapat membuat alat peraga yang inovatif, seorang dosen atau guru harus melakukan tiga hal, yaitu menciptakan, meniru, dan memodifikasi, tentu dengan tekad, motivasi, dan totalitas dalam bekerja.

"Agar kita dapat melahirkan gagasan untuk membuat alat peraga yang inovatif, dibutuhkan untuk melakukan beberapa hal antara lain, melakukan observasi di sekolah atau di kelas untuk mengetahui data yang sebenarnya mengenai apa yang dibutuhkan oleh sekolah dan siswa. Mengikuti berbagai seminar, lakakarya, workshop dan pelatihan pembuatan alat peraga, serta berdiskusi dengan sesama atau bertanya kepada yang ahli di bidangnya. Dalam mengikuti penelitian dan pengabdian hibah, sudah biasa gagal atau ditolak berkali-kali, tapi kuncinya kita harus terus mencoba dan totalitas untuk fokus, dan Alhamdulillah sukses juga akhirnya," tuturnya. 

Sebagai Narasumber Ketiga, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si membahas tentang Percepatan Sadar Literasi. Katanya, bahwa kondisi pendidikan di Kabupaten Bima yang memiliki peringkat 7/8 di NTB perlu ada percepatan atau gerakan sadar literasi dari semua pihak. Terutama difasilitasi oleh pemerintah, dan didukung oleh perguruan tinggi, sekolah, swasta, dan para penggiat literasi. 

"Pemerintah harus mulai membangun perpustakaan yang memadai untuk menyediakan buku yang berkualitas, jurnal, dan karya ilmiah yang dapat dibaca atau diakses oleh siswa, mahasiswa dan masyarakat luas. Pemerintah juga harus mensupport para penggiat literasi dan membantu perpustakaan desa setiap tahun anggaran, agar minat baca dan geliat literasi massif di seluruh kabupaten Bima," tegasnya.

Sementara makalah-makalah yang telah dipresentasi oleh para peneliti tersebut akan dimasukan dalam pro sidang, online jurnal sistem, akan diseleksi masuk jurnal terakreditasi, kampus Universitas Negeri Semarang, google scholar dan publikasi lainnya. 

Selain itu para pemakalah berasal dari Aceh, Manado, Makassar, Jakarta, Mataram. (poros07)

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.