--> Kisah Jumryati, Bermandi Peluh dan Debu-debu Jalanan untuk Sebuah Gelar "Sarjana" | Poros NTB

Kisah Jumryati, Bermandi Peluh dan Debu-debu Jalanan untuk Sebuah Gelar "Sarjana"

Dibaca Normal

Jumryati, S.Pd

Yudisium ke-3 STKIP Taman Siswa Bima menjadi momen berharga buat Jumryati. Mahasiswa Prodi PGSD tersebut berhasil menyudahi studi dengan mengoleksi nilai IPK 3.99. Nilai yang sangat fantastis yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Tidaklah mudah bagi perempuan 24 tahun ini untuk bisa menjadi lulusan dengan predikat pujian. Banyak cerita haru dan pilu mewarnai di setiap detik kehidupannya hingga sampai di titik ini. Berikut ulasan catatan hariannya... 

Penulis Edo Rusadin

Jumryati kaget bukan kepalang setelah namanya disebut sebagai lulusan terbaik dengan nilai hampir sempurna saat Yudisium ke-3, Jumat (17/9/21). Jum, begitu ia akrab disapa tersentak penuh haru dengan butiran air mata bahagianya. Seolah mimpi, ia tak percaya akan mengakhiri kuliah dengan nilai sempurna di Kampus Merah tersebut. Seketika pamornya naik. Namanya disebut-sebut dalam ruangan VIP Beradab itu. Terlebih saat Ketua STKIP Taman Siswa Dr Ibnu Khaldun Sudirman, MSi memaparkan latar belakang keluarganya yang jauh dari kecukupan. 

Suatu prestasi prestisius untuk seseorang perempuan yang telah ditinggal cerai oleh kedua orang tuanya. Ya, Jum adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Abdullah dan Hamidah. Orang tuanya sudah cerai sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD. Setelah bercerai, ibunya pergi menjadi karyawan pabrik di Cikupa, Tangerang meninggalkan Jum dan dua adiknya. Mereka pun harus tinggal bersama ayah di Desa Darusalam, Kecamatan Bolo. 

Semenjak ditinggal ibu, perempuan kelahiran 21 Maret 1997 ini harus menjadi ibu sekaligus kakak bagi dua adiknya. Ayah yang sehari-hari sebagai buruh tani, kadang juga jadi ojek, tidak bisa menutupi kebutuhan hidup mereka. Terlebih saat sang ayah harus menikah lagi. Praktis, ekonomi keluarga mereka semakin sulit. Dan Jum harus bisa membiayai hidupnya sendiri. 

Di usianya yang masih cukup belia, Jum sudah harus berpisah dengan ibunya. Namun Jum adalah perempuan tangguh. Ia tak pernah menolak takdirnya. Semua ia jalani dengan keteguhan hati dan kesabaran. Ia terus berusaha tetap terlihat dewasa di hadapan adik-adiknya. 

Semenjak saat itu, Jum memulai petualangan hidupnya. Ia harus bekerja jika ingin mendapatkan uang jajan. Ia pun mulai bekerja di sebuah pabrik pengolahan kepiting yang berada di desanya. Di perusahaan rumahan itu, pekerjaannya adalah memisahkan cangkang kepiting dari induknya. Kebetulan, desanya adalah wilayah pesisir, tentu saja pekerjaan itu sudah biasa dilakukan. 

Setiap pulang sekolah, Jum langsung bersiap-siap untuk bekerja. Karena pekerjaannya diupah per jam jadi setiap menit itu sangat bermanfaat baginya. Dalam sehari Jum mampu bekerja hingga 7 jam. Mulai jam 2 siang hingga perusahaan tutup pada jam 9 malam.

"Kalau saat libur sekolah bisa sampai 10 jam. Per jamnya saya hanya diupah dua ribu rupiah saja," ujar Jumryati, dengan nada rendah sembari menyembunyikan gejolak batinnya dengan senyum yang memaksa. 

Jika setiap hari ia bekerja rata-rata selama 8 jam, itu artinya ia bisa mendapatkan upah sebesar 16 ribu rupiah. Upah yang dirasa cukup buat Jumryati untuk bisa tetap melanjutkan hidup. Inilah aktivitas Jumryati setiap hari. Sehingga tak heran saat pulang sekolah ia tak pernah terlihat bermain dan menikmati masa kecil seperti anak-anak seusianya. Dia harus bermandi peluh dengan pekerjaannya untuk tetap mengumpulkan pundi-pundi uang. 

Pekerjaan ini dilakoni Jum hingga tamat SMA pada 2015 lalu. Karena sudah tamat sekolah, ia berupaya mencari pekerjaan lain. Namun, pekerjaan sulit didapatkan jika hanya mengandalkan ijazah SMA. Sehingga ia terpaksa kembali bekerja seperti biasa hingga ia benar-benar punya uang untuk mendaftar kuliah. 

"Kata kuliah itu tak pernah terlintas dalam benak saya. Saya tahu, kalau itu tidak mungkin. Mahasiswa hanya untuk mereka yang berpunya. Sedangkan saya....," ujarnya, lirih. 

"Jangankan untuk biaya kuliah, untuk kebutuhan saja kami masih kesulitan. Ayah hanya buruh tani. Pun kalau nggak ada kerjaan, sekali-sekali ngojek," sambungnya, mencoba tetap tegar. 

Dengan kondisi itu, Jumryati pasrah dan tetap bersyukur karena masih bisa bekerja. Meski dalam hatinya ingin menjadi seorang mahasiswa seperti kebanyakan teman sebayanya yang sekolah tinggi hingga ke kota-kota besar. Tapi, apa mau di kata, keadaan yang sudah tidak memihak. 


Mulai Kepikiran Untuk Kuliah



Di tengah gaya hidup mahasiswa yang serba mewah, masih ada saja mahasiswa yang mampu berjuang membiayai hidupnya sendiri tanpa harus mengandalkan orang tua. Bahkan ia juga tak terpengaruh dengan gaya hidup mahasiswa masa kini. Jumryati adalah contoh kecilnya.

Setelah dua tahun tamat SMA dan bergelut dengan pekerjaan sebagai pemisah cangkang kepiting, Jum rupanya iri melihat teman-teman seangkatannya yang sudah menjadi mahasiswa. Ia kepikiran untuk bisa masuk kuliah walaupun sudah telat. Pada dasarnya ia meyakinkan dirinya untuk tetap bergerak maju, tanpa harus memikirkan masalah keuangan. Dalam benaknya tertanam jika ada secercah cahaya di sebuah lorong sempit sekalipun, pasti akan ada jalan untuk keluar.

Dia mencoba bicara dengan ayah dan ibu sambungnya. Ternyata mereka mendukung dan memberikan bantuan biaya. Begitu juga dengan ibu kandungnya. Dukungan dari keluarga agar ia bisa kuliah rupanya membawa hikmah tersendiri bagi keharmonisan hubungan keluarga ayah dan ibunya yang selama ini selalu bersilang pendapat. Meski mereka sudah tak lagi bisa dipersatukan, namun melihat Jum kuliah rupanya mampu membuat kedua keluarga mengalah dengan ego masing-masing. 

Dengan semangat baru, Jumryati mulai menjalani perkuliahan. Meski dapat dukungan penuh dari keluarga, namun tetap saja ekonomi keluarga tidak bisa dibohongi. Tentu saja hal ini menjadi penghambat bagi Jum. Namun ia tak pernah mengeluh apalagi harus berputus asa dengan keadaan yang harus dijalani. Ia tetap bekerja seperti biasa dan dilakukan setiap pulang kuliah. 

Meski sudah dewasa, ia tak pernah malu apalagi gengsi dengan pekerjaannya yang hanya diupah dua ribu rupiah sejam. Ia jalani dengan hati yang tegar demi tetap membantu biaya kuliah tanpa harus membebani keluarga. 

Di sisi lain hinaan dan cibiran juga mejadi bumbu-bumbu saat ia masuk kuliah. Namun, keinginannya menempuh pendidikan setinggi mungkin mengalahkan itu semua. Jum bertekad untuk membuktikan bahwa ia juga bisa berprestasi di dunia kampus. 

Kemampuannya di bidang akademik sudah terlihat sejak awal-awal kuliah. Di semester 1 dan 2, ia kerap meraih nilai tertinggi di kelasnya. Bahkan selalu ditunjuk untuk mengikuti sejumlah lomba yang mewakili nama kampus. Salah satunya adalah lomba karya tulis ilmiah se pulau Sumbawa. 

"Waktu pun menjawab do'a-do'aku. Saya sukses meraih beasiswa internal peningkatan akademik selama satu tahun pada periode semester 5 sampai 7. Dengan begitu, saya tidak lagi pusing dengan biaya kuliah. Sehingga bisa fokus pada ujian akhir dan skripsi," ujarnya. 

Prestasi demi prestasi yang ia torehkan di kampus, mampu menyita perhatian kepala sekolah Taman Kanak-kanak (TK) di desanya. Ia pun diajak bergabung untuk menjadi tenaga pendidik di sana. Ia pun mulai berhenti bekerja di perusahaan kepiting. Jum lebih fokus untuk mengajar saat jadwal kuliah lagi kosong. 

Hari terus berganti, hingga membawanya ke akhir masa kuliah. Untuk menyelesaikan studi, tentu semakin banyak beban yang harus ia lalui. Baik tenaga, pikiran hingga finansial. Sekali lagi ia dihadapkan dengan masalah keuangan untuk bayar semester akhir dan ujian. Ia tak punya uang lagi. Sementara honor mengajar di TK tidak diterima rutin setiap bulan. Ia hanya menerima honor ketika anggarannya cair. Jum pun kelimpungan.

Meski dihimpit masalah dan tekanan psikologis, Jum bukan tipe perempuan yang cengeng apalagi cepat putus asa. Dari keterpurukan yang selama ini ia jalani, membuktikan bahwa ia kuat menghadapi duri-duri kehidupan. Hingga suatu hari, datang tawaran untuk bekerja sebagai penjaga sekaligus penjual aksesoris HP. 

"Saya terima tawaran itu, karena bagi saya pekerjaan apapun akan saya lakukan selama itu baik dan bisa membantu kuliah saya," tegasnya.

Hari pertama masuk bekerja, ia tak tahu bagaimana mekanisme penjualan aksesoris HP tersebut. Pekerjaannya bukanlah menjaga aksesoris HP di toko-toko besar yang ber-AC layaknya konter-konter hebat. Ia harus menjual di pinggir jalan dengan beralaskan terpal. 

"Sejumlah aksesoris HP dijajaki di atas terpal itu, dan saya yang menjaganya setiap pulang kuliah hingga malam," ungkap Jum, berusaha tetap tegar. 

Sungguh ironi kehidupan. Tapi itulah sebuah perjuangan yang dibuktikan Jum untuk tetap melanjutkan kuliah di tengah himpitan ekonomi dan masalah keluarga. Ia selalu sabar menjalani hari-hari kelamnya. 

Lokasi penjualan aksesoris HP itu bisa dijumpai di jalan raya di pertigaan Donggo tepatnya di depan SDN 1 Sila. Di sana setiap pulang kuliah Jum menghabiskan harinya. Menunggu pembeli yang mampir sembari menawarkan kepada seluruh pengguna jalan yang melintas. Debu-debu jalanan adalah makanannya setiap hari. Ia sanggup melalui semuanya. 

"Yang penting dapat uang untuk nambah-nambah biaya kuliah. Semuanya disyukuri aja," akunya. 

Usai menjajaki aksesoris HP di jalan raya, malamnya ia harus kembali mengajar sebagai guru les privat. Kebetulan dia dipercaya mengajarkan siswa dengan honor Rp 200 ribu per bulan. Aktivitas tersebut rutin ia lakukan selama setahun terakhir. 

Kini Jumryati sudah tuntas menyelesaikan studinya. Ia patut bangga dengan capaian gemilang yang dibalut semangat dan kerja kerasnya selama ini. Satu hal yang ia harapkan di hari wisudanya adalah kehadiran sosok ibu. Ya, sudah 11 tahun ia tak pernah melihat ibunya pasca perceraian itu. Ia begitu ingin agar ibunya bisa datang untuk merayakan kesuksesannya menjadi mahasiswa terbaik di kampus Beradab itu.

"Tapi itu nggak mungkin. Ibu sangat jauh dan tidak mungkin bisa datang," ucapnya, terenyuh tak tahan lagi menahan air matanya yang sedari tadi sudah berkaca-kaca. 

Ia sempat menghubungi ibunya saat hendak melaksanakan ujian sekadar meminta do'anya. Namun saat itu ibunya sedang bekerja dan tidak bisa mengangkat telepon. Meski begitu, Jum adalah seorang yang beruntung karena memiliki kerabat yang baik dan mengerti kondisinya, walaupun tidak seberuntung mahasiswa lain yang memiliki segalanya. 

Dalam mencapai tujuan hidup ini tentu tidak mudah. Ibarat jalanan, tidak ada yang lurus. Pasti ada liku-likunya. Meski tak berkecukupan, namun Jum menikmati hasil keringatnya sendiri. 

"Ini karena ikhtiar dan doa. Saya punya keyakinan kalau Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan. Usaha tidak mengkhianati hasil. 11 tahun saya berpisah dengan ibu, pasti ada saja hikmahnya. Kampus ini akan menjadi sejarah buat saya karena mampu merangkul tampa membedakan status dan kasta. Bukan sebatas mahasiswa dan dosen tapi lebih kepada keluarga. Alhamdulillah banyak yang saya dapatkan dari sini," tutupnya. (*) 




COMMENTS

Nama

#Corona,124,arena,41,Bandara,7,Bansos,45,Bawaslu,17,bhakti sosial,29,bima,2393,bima iptek,4,Bima Pemerintah,81,Bima Pemerintahan,47,Bima: Pemerintah,5,bima. Pariwisata,3,Bjayangkari,1,Coro,1,Corona,88,Covid-19,29,Curanmor,3,Daerah,1,Demonstrasi,2,des,1,Desa,53,dompu,134,Editorial,2,ekbis,207,Ekonomi,1,Ekonomi.,4,Eksbis,1,enterpreneur,1,event,1,explore,2,featured,98,Hoax,1,huk,2,hukrim,643,huksrim,3,hukum,1,Humaniora,1,HUT RI,1,inspiratif,1,iptek,29,Keagamaan,15,keamanan,7,kebudayaan,1,Kecelakaan,2,kejadian dan peristiwa,2,kemanusiaan,4,kepegawaian,1,kependudukan,10,kepolisian,91,Kesehatan,126,Kesenian,1,ketenagakerjaan,2,Kodim,15,Kominfo,5,Konflik,1,Korupsi,11,kota bima,159,KPU,3,KSB,2,lingkungan,103,lombok,109,Mataram,82,miras,1,Narkoba,8,Nasional,9,NTB,1,olahraga,24,Opini,50,Pariwisata,81,Pelayanan Publik,13,pembangunan,23,pembangunan.,2,pemerintah,37,Pemerintah.,1,pemerintahan,451,Pemerintahan.,6,Pemprov,3,Pemprov NTB,143,pendidikan,370,pendidikan.,8,Perbankan,1,Perguruan Tinggi,3,perhubungan,7,perisstiwa,45,peristiwa,413,peristuwa,1,Perjudian,2,persitiwa,6,Pertamina,2,pertanian,34,Peternakan,3,politik,272,Politik.,9,Prahara,12,Prestasi,22,Provinsi,1,puisi,1,regional,3,religi,32,religius,43,Sains,1,SAJAK,1,seni,1,SKCK,1,sosbud,191,Sosial,42,Sosok,2,SUDUT PANDANG,1,sumbawa,20,Tajuk,2,Tekhnologi,2,TKI,5,TNI,1,transportasi,4,travel,5,Tribrata,1,Vaksinasi,3,video,17,
ltr
item
Poros NTB: Kisah Jumryati, Bermandi Peluh dan Debu-debu Jalanan untuk Sebuah Gelar "Sarjana"
Kisah Jumryati, Bermandi Peluh dan Debu-debu Jalanan untuk Sebuah Gelar "Sarjana"
https://lh3.googleusercontent.com/-CKMr_uPownY/YUduCT0pzXI/AAAAAAAARmM/FEZ0XDjmiH0kZ_wbpW16vHqBFbwv67H3wCLcBGAsYHQ/s1600/IMG_20210917_113955.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-CKMr_uPownY/YUduCT0pzXI/AAAAAAAARmM/FEZ0XDjmiH0kZ_wbpW16vHqBFbwv67H3wCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20210917_113955.jpg
Poros NTB
https://www.porosntb.com/2021/09/kisah-jumryati-bermandi-peluh-dan-debu.html
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/2021/09/kisah-jumryati-bermandi-peluh-dan-debu.html
true
2479742407306652642
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content