Banner iklan disini Banner iklan disini

Lagi! Kasus TKI Hilang Kontak, Sudah Saatnya Pemerintah Daerah Berhenti "Adem Ayem"


Marliah Bin A Hamid, TKW yang 12 tahun hilang kontak

Bima, Poros NTB.- Setelah media ini beberapa kali menyorot tentang tragedi yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia, khususnya Tenaga Kerja Wanita, akhirnya satu lagi keluarga yang memunculkan hilang kontaknya TKW anggota keluarga mereka ke permukaan.

Adalah Marliah Bin A Hamid, asal Desa Tolotangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Setali tiga uang dengan nasib yang menimpa  Anita Marwan, ia dikhabarkan hilang kontak selama 12 tahun sejak diberangkatkan sebagai TKW ke Negara Suriah Tahun 2006 lalu.


Keluarga mengaku tidak tahu lagi bagaimana caranya mengupayakan agar Marliah bisa ditemukan kembali, sejak sponsor PJTKI yang merekrutnya tidak mampu memberikan jawaban yang jelas dan tuntas saat mereka memintai tanggung jawabnya.

“Kita sudah menanyakannya kepada sponsor, tapi jawabannya tidak jelas,” tutur Sanjaya, adik kandung Marliah.

Keluarga semakin putus asa, saat sponsor PJTKI itu mengatakan, bahwa PJTKI yang memberangkatkan Marliah, saat ini sudah tidak lagi beroperasi.

Kuat dugaan perusahaan penyalur TKI tersebut telah dicabut izinnya oleh Kementerian Tenaga Kerja.

Marliah sendiri, berangkat ke Suriah dengan meninggalkan kedua puteranya. Yang sulung kini telah tamat SMA, sementara si bungsu masih duduk di bangku Kelas 2 SMP.

Kedua anaknya mengaku sangat menginginkan ibunya kembali setelah 12 tahun meninggalkan mereka, yang kala itu mereka sendiri tidak memahami apa sejatinya alasan sang ibu menjadi seorang TKW.

Kalaulah bukan karena selembar foto “jadul” yang ditinggalkan ibu mereka, bisa jadi ingatan mereka akan raut wajah sang ibu akan buram jika dikenang.

Satu-satunya harapan mereka yang tersisa, hanyalah mengharapkan belas kasih pemerintah agar serius mengupayakan ibunya ditemukan kembali.

Apalagi dalam upaya meningkatkan pelayanan dan pelindungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), pemerintah lewat Kementerian Ketenagakerjaan telah meresmikan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) Kabupaten Bima, Rabu (20/2/19) kemarin.
Kepala BNP2TKI Nusron Wahid sendiri, dalam sambutan yang diwakili oleh Direktur Penyiapan Pembekalan Pemberangkatan BNP2TKI (P2P) Hariyadi Agah,  saat peresmian, menyatakan, bahwa keberadaan LTSA merupakan wujud implementasi oleh pemerintah dalam hal memberikan kemudahan, kepastian dan keamanan dalam pelayanan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya di daerah yang menjadi kantong-kantong PMI seperti di Provinsi Nusa Tenggara Barat.  

Ini tentunya menjadi khabar baik bagi keluarga yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya yang menjadi TKI. Dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bima, khususnya, sudah saatnya berhenti “adem ayem” saat mendapat khabar kasus TKI yang hilang kontak di wilayah pemerintahannya.

Kasus yang menimpa Marliah dan Anita, kemungkinan besar hanyalah dua kasus yang mengemuka dari senarai panjang kasus kehilangan TKI asal Bima yang masih terpendam. (Teddy)

Labels: ,

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.