--> Mahasiswi Kuasai Dua Bahasa Itu Penjual Serabi | Poros NTB

Mahasiswi Kuasai Dua Bahasa Itu Penjual Serabi

Dibaca Normal

Dewi Ararwati Solihah

Tak semua orang terlahir beruntung bisa mengenyam pendidikan tanpa harus memikirkan biaya. Jalan mewujudkan mimpi terbentang lebar kepada mereka yang bersungguh-sungguh. Dewi Ararwati, contohnya. Perempuan 23 tahun ini hanya bermodal penguasaan bahasa Inggris dan Korea untuk bisa menginjak dunia kampus. Simak ceritanya berikut ini.

Penulis Edo Rusadin

Perempuan itu bernama lengkap Dewi Ararwati Sholihah. Ia menjadi satu dari sekian orang yang beruntung tersebut. Dia sadar betul dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Sehingga kemampuan khusus menjadi senjata agar ia bisa kuliah tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Dengan kemampuan berbahasa Inggris dan Korea sekaligus, mahasiswi asal Kelurahan Penaraga Kota Bima ini sukses menjadi satu dari sekian mahasiswa peraih bidik misi. Dan kini ia resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan di STKIP Taman Siswa Bima setelah melaksanakan yudisium pertama pada 6 Agustus 2021 lalu.

Di balik prestasinya saat ini, terselip cerita panjang yang menguras emosi. Untuk bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tentu tidak mudah untuk ia lalui. Ada bahagia hingga bermandi air mata.

Perempuan dengan perawakan hitam manis itu bercerita tentang jalan hidupnya hingga berada di titik dimana ia sebentar lagi akan dikukuhkan menjadi wisudawan dan digadang-gadang menjadi salah satu lulusan terbaik dengan IPK 3.95.

Flashback pada 23 tahun lalu, Dewi lahir di Sorong, Papua. Saat itu, ayahnya Bo'e Mukhsin bekerja di salah satu pulau yang terkenal angker. Bahkan warga setempat menamai pulau itu dengan Pulau Setan. Di sana sang ayah bekerja sebagai buruh kayu lapis. Bekerja dengan resiko tinggi, membuat sang ayah memutuskan agar memulangkan istrinya Rahmah dan Dewi yang saat itu baru berusia empat tahun, ke Bima.

Hanya sang ayah yang lebih tahu alasan kenapa mereka disuruh untuk segera pulang ke Bima dan tidak berlama-lama di pulau tersebut. Dewi dan ibunya pun pulang ke Bima dan memulai hidup berjauhan dengan ayahnya.

"Saya merasakan kasih sayang bapak hanya empat tahun itu saja," kata Dewi dengan nada yang begitu pelan, seolah menahan gejolak dalam batinnya.

Semenjak berada di Bima, sang ayah tetap mengirim uang belanja meski itu hanya sekali dalam dua bulan. Dengan kondisi ekonomi yang mendesak karena banyaknya kebutuhan hidup dan biaya sekolah Dewi dan dua adiknya, membuat sang bunda mencari pemasukan sampingan.

"Mama memulai jualan serabi," ujarnya.

Dewi dan mamanya mulai menggeluti usaha tersebut. Awal-awal tidak sedikit rintangan menerpa. Mulai dari tidak stabilnya penjualan hingga cemoohan. Semuanya mereka telan dan tak pernah merasa putus asa. Ibunya yakin dengan usahanya saat itu akan sedikit membantu biaya hidup mereka kelak.

Waktu terus berputar, pelan-pelan usaha mereka mulai mendapatkan hasil. Tak terasa Dewi pun sudah masuk SMA. Sementara sang ayah yang berada di Papua tak juga memberikan kontribusi yang banyak bagi ekonomi keluarga. Meski sang ayah tetap mengirim uang dan sempat pulang ke Bima menjenguk mereka. Namun kebersamaan itu tidak lama, setelah itu ayahnya pergi lagi.

Dewi sangat rindu dengan ayahnya dan berharap suatu saat bisa berkumpul kembali di Bima. Namun ayahnya masih ingin bekerja untuk menambah penghasilan demi memenuhi kebutuhan sekolah Dewi dan dua adiknya. Ayahnya merasa memiliki tanggungan atas kebutuhan istri dan anak-anaknya. Sehingga harus kembali ke Papua dan belum tahu kapan untuk kembali lagi.

Tak ada yang bisa Dewi lakukan, ia hanya bisa merindukan sosok ayah. Ia percaya jika ayahnya akan kembali suatu saat nanti menikmati hari tua dan melihat anak-anaknya berhasil.

"Ayah hanya berpesan agar kami membantu mama di Bima," ingatnya.

Hal ini menjadi pelecut semangatnya untuk belajar sungguh-sungguh agar bisa membanggakan kedua orang tuanya. Sejak ditinggal ayahnya kembali ke Papua, Dewi bertekad untuk menjadi orang hebat. Ia kasihan melihat kerja keras ayahnya untuk membesarkan mereka dan harus hidup berjauhan.

"Mulai saat itu saya berpikir untuk bisa membantu mereka. Minimal meringankan beban sekolah dan membalas jasanya," ujar Dewi, penuh haru.

Hari terus berganti, kehidupan harus mereka lalui. Dewi pun mulai menepati janjinya membantu sang ibu membuat dan menjual serabi. Di sekolah Dewi menjelma menjadi siswi yang cerdas dan selalu meraih prestasi di kelas.

Dewi menyadari betul bahwa prestasi tak sebatas akademik, sehingga ia tak hanya fokus belajar di kelas. Dewi pun aktif mengikuti kursus-kursus dan peningkatan bahasa asing. Kemampuan dalam berbahasa Inggris Dewi memang sudah tampak sejak SMA. Dia sangat jago. 

Dukungan untuk meningkatkan kemampuannya juga direspon baik oleh sang paman. Paman yang melihat kepiawaian Dewi berbahasa asing, langsung mengajak untuk mengikuti kursus tambahan bahasa Korea. Benar saja, Dewi menjadi salah satu siswi dengan predikat terbaik yang menguasai bahasa asing yang sangat keren. Karena lihai berbahasa Inggris dan Korea, ia bahkan diberi beasiswa oleh sekolah. 

"Saya selalu meraih juara satu sejak SMA dan mendapat beasiswa," akunya, bangga. 

Setelah lulus SMA, Dewi mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi masuk kuliah dengan jalur SNMPTN. Namun sayang, ia gagal lolos. Pamannya yang begitu perhatian menyarankan agar Dewi bekerja dulu. Namun kali ini Dewi menolak karena ia ingin masuk kuliah. 

Meski pada awalnya ia tidak ingin kuliah karena memikirkan biaya. Namun Dewi yakin akan ada jalan baginya. Yang penting saat itu ia bisa masuk kuliah dulu. Ia memutuskan mendaftar jurusan PGSD di STKIP Taman Siswa gelombang kedua. 

Pada tes wawancara, kebetulan dosennya mewawancara dengan bahasa Inggris. Karena Dewi jago bahasa Inggris, jawabannya auto konek. Dosennya pun kaget serta sedikit heran. 

"Bu dosen heran kenapa saya ambil jurusan PGSD. Mereka menawarkan agar saya ganti jurusan ke bahasa Inggris," katanya. 

Dewi tidak pernah mengganti jurusan meski berulang kali ada tawaran untuk masuk ke Prodi Bahasa Inggris. Ia lebih senang mengambil PGSD. 

Dewi sangat beruntung bertemu dosen yang mewawancarainya. Ia dinilai begitu menonjol dan diplot sebagai salah satu mahasiswa terbaik. Dosen tersebut mengajukan agar Dewi bisa mendapatkan beasiswa bidik misi. 

"Alhamdulillah, sejak saat itu saya diberikan beasiswa bidik misi bersama 10 mahasiswa terpilih lainnya," kata Dewi dengan sumringah. 

Rasa syukur terus dipanjatkan Dewi. Beasiswa bidik misi tersebut merupakan rentetan keberhasilannya sejak SMA. Ini menjadi balasan dari janjinya. Paling tidak, ia tidak membebani ayahnya untuk terus bekerja di Papua. Walaupun sang ayah masih tetap bekerja. 

"Saya maunya ayah saat itu pulang. Tapi beliau berkata, masih ada adik-adik yang harus ia urus," ingatnya, lagi. 

Dewi kemudian mengikuti perkuliahan. Karena kampusnya berada di Kota Bima, sehingga ia tidak perlu repot-repot mencari kendaraan kuliah. Cukup naik ojek dan kadang nebeng ke teman-temannya. 

Padatnya jadwal kuliah membuat Dewi harus pintar membagi waktu untuk tetap membantu ibunya berjualan serabi. Ya, meski Dewi sudah gadis dan menjadi mahasiswa, ia tidak malu berjualan serabi buatan ibunya. Dewi mengatakan, menjalani semua aktivitas di kampus dan pekerjaan sampingan dengan berjualan serabi tersebut memang menguras waktu dan tenaga. Biasanya, pagi hingga sore dihabiskan di kampus. Sorenya baru menjajaki jualan. Namun saat bulan puasa, mereka menjual serabi di pasar ramadhan yang digelar Pemkot Bima. 

"Hanya disini (jualan serabi) saya bisa membantu orang tua meski belum seberapa," ujarnya. 

Serabi buatan Dewi dan mamanya ternyata enak dan selalu menjadi rebutan pengunjung. Serabi yang melegenda hingga dua puluh tahun itu kini menuai kesuksesan. Serabi buatan Dewi bahkan viral dan kerap menjadi incaran. Karena itu pula, serabi mereka selalu menerima pesanan dari luar bahkan kerap menjadi pesanan khusus para pejabat. 

"Kalau ada pejabat penting di Bima serabi kita yang dipesan. Bahkan artis Atta Halilintar bersama Menteri Sandiaga Uno yang datang ke Bima sempat mencicipi serabi buatan kami," katanya, tersenyum. 

Dari jualan serabi itu, mereka mulai menata hidup yang lebih layak. Adiknya pun sudah masuk kuliah melalui jalur SNMPTN. Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga Dewi memasuki fase akhir kuliah. 

Dia ingin agar di hari wisudanya nanti sang ayah bisa hadir dan tidak lagi harus bekerja jauh-jauh. Karena kondisi keuangan mereka sudah stabil berkat jualan serabi. Dewi ingin keluarganya utuh dan tidak lagi harus berjauhan. Ia pun memberi kabar kepada ayahnya tentang rencana wisudanya yang kurang dari setahun lagi tersebut. Harapannya agar sang ayah bisa segera pulang dan menetap di Bima. 

"Saat itu ayah mengiyakan untuk pulang," katanya. 

Dua bulan berlalu setelah kontak terakhir dengan sang ayah tepatnya pada Desember 2020, datang kabar jika ayahnya sedang sakit parah. Dewi dan ibunya kaget dan meminta agar ayahnya segera dipulangkan ke Bima agar bisa mereka urus. 

Ayahnya pun dipulangkan ke Bima. Dewi dan ibunya begitu gelisah menantinya. Saat ayahnya tiba, kenyataan di luar nalar harus mereka terima. Ayahnya memang sakit keras. Sesekali ayahnya berperilaku seperti anak-anak yang selalu ingin dekat dengan orang tuanya. Namun parahnya, sang ayah kini sudah tak lagi mengenal Dewi dan ibunya. 

Ironisnya lagi, ayahnya sudah sakit sejak lama dan sengaja disembunyikan karena tidak ingin menambah beban Dewi dan ibunya. Penyakitnya kadang-kadang kumat saat berada di lokasi kerja. Ini menjadi jawaban atas alasan kenapa sang ayah tidak menyuruh Dewi dan ibunya tinggal di Papua dan jarang pulang ke Bima. Karena takut penyakitnya diketahui oleh Dewi dan ibunya. 

"Memang selama ini banyak pekerja di pulau itu meninggal secara tidak wajar. Tapi ayah nggak pernah mau cerita dan seakan menyembunyikan dari kami," ceritanya dengan nada terbata-bata.

Suatu kondisi yang tidak memihak untuk Dewi yang selama ini merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia kecewa namun tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya berdoa agar ayahnya lekas sembuh dan bisa melihatnya mengenakan toga wisuda. 

Sebulan sudah Dewi mengurus ayahnya yang sakit. Namun ia tidak bisa membagi waktu untuk menyelesaikan proposal skripsi dengan berjualan dan mengurus ayah. 

"Sebenarnya ayah nggak mau tinggal sama kami. Beliau mau ke rumah orang tuanya di Kilo, Dompu," ujarnya dengan mata yang berkaca. 

Mau tidak mau, Dewi dan mamanya harus memenuhi permintaan sang ayah yang ingin tinggal di Kilo bersama orang tuanya. Karena padatnya tugas akhir, membuat Dewi harus pulang ke Kota Bima. Begitu juga sang ibu, harus mengurus pesanan serabi yang sudah menumpuk. 

Meski Dewi dan ibunya sibuk, namun mereka tak melewatkan waktu untuk menghubungi ayahnya di Kilo. Walaupun ayahnya sama sekali tidak bisa diajak bicara. Kadang Dewi dan ibunya ke Kilo untuk menjenguk, kemudian pulang lagi. 

"Saat itu tengah malam, datang telepon dari Kilo mengabarkan kalau ayah sedang sakaratul maut. Kami panik dan langsung menuju Kilo malam itu juga," urainya, bulir air mata yang tertahan sedari tadi mulai menetes di pipinya. 

Dewi seolah tidak percaya dengan kabar tersebut. Ia tak lagi bisa berkata-kata. Sosok ayah yang ia rindukan selama ini harus secepat itu meninggalkan mereka. Selama perjalanan menuju Kilo, rasa tidak percaya terus mengusik batinnya. Namun ia pasrah akan takdir Allah. 

"Pas kami sampai di Kilo, barulah ayah meninggal dunia" ungkapnya, diikuti tangisan yang memecah keheningan. 

Baru sebulan Dewi merasakan pangkuan sosok ayah setelah sekian lama berpisah. Kini kenyataan pahit harus ia telan lagi. Dewi tak kuasa menahan air matanya. Ia terus menangis tak percaya. Terlebih lagi dia sudah terlanjur janji akan membahagiakan orang tuanya. Belum sampai ia menunaikan janjinya, sang ayah lebih dulu menghadap Ilahi. 

Padahal saat itu Dewi sedikit lagi akan menyusun tugas akhir kuliah. Bahkan ia sudah menghayal jika wisudanya nanti akan ada sosok ayah yang ikut mendampingi. Tapi manusia hanya bisa berencana, semuanya sudah ketetapan ilahi. 

Kini Dewi harus tabah. Ia harus segera kuat untuk menjalani perjalanan panjang kehidupan di masa yang akan datang. Dewi punya prestasi dan sudah mampu membanggakan orangtuanya. 

"Mungkin prestasi ini yang bisa saya berikan sebagai ucapan terimakasih saya kepada orang tua. Khususnya almarhum ayah yang bekerja keras memenuhi kebutuhan kami hingga dewasa. Apalagi mama sekarang sudah nggak terlalu kuat bekerja, ini waktunya Dewi yang bekerja," tegasnya, berusaha tegar sembari menyapu air mata yang sudah membanjir di pipi.

Proses wisuda akan digelar beberapa pekan lagi. Dewi harus mengubur impiannya naik podium wisuda ditemani sang ayah. Ia percaya akan ada hikmah dibalik musibah yang ia alami. Ia tetap tegar dan terus memandang ke depan dengan sejuta asa lebih baik dan bisa membanggakan keluarga. 

Dewi juga menyampaikan terimakasih banyak kepada kampus STKIP Taman Siswa Bima yang sudah membiayai kuliahnya. Ia tidak tahu akan seperti apa jika kuliah tanpa beasiswa di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpitnya. 

"Saya bersyukur bisa bergabung di kampus ini dan dibiayai sepenuhnya. Enaknya di Tamsis kita langsung mendapat tawaran mengajar bahkan Senin depan saya akan diwawancara untuk mengajar di SDIT Kota Bima. Semoga ini menjadi awal yang baik buat saya untuk lebih baik ke depan," pungkasnya.(*) 




COMMENTS

Nama

#Corona,124,arena,40,Bandara,7,Bansos,42,Bawaslu,17,bhakti sosial,29,bima,2376,bima iptek,4,Bima Pemerintah,81,Bima Pemerintahan,47,Bima: Pemerintah,5,bima. Pariwisata,3,Bjayangkari,1,Coro,1,Corona,87,Covid-19,29,Curanmor,3,Daerah,1,Demonstrasi,2,des,1,Desa,53,dompu,134,Editorial,2,ekbis,206,Ekonomi,1,Ekonomi.,4,enterpreneur,1,event,1,explore,2,featured,93,Hoax,1,huk,2,hukrim,638,huksrim,3,hukum,1,Humaniora,1,HUT RI,1,inspiratif,1,iptek,29,Keagamaan,15,keamanan,7,kebudayaan,1,Kecelakaan,2,kejadian dan peristiwa,2,kemanusiaan,4,kepegawaian,1,kependudukan,10,kepolisian,87,Kesehatan,126,Kesenian,1,ketenagakerjaan,2,Kodim,15,Kominfo,5,Konflik,1,Korupsi,11,kota bima,153,KPU,3,KSB,2,lingkungan,102,lombok,109,Mataram,80,miras,1,Narkoba,8,Nasional,9,NTB,1,olahraga,24,Opini,49,Pariwisata,81,Pelayanan Publik,13,pembangunan,22,pembangunan.,2,pemerintah,37,Pemerintah.,1,pemerintahan,448,Pemerintahan.,6,Pemprov,3,Pemprov NTB,143,pendidikan,368,pendidikan.,8,Perbankan,1,Perguruan Tinggi,3,perhubungan,7,perisstiwa,45,peristiwa,403,peristuwa,1,Perjudian,2,persitiwa,6,Pertamina,2,pertanian,34,Peternakan,3,politik,272,Politik.,9,Prahara,12,Prestasi,22,Provinsi,1,puisi,1,regional,3,religi,32,religius,42,Sains,1,SAJAK,1,seni,1,SKCK,1,sosbud,191,Sosial,42,Sosok,2,SUDUT PANDANG,1,sumbawa,20,Tajuk,2,Tekhnologi,2,TKI,5,TNI,1,transportasi,4,travel,5,Tribrata,1,Vaksinasi,2,video,16,
ltr
item
Poros NTB: Mahasiswi Kuasai Dua Bahasa Itu Penjual Serabi
Mahasiswi Kuasai Dua Bahasa Itu Penjual Serabi
https://lh3.googleusercontent.com/-hZO4QeBJ1us/YRlOyCRZuBI/AAAAAAAARPs/CHHStQ2lLAUxAOt4Xgm0PKL07PlWmLCuACLcBGAsYHQ/s1600/IMG_20210806_163710.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-hZO4QeBJ1us/YRlOyCRZuBI/AAAAAAAARPs/CHHStQ2lLAUxAOt4Xgm0PKL07PlWmLCuACLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20210806_163710.jpg
Poros NTB
https://www.porosntb.com/2021/08/mahasiswi-penguasa-dua-bahasa-itu.html
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/2021/08/mahasiswi-penguasa-dua-bahasa-itu.html
true
2479742407306652642
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content