--> Sekelumit Kisah Perempuan dengan Kusta di Kampo Ncola Bima | Poros NTB

Sekelumit Kisah Perempuan dengan Kusta di Kampo Ncola Bima

Dibaca Normal

Beginilah kondisi warga yang tinggal di kampung kusta Desa Panda

Bumi seolah terhenti, ketika Sane divonis terinfeksi kusta, 30 tahun lalu. Ia terbayang kesendirian, dikucilkan. Benar saja, penyakit itu membuat jari-jari kaki dan tangannya cacat. Kepalanya diselimuti kata ‘menjijikkan’ tiap kali orang memandang. Kondisi ini membuat Sane sampai ke Desa Panda, kampung khusus penderita kusta di Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB.

Penulis Edo Rusadin

Poros.NTB.com - Perempuan itu bernama lengkap Sane Ishaka. Usianya kini 52 tahun. Ia adalah satu dari sekian warga yang terinfeksi kusta, dan masih menghuni Desa Panda sejak 90-an. Kampung yang dikelilingi pohon kelapa serupa benteng keterisoliran mereka. Orang-orang menyebutnya ‘Kampo Ncola’ yang dalam bahasa Bima berarti Kampung Kusta.

Pemukiman yang kini berpenghuni 25 kepala keluarga itu menjadi saksi bisu sejarah kelam pengasingan orang yang terinfeksi kusta di bawah kepemimpinan Abdul Kahir, Sultan Bima yang terakhir pada 1945. Sane jadi satu dari tiga penderita kusta dengan kondisi parah di sana, menemani 17 warga lain bernasib sama. 

Hidup di kampung kusta seperti neraka bagi Sane. Mereka tak hanya ‘dibuang’, namun juga tak mendapat apa-apa dari pemerintah selain paket sembako berisi 10 kilogram beras, telur satu ikat dan tiga biji buah apel setiap bulan. Mereka hanya punya harap dan semangat hidup yang kuat.

"Kami mau kerja apa, paling mengemis. Tapi di kampung ini nggak ada yang begitu (pengemis). Kami hidup apa adanya," cerita Sane sembari menyisik ikan yang tertunda karena diwawancara.

Beberapa tahun terakhir, Sane benar-benar diuji. Sang suami, Ridwan tak bisa lagi mencari nafkah keluarga, karena sering sakit-sakitan. Bangun pun kepayahan. Mau tak mau, Sane harus berperan ganda, sebagai ibu sekaligus bapak bagi dua orang anaknya.

Untuk mendapatkan penghasilan, ia harus mencari daun kelapa tua, mengambil tulang lidinya dan dibuat menjadi sapu. Biasanya sapu lidi itu akan dijual dengan harga Rp10 ribu per satu ikat. Untuk menjualnya, Sane tidak perlu repot. Karena yang satu ini banyak pesanan. Biasanya ada warga lain yang datang mengambil setelah lidi-lidi itu sudah dibuat tiga sampai lima ikat. 

"Itu (lidi) kalau ada daun kelapa yang jatuh. Kalau nggak ada, ya nggak dapat uang," katanya.


Sane (jongkok) ditemani suaminya (duduk di kursi) bersama warga Kampung Kusta lainnya


Sesekali, ia harus mengikuti pemilik kebun yang hendak mengambil kelapa hanya untuk meminta daunnya saja. Belum ada jalan lain, apalagi saat anak-anaknya sekolah.

"Kebutuhan kami sama dengan masyarakat pada umumnya. Tapi kami tidak seperti mereka yang leluasa cari nafkah. Kami hanya menunggu uluran tangan. Padahal kami butuh biaya hidup. Mungkin dengan lahan perkebunan kelapa bisa kami manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan. Atau bantuan lain yang bisa kami gunakan untuk mendapatkan rezeki," katanya penuh harap.

Kondisi Sane dan warga setempat semakin diperparah setelah wabah Covid-19 melanda. Selama itu mereka tak lagi mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Bahkan untuk beberapa bulan belakangan, mereka sudah dibebankan tagihan listrik yang selama ini ditanggung negara.

Biasanya, warga Desa Panda mendapatkan bantuan bulanan sebesar Rp200 ribu berbentuk barang yang diberikan Pemerintah Pusat melalui Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Isinya sembako berisi satu kerat telur ayam, beras 10 kilogram dan buah-buahan. 

Selain itu, ada bantuan sembako senilai Rp400 ribu dari Pemerintah Daerah yang diberikan setahun sekali. Sisanya, hanya mengandalkan belas kasih masyarakat.
Sane memutar otak. Kerja kasar sebagai buruh angkut kelapa dilakoni. Sekali membawa 10 buah kelapa dari kebun ke Pusat Wisata Panda, dia diupah Rp2 ribu. Sehari, Rp16-20ribu dikantongi. Bisa sampai Rp50 ribu jika permintaan banyak.

"Ini kadang-kadang aja dan tergantung rezeki. Karena kita rebutan menawarkan jasa ini," katanya.

Namun belakangan ini, pemerintah desa setempat memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp600 ribu selama tiga bulan untuk masyarakat terdampak Covid-19. Sane dan warga kampung kusta kebagian. Tiga bulan berikutnya, masuk lagi bantuan Rp300 ribu. Akan tetapi, tak ada bantuan khusus bagi penderita kusta.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bima hanya mengalokasikan anggaran kusta sebesar Rp300 juta, tahun 2021. Anggaran ini tidak sampai satu persen dari APBD yang mencapai Rp1,8 triliun. Padahal, penyebaran orang dengan kusta di Bima paling tertinggi di NTB. Jumlahnya mencapai 214 orang dengan rincian 161 laki-laki dan 53 perempuan.


Infografis orang dengan kusta di Kabupaten Bima


Awalnya, mereka hidup enak di kampung kusta. Pemerintah saat itu memberikan pelayanan khusus. Mulai dari pakaian hingga sawah garapan. Bahkan di tengah kampung dibangun Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan khusus untuk merawat penderita kusta hingga sembuh tahun 2003 lalu.

"Sekarang jangankan untuk mencukupi kehidupan kami, lahan pertanian yang kami garap saja, semuanya diambil dan dibangun kantor-kantor pemerintahan," ketusnya.

Menurutnya, lahan kebun kelapa yang mengelilingi pemukiman mereka kini sudah dikapling oleh oknum-oknum warga yang mengatasnamakan pemerintah. Hal ini menyulitkan warga kampung kusta memanfaatkan kebun tersebut untuk meraup rupiah. Seperti penjualan buah kelapa muda maupun pembuatan sapu lidi dan anyaman lain.
Kondisi ini diperperah dengan adanya oknum warga yang menguasai lahan kebun tersebut. Mereka ditengarai adalah anak dari pejabat yang pernah bertugas di kantor UPT Kusta di wilayah setempat.


Kebun kelapa yang semula bisa dimanfaatkan warga pun kini jadi sengketa. Mereka tak bisa lagi memanfaatkannya. Ironisnya lagi, legalitas tanah tempat tinggal warga tak kunjung diberikan oleh pemerintah. Belakangan, kampung mereka disebut-sebut masuk rencana pembangunan Kantor DPRD Kabupaten Bima yang baru.

"Kami ini akan ke mana. Di desa asal kami sudah nggak punya apa-apa dan tentu akan susah diterima masyarakat. Sedangkan di sini kami nggak punya hak atas tanahnya. Semoga pemerintah memperhatikan kami, paling tidak untuk tanah tempat tinggal," harapnya.

Sulit Berobat


Kondisi kantor UPT Kusta yang sudah tidak beroperasi


Selain Sane, ada Abubakar dan Salahudin yang kondisinya sangat memprihatinkan dibanding penghuni lain. Mereka butuh perawatan intensif untuk sembuh. Sayangnya, kantor UPT Kusta yang khusus menangani mereka sudah belasan tahun tidak berpenghuni. Dibangun 2003, tahun 2010 UPT tersebut tidak beroperasi.

Dinas Kesehatan Bima beranggapan warga kampung kusta harus kembali membaur ke masyarakat. Tujuannya menghilangkan stigmatisasi. Akibatnya, intervensi kusta dilakukan secara kolektif se-Kabupaten Bima. Penanganannya langsung diambil alih petugas Puskesmas.
Kondisi ini menambah beban orang yang terinfeksi kusta Desa Panda. Pasalnya, jarak Puskesmas 17 kilometer dari rumah mereka. Jarak rumah sakit lebih jauh lagi, 20 kilometer. Untuk makan saja kesulitan, belum lagi jika harus menanggung biaya transportasi.

"Kami punya kartu BPJS. Tapi jarang kami gunakan karena selama ini kami berobat ke dokter praktik dengan biaya sendiri. Kalau pakai BPJS ribet, karena harus ambil rujukan dan lain-lain di Puskesmas. Sementara lokasinya jauh. Kadang juga kami dilayani setengah hati," terangnya.


Baiyah, saat diambil gambarnya tepat di depan rumahnya di kampung kusta


Derita juga dirasakan Baiyah. Suami perempuan berusia 70 tahun ini, meninggal akibat kusta belasan tahun lalu. Kini, dia hidup bersama adiknya, Ibrahim (46 tahun), orang dengan disabilitas mental. Sama seperti Sane, dia menggantung nyawa dari upayanya menjadi buruh kebun kelapa.

"Mungkin ini adalah takdir kami yang harus dilalui. Semoga pemerintah melihat dan memperhatikan kami. Berilah kami harapan untuk bisa menikmati nikmatnya hidup ini," harapnya.


Bantah Abai


Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bima, Sirajudin mengatakan telah mendata seluruh warga kampung kusta sebagai penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Setiap bulan warga selalu menerima bantuan di kantor desa.

"Mereka tetap kita bantu setiap bulan melalui program ini. Juga kita arahkan Kades agar memberikan bantuan dari dana desa untuk mereka," ujarnya.


Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bima, Sirajuddin, MAp


Sirajudin membantah pemerintah abai dengan orang yang terinfeksi kusta Desa Panda. Dia memastikan 20 kepala keluarga di desa itu dapat bantuan.

"Nggak ada yang kita abaikan. Setiap bulan ada bantuan. Bahkan ada bantuan khusus sekali setahun.Pemerintah peduli dengan mereka. Kami juga arahkan para donatur agar memberikan sumbangan ke kampung kusta," tegasnya.

Diakui, sebelum pendemi, pihaknya sudah mengupayakan bantuan berupa Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Namun, syarat harus memiliki sertifikat lahan, tak bisa dipenuhi warga. Bantuan ini pun urung diberikan.

"Karena itu tanah negara. Hanya sembako aja yang bisa kami berikan. Walau jumlah penderita kusta di Bima lebih dari 100 orang. Tapi kami utamakan mereka di dalam pemukiman (Kampung Kusta)," tandasnya.

Kadis Kesehatan Bima, Fachrurahman mengatakan penanganan kusta dilaksanakan multisektor. Berbagai instansi ambil bagian. Termasuk Dinas Sosial yang menangani urusan bantuan dan kebutuhan hidup mereka.

“Kami sudah serahkan semua ke Dinsos. Cuma dulu memang ada bantuan dari Dinkes berupa peralatan bantu bagi yang disabilitas. Tapi itu semua kita sudah serahkan ke dinas terkait. Kami hanya fokus pada penyembuhan saja, selain itu tidak ada,” katanya.

Di samping itu, dalam penanganan pasien kusta pihaknya sudah tidak membedakan antara pasien di kampung kusta dengan pasien di tengah masyarakat. Karena semuanya dilayani lewat Puskesmas.

“Karena sesuai data, mereka (pasien kampung kusta) sudah banyak yang sembuh. Hanya tersisa beberapa orang saja yang masih cukup memprihatinkan dan itu tetap kita obati. Kampung kusta itu sudah tidak ada sebenarnya, karena kita tidak ingin ada stigmatisasi terhadap mereka,” jelasnya.

Diakui selama 12 tahun ini, UPT Kesehatan Pengobatan Kusta di Desa Panda sudah tidak beraktivitas. Meski demikian, Fachrurahman membantah jika tidak memberikan pelayanan kesehatan. Menurut dia, pelayanan kesehatan tetap dilakukan sekali sebulan dengan memberikan dosis obat anti kusta.

“Kami tetap lakukan pemeriksaan dari efek obat yang diberikan. Obat anti kusta ini akan meminimalisir penularan. Setiap bulan mereka dipantau untuk mengetahui kemajuan dari reaksi obat,” paparnya.


Foto bersama Wakil Bupati Bima, Dahlan M Noer


Wakil Bupati Bima, Dahlan M. Noer menyampaikan, pihaknya tetap memperhatikan pasien kusta di kampung tersebut. Bahkan Pemerintah Daerah sudah menitipkan anggaran di setiap dinas, baik urusan pengobatan maupun kesejahteraan. Hanya saja belum begitu maksimal karena penanganan kusta dilaksanakan secara menyeluruh.

"Kami atensi semua warga yang terinfeksi kusta. Termasuk juga yang di kampung itu. Ada anggaran pusat dan daerah yang kita gelontorkan. Termasuk bantuan Covid-19 melalui anggaran dana desa," katanya. (*)

Liputan ini merupakan bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).

COMMENTS

Nama

#Corona,124,arena,53,Bandara,7,Bansos,51,Bawaslu,17,bhakti sosial,37,bima,2644,bima iptek,4,bima. Pariwisata,3,Bjayangkari,1,Coro,1,Corona,88,Covid-19,29,Curanmor,3,Daerah,1,Demonstrasi,2,des,1,Desa,53,dompu,134,Editorial,2,ekbis,212,Ekonomi,1,Ekonomi.,4,Eksbis,1,enterpreneur,1,event,1,explore,2,featured,105,Hoax,3,huk,2,hukrim,714,huksrim,3,hukum,1,Humaniora,1,HUT RI,1,inspiratif,1,iptek,29,Keagamaan,15,keamanan,8,kebudayaan,1,Kecelakaan,3,kehilangan,1,kejadian dan peristiwa,2,kemanusiaan,4,kepegawaian,1,kependudukan,12,kepolisian,167,Kesehatan,129,Kesenian,1,ketenagakerjaan,2,Kodim,15,Kominfo,5,Konflik,1,Korupsi,11,kota bima,238,KPU,3,KSB,2,lingkungan,112,lombok,109,Maklumat,2,Mataram,92,miras,1,Narkoba,8,Nasional,14,NTB,1,olahraga,24,Opini,50,Pariwisata,81,Pelayanan Publik,13,pembangunan,25,pembangunan.,2,pemerintahan,720,Pemprov,3,Pemprov NTB,143,pendidikan,393,pendidikan.,8,Perbankan,1,Perguruan Tinggi,3,perhubungan,7,perisstiwa,47,peristiwa,466,peristuwa,1,Perjudian,2,persitiwa,6,Pertamina,2,pertanian,40,Peternakan,3,politik,276,Politik.,9,Prahara,12,Prestasi,34,Provinsi,1,puisi,1,regional,3,religi,43,religius,43,Sains,1,SAJAK,1,seni,1,SKCK,1,sosbud,191,Sosial,42,Sosok,5,SUDUT PANDANG,1,sumbawa,20,Tajuk,2,Tekhnologi,2,TKI,5,TNI,1,transportasi,4,travel,5,Tribrata,1,Vaksinasi,25,video,18,
ltr
item
Poros NTB: Sekelumit Kisah Perempuan dengan Kusta di Kampo Ncola Bima
Sekelumit Kisah Perempuan dengan Kusta di Kampo Ncola Bima
https://lh3.googleusercontent.com/-enJRq7_eExA/YfJwpjh8vHI/AAAAAAAASxA/iuCjY4bR3-kDZ2J_-5JDGjqUj0CjRP81gCNcBGAsYHQ/s1600/IMG_20211104_114118.jpg
https://lh3.googleusercontent.com/-enJRq7_eExA/YfJwpjh8vHI/AAAAAAAASxA/iuCjY4bR3-kDZ2J_-5JDGjqUj0CjRP81gCNcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20211104_114118.jpg
Poros NTB
https://www.porosntb.com/2022/01/sekelumit-kisah-perempuan-dengan-kusta.html
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/
https://www.porosntb.com/2022/01/sekelumit-kisah-perempuan-dengan-kusta.html
true
2479742407306652642
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content